Dalam sore ini
Aku melepaskanmu
Karna aku tak mampu merawatmu
Terbanglah…
Dan hinggap pada…
Sang Pembebas
(Tebel Timur, Gedangan, 8 Februari 2005)
Dalam sore ini
Aku melepaskanmu
Karna aku tak mampu merawatmu
Terbanglah…
Dan hinggap pada…
Sang Pembebas
(Tebel Timur, Gedangan, 8 Februari 2005)
Kami telah berderet-deret
Dalam keringat dan air mata
Senandung lagu juang menyapa di jiwa
Berbaris serapatnya
Mengenggam tangan kawan samping seeratnya
Menggoreskan odol di bawah mata
Ikuti komando lapangan
Melebar ke depan
Penuhi jalan
Ucapkan slogan
Tas sementara di belakang
Buku-buku disimpan
Selamat tunggu (sebentar) teori-teori serampang
Kami ini mencoba membuktikanmu
Berjalan dalam panas siang
(Tebel Timur, Gedangan, 8 Februari 2005)
Puisi penduka untuk dia dari Surabaya
Kepada dia yang Telah bersua dengan Tuhannya (1)
Para Barisan Berdiri
Hari ini
Para barisan berdiri
Tandai bendera setengah tiang di hati
Pada aktivis berani korbankan diri
Hari ini
Para barisan berdiri
Berderet-deret sampai waktu menjelang pagi
Berharap muncul kuntum bunga yang semerbak lagi
Hari ini
Para barisan berdiri
Menekuk rasa, menahan canda, menangis pasti
Ah, rupanya engkau mendahului kami
Hari ini
Para barisan berdiri
Sadari bahwa kontribusi
Sekecil apapun (tetap) membawa arti
Hari ini
Para barisan berdiri
Mengetahui bahwa surga menuntut pencintanya
Dengan nyawa
Hari ini
Para barisan berdiri
Dengan sgala penghormatan
Dengan sgala kerinduan
Dengan sgala pengakuan
Lepaskan sgala kesalahan
(Gedangan, 14 Desember 2005, 15:32, saat hujan di luar rumah dan hujan di dalam hati)
Sejauh yang kutahu
Kau masih bermata biru
Saat terakhir ketemu
Kini, dalam jumpa di senja itu
Kau telah terbelenggu
Tangan terikat selalu
Dalam nafsu menderu
Hasrat kuasa memagarimu
Dengan senjata tajam siap memburu
(Tebel Timur, Gedangan, 8 Februari 2005)
INI SAATNYA
Ini saatnya Kita melawan (keengganan)
di antara batas kikir dan keanganan
Ini saatnya Kita mencoba (memberi)
di antara keangkuhan dan kerasnya keinginan mendera (nafsi-nafsi)
Ini saatnya Kita berbagi
di antara ketidakmampuan, indahnya mandiri, dan air mata terima kasih
Ini saatnya Kita berbenah
di antara pandangan tunduk (merenung) dan nafas berserah (pasrah)
Ini saatnya Kita mati
setelah kepedulian yang pergi
dan segan tengok saudara lagi
Gedangan, 10 April 2006, 19:45
Nb:
Untuk beberapa teman yang lama tak sua
Penyesalan itu masih mendera di dada
Ah, seandainya bisa perbaiki kelakuan di era lama
Untuk beberapa teman yang lagi nikmati
Hamparan kejayaan duniawi
“Bukankah “Khairun Nas Anfauhum Linnas”,” kata Maulana tercintai.
