17
Aug
07

AMERIKA SERIKAT, HEGEMONI GLOBAL DAN DOMINASI MILITER

Oleh:
Wawan Kurniawan
Pendiri Kajian Internasional Strategis (KAINSA)

Kemarin (4 Juli 2005), rakyat Amerika Serikat (AS) memperingati 229 tahun kemerdekaan negerinya. Independence Day yang keempat pascaserangan 9/11 September 2001 dan yang kelima selama pemerintahan Bush. Suatu peringatan kelahiran di tengah masa perang karena Donald Rumsfeld menyatakan AS sekarang dalam kondisi perang (Department of Defense, The National Defense Strategy of the USA, Maret 2005). Suatu peringatan pada saat kebencian terhadap AS di seluruh dunia, terutama di negeri-negeri Muslim, semakin besar dan terakumulasi dalam permusuhan-permusuhan nyata (shocking level) (Ivan Eland, Can America Spin Away Anti-U.S. Hatred in Islamic Countries?, Antiwar.com, 15/10/2003)

Dibandingkan era-era tahun sebelumnya (pasca Perang Dunia II), terjadi perubahan yang mendasar dalam pemerintahan AS, terutama kebijakan luar negeri. Di era 50-an hingga 90-an, komunis menjadi musuh utama AS. Sebagai akibatnya, AS harus bertempur di beberapa front: Perang Korea (1950-1953), Invansi Teluk Babi Kuba (1961), Krisis Rudal Soviet di Kuba (Oktober 1962), Perang Vietnam (1968-1975), dan Invasi Grenada (1983). Di samping, itu, AS harus memberikan bantuan kepada “our local friend”: Mujahidin di Afghanistan (1979-1997), Jenderal Pinochet yang mengkudeta presiden Chili berhaluan kiri, Salvador Allende (1973), rezim Jenderal Jorge Rafael Videla yang bertahan dari upaya kudeta oposisi kiri Argentina dalam “Dirty War” (1976-1983), pemberontak UNITA dan FNLA melawan rezim Marxis Angola (pertengahan 70-an hingga akhir 2002), monarki Nepal melawan kaum Maoist (1994), gerilyawan Kontra di Nikaragua (1983-1988), dan rezim-rezim kawasan segitiga Amerika Latin: El Salvador, Guetemala, dan Honduras.

Memasuki milenium baru, terjadi tranformasi paradigma kebijakan luar negeri AS; anti terorisme-sentris menggeser anti komunisme-sentris. Komunisme bukan lagi menjadi momok yang menakutkan. Uni Soviet telah lama hancur di tahun 1991. Beberapa negara eks komunis di Eropa Timur sudah menjadi anggota NATO (Hongaria, Polandia, dan Republik Czech). Beberapa negara eks komunis lainnya diperkirakan segera menyusul. Di Asia Tengah, negara eks komunis malah menjadi sekutu terdekat AS dalam “global war on terrorism” (GWOT), seperti Ukraina, Uzbekistan, dan Kyrgystan.

China memang masih komunis, tetapi bukan itu yang ditakutkan. Analisis futuristik (tahun 2020) yang dikeluarkan CIA memprediksikan China (bersama India) akan menjadi kekuatan utama masa depan (new major global player) yang mampu menandingi kekuatan AS (National Intellegence Council, Mapping the Global Future, cia.gov, Desember 2004). Bukan karena ideologi komunis Mao, melainkan karena China memiliki apa yang disebut sebagai 4 faktor penyokong global power (kekuatan dunia): produk domestik bruto (PDB), populasi, anggaran pertahanan, dan inovasi teknologi (Gregory F. Treverton dan Seth G Jones, Measuring National Power, rand.org). Populasi China mencapai 1,299 miliar jiwa (CIA The World Fact Book 2005, cia.gov, 10/02/2005). Produk domestik bruto China mencapai 6,436 miliar dolar (2004) dan diperkirakan akan menjadi 25,155 miliar dolar di tahun 2025, sementara China pada 2004 telah mengeluarkan 65,2 miliar dolar untuk memperkuat pertahanannya (Newsweek, Februari 2005)

Sementara itu, Fidel Castro semakin tua. Kepemimpinan “one man show” di Kuba memberikan peluang munculnya situasi yang berbeda jika suatu saat Castro meninggal dunia. Di sisi lain, Kuba yang memiliki penduduk 11,3 juta ini bukan negara penentu di Amerika Latin. Terbukti, Castro kini bergandengan tangan dengan Hugo Chavez (Venezuela) menggalang resistensi anti AS.

