Archive for January, 2007

30
Jan
07

SORE KEBEBASAN

SORE KEBEBASAN

Dalam sore ini
Aku melepaskanmu
Karna aku tak mampu merawatmu

Terbanglah…
Dan hinggap pada…
Sang Pembebas

(Tebel Timur, Gedangan, 8 Februari 2005)

29
Jan
07

PERJUANGAN DI SIANG ITU

PERJUANGAN DI SIANG ITU

Kami telah berderet-deret
Dalam keringat dan air mata
Senandung lagu juang menyapa di jiwa
Berbaris serapatnya
Mengenggam tangan kawan samping seeratnya
Menggoreskan odol di bawah mata

Ikuti komando lapangan
Melebar ke depan
Penuhi jalan
Ucapkan slogan

Tas sementara di belakang
Buku-buku disimpan
Selamat tunggu (sebentar) teori-teori serampang
Kami ini mencoba membuktikanmu
Berjalan dalam panas siang

(Tebel Timur, Gedangan, 8 Februari 2005)

28
Jan
07

UNTUK SEORANG AKTIVIS YANG TELAH TIADA

Puisi penduka untuk dia dari Surabaya

Kepada dia yang Telah bersua dengan Tuhannya (1)
Para Barisan Berdiri

Hari ini
Para barisan berdiri
Tandai bendera setengah tiang di hati
Pada aktivis berani korbankan diri

Hari ini
Para barisan berdiri
Berderet-deret sampai waktu menjelang pagi
Berharap muncul kuntum bunga yang semerbak lagi

Hari ini
Para barisan berdiri
Menekuk rasa, menahan canda, menangis pasti
Ah, rupanya engkau mendahului kami

Hari ini
Para barisan berdiri
Sadari bahwa kontribusi
Sekecil apapun (tetap) membawa arti

Hari ini
Para barisan berdiri
Mengetahui bahwa surga menuntut pencintanya
Dengan nyawa

Hari ini
Para barisan berdiri
Dengan sgala penghormatan
Dengan sgala kerinduan
Dengan sgala pengakuan
Lepaskan sgala kesalahan

(Gedangan, 14 Desember 2005, 15:32, saat hujan di luar rumah dan hujan di dalam hati)

27
Jan
07

KEPADA DAMAI

KEPADA DAMAI

Sejauh yang kutahu
Kau masih bermata biru
Saat terakhir ketemu

Kini, dalam jumpa di senja itu
Kau telah terbelenggu
Tangan terikat selalu
Dalam nafsu menderu
Hasrat kuasa memagarimu
Dengan senjata tajam siap memburu

(Tebel Timur, Gedangan, 8 Februari 2005)

26
Jan
07

INI SAATNYA

INI SAATNYA

Ini saatnya Kita melawan (keengganan)
di antara batas kikir dan keanganan

Ini saatnya Kita mencoba (memberi)
di antara keangkuhan dan kerasnya keinginan mendera (nafsi-nafsi)

Ini saatnya Kita berbagi
di antara ketidakmampuan, indahnya mandiri, dan air mata terima kasih

Ini saatnya Kita berbenah
di antara pandangan tunduk (merenung) dan nafas berserah (pasrah)

Ini saatnya Kita mati
setelah kepedulian yang pergi
dan segan tengok saudara lagi

Gedangan, 10 April 2006, 19:45

Nb:
Untuk beberapa teman yang lama tak sua
Penyesalan itu masih mendera di dada
Ah, seandainya bisa perbaiki kelakuan di era lama

Untuk beberapa teman yang lagi nikmati
Hamparan kejayaan duniawi
“Bukankah “Khairun Nas Anfauhum Linnas”,” kata Maulana tercintai.

26
Jan
07

ITU ADALAH LENTERA (DERITA)

ITU ADALAH LENTERA (DERITA)

Itu, di seberang gang di dekat warung
Di pinggir jalan becek
Setelah melewati pasar udik

Ada lentera

Itu, di seberang negara di dekat istana
Di pinggir despot becek
Setelah lewati tentara udik

Ada derita

Malam telah tiba
Hujan sudah reda
Kabut menjadi sirna
Lentera tetap menyala

Pemimpin baru telah tiba
Slogan kemakmuran, keadilan, dan kesejahteraan memenuhi jalan raya
Itu semua propaganda belaka
Kearifan sudah tiada
Keadilan telah sirna
Dan derita tetap ada

(Tebel Timur, Gedangan, 8 Februari 2005)

25
Jan
07

DITULIS PADA

DITULIS PADA

Ditulis pada
kaca belakang sebuah mobil berkelas
dibingkai debu
“Kami lapar”

Ditulis pada
tembok besar rumah mewah
dibingkai air got kelabu
“Kami lapar”

Ditulis pada
etalase mengkilap restoran asing
tanpai bingkai
“Kami lapar”

Ditulis pada
selembar kertas dicangklongan leher
dengan tengadah
“Kami lapar”

Ditulis pada
tangan lemas kuyu
dengan terbuka
“Kami lapar”

Ditulis pada
hati yang mendoa
dengan air mata
“Kami lapar”




Blog Stats

  • 173,368 hits

Top Clicks

  • None
January 2007
M T W T F S S
    Aug »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  
Add to Technorati Favorites