Itu, di seberang gang di dekat warung
Di pinggir jalan becek
Setelah melewati pasar udik
Ada lentera
Itu, di seberang negara di dekat istana
Di pinggir despot becek
Setelah lewati tentara udik
Ada derita
Malam telah tiba
Hujan sudah reda
Kabut menjadi sirna
Lentera tetap menyala
Pemimpin baru telah tiba
Slogan kemakmuran, keadilan, dan kesejahteraan memenuhi jalan raya
Itu semua propaganda belaka
Kearifan sudah tiada
Keadilan telah sirna
Dan derita tetap ada
(Tebel Timur, Gedangan, 8 Februari 2005)
DITULIS PADA
Ditulis pada
kaca belakang sebuah mobil berkelas
dibingkai debu
“Kami lapar”
Ditulis pada
tembok besar rumah mewah
dibingkai air got kelabu
“Kami lapar”
Ditulis pada
etalase mengkilap restoran asing
tanpai bingkai
“Kami lapar”
Ditulis pada
selembar kertas dicangklongan leher
dengan tengadah
“Kami lapar”
Ditulis pada
tangan lemas kuyu
dengan terbuka
“Kami lapar”
Ditulis pada
hati yang mendoa
dengan air mata
“Kami lapar”
INILAH JALAN PERLAWANAN
Inilah jalan perlawanan
Yang dirindukan mereka yang bermimpi panjang
Inilah jalan perlawanan
Sepenuh duri yang tak sanggup gentarkan kaki
Inilah jalan perlawanan
di ujungnya rezim menghadang
Inilah jalan perlawanan
Dipagari senjata-senjata runcing
Siap membabat segala aksi
Inilah jalan perlawanan
Yang dihindari hampir semua orang
Inilah jalan perlawanan
Saat tepat kibarkan bendera kesyahidan
Inilah jalan perlawanan
Mendaki..terjal
Menurun…pantang
Inilah jalan perlawanan
Di samping sungai-sungai keringat
dari muara bukit semangat
Inilah jalan perlawanan
Di tepi kampus-kampus indoktrinasi nilai perjuangan
Inilah jalan perlawanan
Ketika lampu merah penguasa menghadang
Jangan takut…terjang
Inilah jalan perlawanan
Ketika lampu kuning kehidupan mengingatkan
Jangan bingung…Tetaplah berjalan
Inilah jalan perlawanan
Ketika lampu hijau rakyatmu menyetuju
Seraya berkata, “Lanjutkan long march-mu itu”
Inilah jalan perlawanan
Simponi padang senja bagi mereka yang telah berjanji pada sejarah
Untuk tidak menyerah
Apalagi menyatakan kalah
Inilah jalan perlawanan
Tinggal sebrangi…
Haturkan nyawa, tapi jangan serahkan nurani
Inilah jalan perlawanan
Yang mengingatkan pada para pendahulu
Yang kini terbujur di pusara satu baris satu
Inilah jalan perlawanan
Yang telah lama menunggu
Bagi siapa yang mau…
Melepas belenggu ragu-ragu…
Menyentak lamunan bisu…
Demi surga yang dituju
Inilah jalan perlawanan
Meskipun penuh kesedihan
Pastilah dicatat dalam sejarah
Dan dikenang generasi mendatang
(Tebel Timur, Gedangan, 18 Oktober 2004,
di malam kala sepi menyelimuti)
MASIHKAH ADA
Masihkan ada
Bulan terbelah malam itu
Dalam ringkas-ringkas hati
Yang terlanjur sepi
Masihkan ada
Bulan terbelah malam itu
Menjejakkan kata membiru
Melepas hedonis semu
Masihkan ada
Bulan terbelah malam itu
Rindunya benar menyala
Sekeping raga masih menegur sapa
Kepada Tuhannya
Masihkan ada
Bulan terbelah malam itu
Batas hidup masih mendera
Semangat tegas, meski gagal masih mencoba jua
(Tebel Timur, 08 Maret 2005)
Apakah kita harus membuat kesalahan (lagi)
Dengan tampilnya rezim-rezim kejam
Apakah kita harus salah memilih (lagi)
Sehingga tampil pemimpin-pemimpin keji
Apakah kita harus puas (lagi)
Ketika kultus-kultus tak pernah terpupus
Apakah kita harus berdiam diri (lagi)
Saat hadirnya politisi-politisi tak bernurani
Apakah kita harus …
Harus apakah kita …
Kita harus apakah …
Apakah harus kita …
Aku adalah tangan yang terikat
tapi aku menulis jua
Aku adalah mata yang tertutup
tapi aku tetap menatap
Aku adalah kaki yang terperangkap
tapi aku melangkah tegap
Aku adalah hati yang terkoyak
tapi aku memaafkanmu, teman
Akua adalah sekumpulan esai
yang terangkum dalam rasa
Aku adalah kumpulan kepekaan
yang menangis saat kau menderita
Aku adalah titik-titik rindu
yang terakumulasi dalam peluh beku
Aku adalah aku
yang terperangkap layu
oleh dunia yang menyerbu
tapi…
maafkan aku yang Rabbku
(Tebel Timur), Gedangan, 11 Januari 2005)
Kata Penguasa,
“Kita hidupi mereka yang takut mati”
dan
“Bunuhi yang tidak takut mati”
KEPADA TEMAN
Teman….
Aku ingin memelukmu
dalam rinduku
sebentar saja
Teman….
Aku ingin berbicara lebih lama
dari waktu itu
Teman….
Tanganku masih hangat
saat kita berjabat salam
di hari itu
Teman….
Aku ingin mengenangmu
di memori pelupuk kalbu
Rasanya lelah menunggu
Sekian waktu
Saat ribuan hujan berlalu
Setelah banyak rumputan sengal kemarau
Panen luka penuhi lumbung derita
Angkat sedih sesaki jiwa
Berharap pada siapa
Meski tak pernah hadir jua
Imam Mahdi adalah ilusi
Ratu Adil adalah mimpi
Wahyu Cakraningrat adalah halusinasi
Satria Piningit adalah delusi
Legitimasi para pecundang
Penghibur noda si kalah
Di tangan kita-lah
Sehamparan usaha
Diboncengi besi dan darah
Komentar Bersama