Neo Konservatif dan Project for New American Century (PNAC)

Perubahan paradigma kebijakan luar negeri AS dimulai pada tahun 1992. Ketika itu, pada bulat Maret, sekumpulan pejabat penting pada masa pemerintahan Bush senior dimotori Dick Cheney dan Paul Wolfowitz mengeluarkan Draf Pedoman dan Rencana Pertahanan (Defence Planning Guidance Draft) yang mengharuskan dominasi militer dalam kebijakan AS di masa depan. Dokumen itu, yang di kemudian hari dinamai “Pentagon Paper” menganjurkan pre-emptive force untuk melindungi AS dari senjata pemusnah massal (WMD) serta melakukannya sendirian jika perlu. “Strategi kita (pascajatuhnya Uni Sovyet) harus difokuskan pada pemusnahan segala potensi timbulnya kompetitor global di masa depan” (New York Times, 08/03/1992).

Langkah selanjutnya, di tahun 1997, Cheney, Wolfowitz, Donald Rumsfeld, dan I. Lewis Libby mengorganisasikan diri secara resmi dengan membentuk PNAC (newamericancentury.org). Anggota PNAC terdiri para politisi kanan Republik, Yahudi, intelektual, dan aktivis Christian Right. Zalmay Khalilzad, mantan duta besar AS untuk Afghanistan, yang sekarang menjadi duta besar AS untuk Irak, juga merupakan anggota PNAC.

Sebuah dokumen yang berisi analis kontemporer AS dikeluarkan PNAC di bulan September 2000. Dokumen itu menegaskan kondisi AS yang harus “bermain sendirian” (no global rival) dan mengambil peran penting dalam menjaga perdamaian dan keamanan Eropa, Asia, dan Timur tengah. “Grand strategy Amerika harus diarahkan pada usaha memelihara dan mempertahankan posisi yang menguntungkan ini selama mungkin di masa depan” (Rebuilding America’s Defenses: Strategy, Forces and Resources for New Century, newamericancentury.org)

Sebenarnya, PNAC merupakan revitalisasi dari serangkaian grup hawkish (penggemar perang) yang berebut pengaruh dengan kelompok antiperang Partai Demokrat di era 70-an. Grup-grup hawkish itu seperti Committee on the Present Danger (didirikan oleh sepasang suami istri, Midge Decter dan Norman Podhoretz) yang hadir di akhir 70-an dan Committee for the Free World (dirikan oleh Descter dan Rumsfeld)

Bush junior mengambil mereka, para kolega ayahnya itu, sebagai penasehatnya dalam masa kampanye 2000. Dari sinilah timbul kedekatan antara Bush dengan para Vulcan-meminjam istilah James Man (2004). Di samping memiliki kesamaan idelogogi konservatif dan visi supremasi AS, keduanya saling bersimbios-mutualisme. Bush adalah seorang tipe pelaksana (doer) bukan pemikir (tinker). Bush lebih tertarik pada tindakan daripada introspeksi dan memiliki kepercayaan diri kuat tentang kebenaran apa yang dilakukannya (John Langmore, The Bush Foreign Policy Revolution, Its Origin, and Alternatives, globalpolicy.org, Agustus 2004). Hal lain yang menguntungkan bagi para neokon adalah fundamentalisme dan keyakinan (keukeh) Bush seperti yang pernah dia ucapkan, “Saya telah menemukan keyakinan. Saya telah menemukan Tuhan. Saya di sini (Gedung Putih) karena kekuatan doa” (New York Review of Books, 06/11/03)

