INDONESIA 2020
Oleh: Wawan Kurniawan
Pendiri Kajian Internasional Strategis (KAINSA)
Ada apa dengan Indonesia pada tahun 2020 mendatang. Mengapa kita harus membicarakan suatu waktu dengan jeda 13 tahun yang tentu saja kita tidak tahu apa yang terjadi pada saat itu. Kenapa di saat-saat sulit seperti sekarang, naluri keindonesiaan kita perlu dibangkitkan (lagi) dengan penaksiran dan perkiraan masa depan.
Ada suatu pelajaran menarik dari sirah nabawiyah (sejarah kenabian), yakni kisah perang Khandaq (Parit) pada 629 M. Di tengah suasana kelaparan yang menghebat, sampai-sampai kaum Muslimin saat itu harus mengganjal perutnya dengan satu batu dan Rasul saw juga mengganjal perutnya dengan dua batu (at Tirmidzi, Misykatul Mashabih, II: 448), mereka menggali parit di utara kota Madinah.
Parit merupakan solusi atas imbalansi kuantitas pasukan Muslim dengan pasukan musuh. Menurut Ensiklopedi Wikipedia, Muhammad memimpin hanya 1600-an orang. Di pihak musuh, aliansi kabilah-kabilah Arab mencapai sepuluh ribu orang (Syaikh Shafiyyur Rahman al-Mubarakfury, Sirah Nabawiyah, 1998: 429). Jumlah yang lebih dari cukup untuk meratakan Madinah.
Ketika menggali parit di suatu bidang tanah tertentu, kaum Muslimin bertemu dengan suatu batu cadas yang tidak seorangpun bisa memecahkannya. Dalam kondisi sangat lapar karena tiga hari tidak makan (Shahihul Bukhari, II: 588), malah terantuk dengan batu cadas atos, Anda bisa membayangkan bagaimana kondisi saat itu.
Mereka lapor kepada Nabi saw. Lalu, Nabi saw turun tangan sendiri memecahkan batu atos itu. Dalam Sunan an-Nasa’i II L 56, disebutkan ada cahaya yang keluar pada tiap pukulan Nabi saw di batu itu. Setelah pukulan pertama, ada cahaya keluar, lalu Nabi saw berkata, “Allahu Akbar. Aku diberi kunci pembuka Syam. Demi Allah, aku melihat istananya yang merah saat ini.”
Sehabis cahaya keluar pada pukulan kedua, Nabi saw berkata, “Allahu Akbar. Aku diberi Parsi. Demi Allah, sekarang ini aku benar-benar melihat istana putihnya.” Yang ketiga, Nabi saw berkata, “Allahu Akbar. Aku diberi kunci pembuka Yaman. Demi Allah, aku benar-benar melihat pintu-pintu Shan’a dari tempatku ini.”

sepertinya sudah ada pemimpin baru, yang bisa membawa indonesia menuju keadilan dan kesejahtraan
semakin banyak pemimpin yang negarawan dan benar-benar komitmen dengan kemusliminnya akan mempercepat terbentuknya peradaban Islam yang rahmatan lil ‘alamin
Untuk Mas Muh Ismoyo dan Mas Edy Syahrizal:
Semoga sebagaimana yang Anda berdua dan saya harapkan juga
nga bea ho indonesia akankah kamu akan miskin terus tidak ada perkembangan
mas wawan,, ni sy yuan,
artikel yang mas wawan tulis ttg negara Indonesia sangat menarik bagi saya..
saya ingin bertanya pd mas wawan,,
kapan ya mas kira2 Indonesia bs mjd tuan rumah piala dunia dan jd juara??.
kalo mau bls di email sy aja mas. email sy: yuanrizqi_youone@yahoo.co.id
sory mas, kalo mlh promosi jdnya..
hehe.. yaudah mas.
akhir kata,, Wassalamu’alaikum wr.wb
Promosi. Gak popo. Kapan ya jadi juara piala dunia? Wallahua’lam.
assalamualaikum wr. wb
Pak Wawan, sesuai dengan konstitusi negara kesatuan Republik Indonesia yang menganut asas demokrasi Pancasila, sebuah proses pengambilan keputusan kenegaraan tidak hanya melibatkan unsur pemimpin yang dalam hal ini adalah presiden. namun juga melibatkan unsur legislatif dan yudikatif.
jadi kapabilitas untuk menjadikan indonesia lebih maju tidak hanya terletak pada presiden saja, namun seluruh unsur civitas pemerintahan dan rakyat juga harus bekerja keras untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa.
mungkin kita bisa melahirkan seorang pemimpin besar yang memiliki tekat keras dan kemauan untuk berjuang demi bangsa dan tanah airnya, namun jika dia tidak didukung oleh unsur pemerintah yang lain dan juga rakyatnya, maka saya kira agak susah baginya untuk membuat perubahan. bahkan bisa jadi dia sendiri akan “dilengserkan” karena membuat kebijakan yang dianggap tidak populis.
karena itu, dalam memperjuangkan cita2 bangsa, kita membutuhkan lebih dari sekedar PEMIMPIN YANG MAU DAN MAMPU, tapi juga BANGSA YANG MAU DAN MAMPU BERJUANG DEMI HARGA DIRI MEREKA.
wallahu a’lam
wassalamualaikum wr. wb
Solusi rumah tangga, rakyat & negara saat ini = Pemimpin yg Shalih, isi Al Qur’an & Hadist.
Pemimpin Shalih, isi Al Qur’an & Hadist = Solusi rumah tangga, rakyat & negara saat ini.
Proses Pemilu inipun sebenarnya tdk sesuai dg cara/isi Al Quran & Hadist, namun menurut saya bs mjadi jembatan utk terpilihnya partai yg memandang isi Al Quran & Hadist sbg satu2nya pedoman.
Rakyat harus memilih partai tsb.
Shg setelah partai tsb terpilih maka cara memilih pemimpin di masa yg akan datang bs diubah sesuai cara/ketetapan/isi Al Quran & Hadist.
Selama hasil pemilu bs menampilkan pemimpin negara Indonesia yg bs memegang isi Al Quran & Hadist sbg pedoman hidup & kerjanya, yg shalih akhlaknya, maka negara Indonesia yg makmur,beriman & kuat dijamin akan tercapai, karena tidak ada hukum di dunia ini yg lbh baik dr hukum Al Quran & Hadist yg sdh dijamin kebenarannya & keampuhannya.
Pemimpin tsb pasti selalu mjaga perbuatannya / kepemimpinannya karena selalu mengingat ayat ini :
“…peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS: 66:6)
Dia selalu ingat umur manusia di dunia sgt singkat (max 100thn = ibarat cuma 100cm),sedangkan di akhirat kekal (ibarat jarak monas – patung liberty di AS, bahkan lbh jauh lg), sungguh tiada terbandingkan!
Just passing by.Btw, you website have great content!
_________________________________
Making Money $150 An Hour