Dalam perkembangan selanjutnya. Bush yang memperoleh kemenangan setelah Mahkamah Agung memenangkannya dalam kasus Florida, memberikan posisi-posisi kunci pada kaum hegemons (istilah yang dimunculkan oleh Daalder dan Lindsay dalam buku America Unbound: The Bush Revolution in Foreign Policy)

Dick Cheney menjadi wakil presiden. Rumsfeld memperoleh kursi menteri pertahanan. Wolfowitz sekarang menjadi Presiden Bank Dunia setelah sebelumnya menjabat sebagai wakil menteri pertahanan. Rize sempat sebagai penasehat keamanan nasional lalu menjadi menteri luar negeri. Douglas Feith di posisi bidang politik di bawah menteri pertahanan. Stephen Hadley menggantikan posisi Rize. I. Lewis Libby mengepalai seluruh staf wakil presiden. Daniel Pipes di unit khusus bidang teror dan teknologi pada departemen pertahanan dan mengepalai US Institute of Peace. Peter W. Rodman di posisi asisten menteri pertahanan untuk hubungan keamanan internasional. John D Negroponte mengepalai Badan Keamanan Nasional (National Security Service, NSC). NSC merupakan muara semua badan intelejen AS, seperti CIA dan FBI. John Bolton, figur kontroversial, yang dikandidatkan oleh Bush sebagai duta besar AS untuk PBB, meski telah dihalangi dua kali oleh Partai Demokrat dalam voting di komite Senat. Bolton, sekarang masih di posisi Pengawasan Senjata dan Keamanan Internasional di bawah menteri luar negeri.

Mereka inilah yang dikatakan sebagai komplotan rahasia yang mengambil alih kebijakan luar negeri negara yang paling kuat di dunia atau sebuah grup ideologi yang sangat kecil namun menggunakan kekuasaan yang tidak semestinya untuk mencampuri hubungan AS dengan negara lain, membuat sebuah kerajaan dan membuang hukum internasional (Economist, 26/04/03)

Kolaborasi Intelektual dan Media Massa

Kelompok neokon atau vulcan tidak saja memenuhi posisi-posisi penting dalam pemerintahan Bush, tetapi juga di organisasi-organisasi intelektual dan media massa. Tercatat, selain PNAC, ada beberapa kelompok cendekiawan yang aktif mendukung kebijakan Bush, seperti American Enterprise Institute (AEI), Carnegie Endowment for International Peace, Cato Institute, Center For Strategic and International Studies (CSIS), Council on Foreign Relations (CFR), Center for Security Policy (CSP), Freedom House, Hoover Institue (didirikan oleh Herbert Hoover, presiden ke-31 AS. Bernaung di bawah Stanford University dan memiliki dua anggota kehormatan: Ronald Reagan dan Margaret Thatcher. Condoleezza Rice dan Seymour Martin Lipset menjadi anggota seniornya), Heritage Foundation, Jewish Institute for National Security Affairs (mempunyai hubungan dekat dengan partai Likud), National Endowment for Democracy (NED), Nixon Center, National Institute for Public Policy (NIPP), Middle East Forum , Rand Corporation, dan The New Atlantic Initiative (di-launching pada Juni 1996 dan memiliki 300-an anggota terdiri dari politisi, cendekiawan, maupun pebisnis). John Bolton sendiri mendirikan dua lembaga sekaligus: Olin Foundation dan Lynde & Harry Bradley Foundation. Aneka lembaga di atas menjadi think tank (pusat kajian dan pemikiran) yang mendistribusikan riset dan penelitian mereka kepada pemerintah AS demi apa yang mereka sebut sebagai dan kepemimpinan global Amerika (American global leadership) dalam “Abad Baru Amerika” (New American Century).

Di media massa, terdapat pendukung neokon pula seperti Max Boot (Los Angeles Times), David Brooks dan Judith Miller (New York Times), dan Robert Kagan (Washington Post). Para neokon juga mendominasi Wall Street Journal, majalah Foreign Policy, National Review, USA Today, dan The Weekly Standard (mendapat dana dari Rupert Murdoch) (Jim Lobe, Pump Up the Pentagon, Hawks Tell Bush, irc-online.org, 28/01/03). Jangan lupakan juga Daniel Pipes, direktur Middle East Forum (MEF), yang mengajar di tiga universitas sekaligus (University of Chicago, Harvard University, dan US Naval War College), dan penulis aktif di New York Post dan The Jerusalem Post.

Media massa turut berperan dalam membentuk mind setting rakyat AS. Ketakutan masif pascaserangan 9/11 dikelola sedemikian rupa sehingga Bush yang lebih menjanjikan keamanan dibandingkan Kerry akhirnya terpilih untuk kedua kali.

Media massa adalah salah satu bagian dari sebuah sistem doktrinal (Noam Chomsky: 1993). Pemerintah Bush dan media massa beririsan dalam satu kepentingan yaitu propaganda yang memanufakturisasi persetujuan (manufacture of consent, istilah yang diperkenalkan oleh Walter Lippman) demi kelangsungan suatu kebijakan tertentu. Dapat dipahami, bila sebagian pengamat memandang media massa AS turut bertanggung jawab atas kebohongan Bush yang diyakini kebenarannya oeh mayoritas warga AS.

Di AS, ada istilah Seven Deadly Sinners yang meliputi Time, Newsweek, CBS, NBC, ABC, New York Time, dan Washington Post (Taki, Fourth Estate Follies, The American Conservative, 23/05/2005). Jika Pol Pot membunuh jutaan manusia secara fisik, Seven Deadly Sinners telah menjadi mesin propaganda dan agitasi pemerintahan Bush yang membunuh jutaan (pikiran) manusia.

Jaringan media massa yang mengusung konservatisme berkembang sangat pesat pascaperistiwa 9/11. Sebagai contoh jaringan radio, yang berjumlah 1300 pemancar, sebagian besar memiliki kedekatan dengan ideologi kanan (Hendrik Hertzberg, New Yorker, 08/08/03)

Kedekatan militer AS dengan media konservatif bisa terlihat dengan diikutkannya (embedded) mereka dalam penyerbuan ke Irak. Sebagai hasilnya, laporan-laporan live datang dari front terdepan, tentu saja dengan versi militer. Masih untung ada Al Jazeerah, yang menyajikan berita dari “another side”.

Pada 26 Januari 1998, William Kristol dan Robert Kagan bersama para pendukung neokon lainnya mengirim sebuah surat kepada Clinton yang isinya meminta agar AS segera menggulingkan Saddam Husein (Andrew J. Bacevich dan Tom Engelhardt, New Boys in Town: The Neocon Revolution and American Militarism, antiwar.com, 23/04/05). Namun, baru pada tahun 2003, lima tahun kemudian, mimpi para neokon itu dapat terpenuhi.

Selanjutnya, pada 23 Januari 2003, William Kristol, Max Boot, Eliot Cohen, Frank Gaffney, dan 22 orang neokon lainnya yang tergabung dalam PNAC mengirimkan sebuah surat kepada Bush. Mereka menganjurkan Bush menambah pembiayaan untuk riset dan pengembangan rudal pertahanan daripada tentara konvensional. Mereka juga meminta Bush menambah anggaran pertahanan sebanyak 70 hingga 100 miliar dolar, yang itu berarti sama dengan 3,8 hingga 4 persen dari PDB 2007. Di samping itu, AS harus memutuskan hubungan dengan Pemerintah Palestina dan menyiapkan tindakan hukuman bagi Iran, Suriah, dan Hizbullah di Lebanon.

Doktrin Bush

Robert Jervis dalam tulisan “Understanding the Bush Doctrine” yang dimuat di Political Science Quarterly Volume 118 Nomor 3 Musim Gugur 2003 menjelaskan empat doktrin utama Bush sekarang. Pertama, apa yang menjadi keyakinan rezim lokal akan mewarnai kebijakan luar negeri lalu untuk selanjutnya akan mempengaruhi politik internasional. Oleh karena itu penting bagi AS untuk menopang, membantu, dan melindungi rezim-rezim lokal meskipun rezim itu tidak populer baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Terlebih lagi bagi penguasa berkonflik dengan kelompok radikal Islam. Rezim Husni Mubarak di Mesir dan rezim Perez Musharraf di Pakistan dapat dijadikan contoh dalam hal ini. Juga Uzbekistan dan Arab Saudi. Pelanggaran-pelanggaran hak asasi dapat ditolerir selama para penguasa lokal masih menjadi sekutu AS dalam GWOT. Di sisi lain, AS akan berusaha mengganti rezim yang melawannya dengan orang dalam yang sepaham dengan AS. Rezim Pinochet (Chili), Hamid Karzai (Afghanisan), Iyad Allawi dan Ibrahim al Jafaari serta Ahmed Chalabi (Irak), merupakan pemimpin-pemimpin lokal yang menjadi kepanjangan AS menggantikan rezim sebelumnya. Hal ini sejalan dengan ucapan Bush pada hari pelantikanya 20 Januari lalu, “ending tyranny in our world,” meski perlu dicermati tirani macam mana yang akan dihancurkan oleh Bush

Kedua, ancaman luar terhadap keamanan nasional AS hanya dapat dipungkasi dengan melakukan serangan pendahuluan (preventive war) terhadap ancaman itu. Menyerang sebelum diserang. AS memandang ancaman terbesar berasal dari jaringan teroris internasional dan rogue state. AS menyerbu Aghanistan karena Taliban menolak menyerahkan Osamah bin Laden. AS menyakini Osamah memiliki kemampuan untuk menyerang pusat-pusat kepentingan AS dan sekutunya di seluruh dunia. Salah satu alasan invasi AS ke Iraq adalah karena Iraq dianggap memiliki senjata pemusnah massal (WMD) yang bisa mengancam AS dan sekutunya di Timur Tengah. Dalam versi intelejen Inggris, WMD itu dapat diluncurkan dalam waktu 45 menit. Meski kemudian terbukti Iraq tidak memiliki WMD. Intelejen Inggris juga diketahui telah memalsukan laporan tentang WMD itu.

Bagi Bush, sikap diam hanya akan menghasilkan risiko yang lebih besar. “Semakin besar ancaman, semakin besar risiko bila hanya diam saja” (In President Words: Free people Will Keep the Peace of the World, New York Times, 27/02/03)

Ketiga, bertindak sendiri (unilateral) bila diperlukan. Invasi Afghanistan (2002) dan Irak (2003) merefleksikan keyakinan Bush itu. Meski ditolak oleh sekutu-sekutu terdekat, semacam Perancis dan Jerman, dan juga Dewan Keamanan PBB, AS tidak ambil peduli. AS juga tidak memperdulikan demontrasi puluhan juta warga dunia di seluruh kota-kota besar dunia.

Inggris, meskipun bergabung dengan AS dalam invasi ke Irak, dapat belajar cepat dan memahami kemarahan dunia. Terlebih setelah Tony Blair terpilih kembali pada pemilu terakhir (5 Mei) dan mendapati kenyataan bahwa dirinya dan Partai Buruh mengalami erosi suara yang signifikan. Inggris bersama beberapa negara lain lebih memilih jalan diplomasi dalam menangani nuklir Iran dan Korea Utara, namun AS lebih menyukai cara konfrontasi dengan kedua negara itu.

Unilateralisme AS juga bisa terlihat dari tindakan AS keluar dari keanggotaan Mahkamah Internasional, Perjanjian Non Proliferasi Nuklir (NPT), dan Protokol Kyoto. Belajar dari kasus kejahatan perang Serbia, AS berusaha melindungi para jenderal perangnya. Dan satu-satunya cara adalah keluar dari Mahkamah Internasional.

Doktrin Bush yang terakhir adalah (keniscayaan) hegemoni AS terhadap dunia. Joshua S Goldstein (1988) menyatakan jika hegemoni berarti kebisaan untuk mendikte, mendominasi, mengatur, dan merancang konstelasi dan geopolitik internasional, maka AS bisa dikatakan telah menghegemoni. Dan untuk melanggengkan hegemoni itu, AS memerlukan militer yang kuat. Bush secara tegas menyampaikan hal ini ketika ia berpidato pada pelepasan kadet baru West Point 1 Juni 2002: “Amerika harus bisa memastikan kekuatan militernya mampu mengatasi berbagai tantangan, meskipun harus merusak stabilitas perlombaan senjata dunia. AS juga harus membatasi kekuatan negara lain meskipun kekuatan itu ditujukan untuk perdamaian.”

Dominasi Militer AS

Militer AS saat ini merupakan yang paling kuat di seluruh dunia. Teknologi tempur AS terbaik meliputi persenjataan konvensional, biologi, kimia, nuklir, dan sistem transportasinya. Sebagai contoh, di laut, AS memiliki 9 armada tempur dan sedang mempersiapkan armada kesepuluh. Pada setiap armada terdapat kapal induk (supercarrier) yang mampu membawa 4500 hingga 6000 orang sekaligus. Di samping supercarrier, beberapa kapal penjelajah dan kapal selam nuklir biasanya termasuk dalam satu satuan armada tempur. Sementara itu, Rusia hanya memiliki satu kapal induk modern yang tonnasenya hanya separuh dari supercarrier AS. Inggris dan Perancis hanya memiliki beberapa kapal induk kecil.

Militer AS juga mendominasi udara. AS memiliki tiga tipe pesawat siluman (stealth), dua tipe pembom (bomber), dan penempur (fighter). Sementara itu, tidak ada negara lain yang memiliki pesawat siluman. Teknologi pengisian bahan bakar di udara (air refueling) menyebabkan bomber-bomber AS dapat menjangkau belahan dunia manapun.

AS memiliki 6000 kepala nulir (warhead) yang siap dioperasikan. Sekitar dua ribuan ditanamkan pada rudal balistik antar benua di silo-silo seluruh AS, 3500 dipasang di kapal selam, dan beberapa ratus buah dibawa oleh pesawat pembom (Steve Weinberg, The Growing Nuclear Danger, New York Review of Books, 18/07/02).

Roberth S. Mcnamara, seorang mantan menteri pertahanan AS, memberikan gambaran yang lebih detil lagi. Setiap nuklir AS, rata-rata memiliki kekuatan penghancur 20 kali bom Hiroshima. Dari semua jumlah nuklir itu, 2000 diantaranya dikondisikan siaga penuh (hair triger alert) dan siap diluncurkan dalam waktu 15 menit. SAC (Strategic Air Command) yang berpusat di Ohama, Nebraska dan memiliki jaringan komunikasi dengan presiden AS dan markas underground NORAD (North American Defense Command) di Pegunungan Cheyenne, Colorado, harus memastikan 2 sampai 3 menit bahwa peringatan AS akan diserang adalah valid. Komandan SAC harus menjawab telpon tidak boleh lebih dari tiga deringan. Sedemikian urgennya, hingga Mcnamara mengilustrasikan jaringan komunikasi tersebut dengan “Harus online 24 jam sehari, 7 hari seminggu, dan, 365 hari setahun. Komandan SAC harus membawa telepon khususnya di manapun ia berada” (Apocalypse Soon, foreignpolicy.com, May-Juni 2005)

Untuk menjaga dominasi militer dan berhubungan dekat dengan para sekutu lokal sekaligus melindunginya, AS memiliki ratusan pangkalan militer di luar negeri. DOD (Departement of Defense) merinci 725 markas AS di luar negeri dan kesatuan khusus AS (Special Operation Forces) yang aktif di 125 negara (Chalmers Johson, The Sorrows of Empire: Militarism, Secrecy, and the End of the Republic, 2004)

Oleh karena itu, tidak heran bila anggaran pertahanan AS mencapai separuh dari total biaya pertahanan seluruh negara di dunia. Bush mengalokasikan 462 miliar dolar di tahun 2005, yang berarti 3,5 persen dari PDB (Department of Defense, Budget for Fiscal 2005, Defense Week, 02/02/04). Dana sebesar itu sudah termasuk biaya rekonstruksi Iraq dan Afghanistan

Bantuan AS kepada Para Sekutunya

World Policy Institute, pada awal Juni kemarin, menerbitkan laporan khusus mengenai alur dan distribusi bantuan militer AS sejak peristiwa 9/11 hingga 2003. Laporan dengan judul “US Weapon at War 2005: Promoting Freedom or Fueling Conflict?” menjelaskan dengan detail negara-negara penerima bantuan AS dan besarnya bantuan tersebut.

Ada beberapa jenis bantuan yang diberikan AS kepada sekutu-sekutunya. Pertama, Foreign Military Financing (FMF). FMF merupakan kesediaan AS menjual produk senjatanya (termasuk servis dan training) kepada negara asing. FMF meningkat signifikan dari 2001 sampai 2005; dari 3,5 miliar dolar hingga 4,6 miliar dolar. Proses FMF berlangsung G to G (government to government) antara Pentagon dan negara yang bersangkutan.

Kedua, Economic Support Fund (ESF). ESF didesain sebagai program asistensi AS kepada sekutunya dengan tujuan mengurangi akar-akar penyebab terorisme. Ketiga, International Military Education adn Training (IMET) yang bertujuan melatih tentara-tentara asing dengan pejabat militer dan senjata AS. Dalam 2004, AS telah mengeluarkan 9 miliar dolar untuk melatih 11 ribu serdadu dari seratus negara. Keempat, Excess Defense Articles (EDA). Dengan EDA, AS dapat mentransfer senjata secara gratis atau dengan diskon besar. Kelima, Emergency Drawdown, yang memungkinkan AS memberikan bantuan senjata secara cepat dan lunak dalam keadaan kritis.

Ironisnya, lebih dari separuh (13) dari 25 negara penerima sumbangan terbesar AS dikategorikan sebagai negara tidak demokratik oleh Laporan HAM Departemen Negara AS. Ketiga belas negara itu, termasuk Arab Saudi, Mesir, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Uzbekistan, menerima bantuan 2,7 miliar dolar lebih. Delapan belas dari 25 negara itu mengalami konlik internal yang akut, termasuk Angola, Colombia, Pakistan, Filipina, dan Ethiopa. Dua puluh dari 25 merupakan negara yang memiliki banyak pelanggaran HAM.

Arab Saudi memperoleh bantuan terbesar AS: 1,169 miliar dolar. Disusul Mesir (1,047 miliar), Israel (846 juta), Taiwan (647 juta), dan Turki (524 juta). Sementara, Pakistan dan Filipina yang dianggap Bush sebagai sekutu utama non NATO (major non-NATO ally) dalam GWOT mendapat 49,5 juta dan 26,4 juta

Dua Kutub Penopang Partai Republik

Partai Republik sebagai kendaraan politik Bush dan menguasai mayoritas Kongres AS, memiliki dua kutub yang saling menguatkan. Pertama, kelompok industriawan yang meliputi perusahaan-perusahaan besar, mulai dari energi, media, pertahanan, hingga konstruksi multinasional. Banyak neokon yang memiliki koneksi dengan perusahaan besar. Dick Cheney adalah mantan CEO Halliburton. Halliburton merupakan pemegang mandat utama rekonstruksi Irak pascaperang (New York Times, Editorial: “The State of Iraq”, 09/08/2004). Halliburton juga mitra utama militer AS (George Anders dan Susan Warren, Military Service: For Halliburton, Uncle Sam Brings Lumps, Steady Profits, Wall Street Journal, 19/01/2004). Rumsfeld memiliki hubungan dengan Bechtel (terlibat dalam pembuatan jalur pipa minyak Iraq di tahun 1980-an), Gulfstream Aerospace, Gilead Sciences dan G.D. Searle (keduanya perusahaan farmasi), serta Metricom. Rice dengan Chevron dan Hewlett Packard. Stephen Hadley dengan Shea & Gardner (biro pengacara yang memiliki klien Lockheed Martin and Boeing), Raytheon and Bellcore (kontraktor pertahanan),dan Scowcroft Group (firma konsultasi intenasional)

Jika ditelusuri lebih lanjut, perusahaan-perusahaan besar itu memiliki hubungan dengan media massa. Sebuah riset yang dilakukan oleh Sonoma State University memperlihatkan sekitar 128 orang yang duduk di dewan direktur sepuluh media raksasa ternyata menduduki tempat yang sama pada 228 perusahaan nasional dan internasional (Peter Phillips, Big Media Interlocks with Corporate America, commondreams.org, 24/06/05). Di antaranya, Washington Post yang terrelasi dengan Lockheed Martin, Coca-Cola, Gillette, G.E. Investments, J.P. Morgan, dan Moody’s. The Tribune (Chicago & LA Times) dengan 3M, Caterpillar, Kraft, McDonalds, Pepsi, dan Wells Fargo. NBC dengan Avon, Bechtel, Chevron, Coca-Cola, Dell, General Motor,Kellogg, J.P. Morgan, Microsoft, dan Motorola.
ABC dengan Boeing, Northwest Airlines, FedEx, Gillette, Halliburton, Kmart, dan Yahoo. CBS dengan American Express dan Oracle. Gannett dengan AP, Lockheed-Martin, Continental Airlines, Prudential, dan Pepsi

Penopang Partai Republik yang kedua adalah para ideolog kanan. Mereka meliputi Evangelis dan Yahudi Kanan. Ada satu pemahaman berbahaya mereka yang bersinggungan dengan umat Islam yaitu Yesus akan tiba hanya jika Yahudi memiliki Jerusalem dan Palestina. Ini yang membuat mereka matian-matian mendukung tindakan apapun Israel di Timur Tengah. Mereka mengkritisi kebijakan “Peta Jalan” (Road Map) karena itu akan membuat Israel tidak bisa menguasai semua tanah Palestina.

Kelindasi Berbagai Anasir

Akhirnya, seperti teori konspirasi yang memungkinkan segalanya terjadi, para neocons, media massa, doktrin fundamentalisme Bush, dominasi militer, bantuan senjata, kelompok industri besar dan ideologi kanan, berkelindan menjadi satu dalam sebuah dominasi militer AS untuk hegemoni global yang tidak mentolerir revitalisasi kekuatan-kekuatan lain.

Namun, the future is uknown dan tidak selamanya apa yang dikatakan George Orwell (who controls the past controls the future; who controls the present controls the past) benar. Fred Kaplan mengingatkan, “Kekuatan baru (the new arriviste power) semacam China, India, juga Brasil dan Indonesia, bisa mengurangi kekuatan AS dan bahkan memaksa AS mengikuti aturan mereka dalam dunia baru di masa depan” (Fred Kaplan, A CIA Report Predicts That American Global Dominance Could End in 15 Years, globalpolicy.org, 26/01/05)

“I am only one, but I am one. I cannot do everything, but I can do something.
And because I cannot do everything, I will not refuse to do the something that I can do.
What I can do, I should do. And what I should do, by the grace of God, I will do.”


1 Response to “AMERIKA SERIKAT, HEGEMONI GLOBAL DAN DOMINASI MILITER”


  1. 1 ANGGORO RARAS ST
    August 10, 2008 at 2:57 am

    hebat ya AMERIKA…KALAU SAJA indonesia jadi sekutu amerika wah…bakalan hebat kita nih!!! ngapain jadi sekutunya arab…ha ha ha ha


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 168,926 hits
August 2007
M T W T F S S
« Jan   Oct »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
Add to Technorati Favorites

%d bloggers like this: