17
Aug
07

BELARUS DAN KEPENTINGAN ASING

Oleh:
Wawan Kurniawan
Pendiri Kajian Internasional Strategis (KAINSA)

Untuk kesekian kalinya, kisruh politik terjadi lagi di negara-negara eks-Soviet. Setelah Georgia (Revolusi Mawar 22 Nopember 2003), Ukraina (Revolusi Jingga 23 Nopember 2004), dan Kyrgyzstan (Revolusi Tulip 24 Maret 2005), kini Belarus mengalami hal yang sama.
Bermula dari kemenangan (incumbent) Alexander Lukashenko pada pemilu presiden 19 Maret 2006. Menurut perhitungan resmi KPU Belarus, dengan partisipasi pemilih sebesar 92,6 persen, Lukashenko mendapat 82,6 persen suara. Sementara tiga pesaingnya dari kubu oposisi, Alexander Milinkevich (Kekuatan Demokratik Bersatu), Sergei Gaidukevich (Partai Demokratik Liberal), dan Alexander Kozulin (Partai Demokratik Sosial) hanya mendapat masing-masing 6, 3,5, dan 2,3 persen saja.

Kubu oposisi menolak hasil itu dan segera menggalang aksi massal pada hari pemilu itu juga. Hasilnya, sekitar 10 ribu orang bergabung dengan oposisi dalam demo di Alun-Alun Oktyabyrskaya, di ibu kota Minsk (CNN, 19/03). Namun jumlah itu mengecil hingga menjadi 7 ribu di hari kedua. Dan sekarang hanya tinggal sekitar 300 orang yang bertahan di tengah cuaca yang dingin (AP, 22/03).

Pengakuan asing yang saling kontra menambah panas suhu politik Belarus. Rusia menganggap pemilu itu dapat diterima. Menlu Rusia Sergei Lavrov menganggap sah pemilu dan Vladimir Putin, presiden Russia, menghubungi Lukashenko untuk memberi ucapan selamat (Moscow Times, 21/03).
Di sisi lain, Barat-Uni Eropa (EU), NATO, dan AS-memberikan reaksi berbeda. Organisasi Keamanan dan Kerjasama Eropa (OSCE), dalam laporan per 20 Maret, menganggap gagal karena adanya tekanan dan intimidasi dari penguasa. Sebagai anggota OSCE, Belarus dianggap gagal memenuhi komitmen OSCE untuk pemilihan yang demokratis.

Amerika Serikat melalui jurubicara Gedung Putih, Scott McClellan, menolak hasil pemilu dan meminta segera diadakan pemilu baru (state.gov, 20/03). Sekjen NATO Jaap de Hoop Scheffer menyatakan rakyat Belarus ditipu oleh pemilu itu (New York Times, 21/03). Menlu Austria Ursula Plassnik mengkritik berbagai intimidasi yang merintangi kampanye oposisi. Austria sendiri akan menjadi ketua Uni Eropa periode mendatang.

Yang menarik, Rusia melalui CIS (Negara-Negara Persemakmuran Independen) dan OSCE sama-sama menempatkan ratusan pengamatnya. Sekitar 430 pengamat dari CIS dan 450 orang dari OSCE bersama-sama mengawasi jalannya pemilu Belarus (BBC, Q&A: Belarus presidential polls, 16/03). Namun, ternyata keduanya menghasilkan konklusi yang berbeda.

Pertarungan Kepentingan Asing

Saya melihat kisruh politik Belarus bukan berpijak pada pemilihan demokratis dan bukan demokratis, jujur dan curang. Bukan pula pada cara memerintah tangan besi (heavy hand) Lukashenko. Aneka kepentingan asinglah yang “bermain” di chaos Belarus.
Patut diingat, Lukashenko sudah dua kali menjadi presiden. Itu berarti sudah 12 tahun (Juli 1994-Maret 2006). Kemenangan 19 Maret kemarin berarti masa jabatan ketiga dan itu menambah waktu lima tahun ke depan.

Dalam 12 tahun kepemimpinan Lukashenko, selama 10 tahun aman-aman saja. Tidak ada resistensi baik domestik maupun luar negeri. Baru pada dua tahun terakhir, yaitu 2004, Lukashenko baru mendapat tentangan dari luar negeri. Saat itu Kongres AS menyepakati Belarus Democracy Act (Akta Demokrasi Belarus) yang sudah diwacanakan semenjak 2001. Dengan akta itu, AS menerapkan sanksi sekaligus mendukung upaya-upaya pihak oposisi termasuk dalam hal finansial.

Mulai April 2001, AS merasa Belarus akan menjadi ancaman. Salah satu sikap Lukashenko yang tidak dilupakan AS adalah pembelaannya kepada China dalam tabrakan pesawat antara China dengan AS. Masih di bulan yang sama, Belarus dan China menyepakati “Deklarasi untuk Abad 21”, sebuah kerjasama perdagangan, ekonomi, sains, teknologi, militer dan budaya.

China tidak mengambil keuntungan dari Belarus kecuali pertama, membesarnya pengaruh China di dunia internasional. China sudah menjalin kontrak energi dengan Iran, Sudan, dan Venezuela, kontrak ekstrasi minyak dan mineral dengan Kanada, militer dan intelejen dengan Kuba, pelabuhan dengan Panama, dan pertambangan dengan Afrika Selatan (Frederick W. Stakelbeck, Developing China-Belarus Relations, National Interest, 18/07/05).

Kedua, Belarus dapat menjadi-meminjam istilah Stakelbeck-sarang lebah (beehive). Belarus menjadi strategis karena berada di tengah-tengah kekuatan besar Eropa: EU, NATO, dan Rusia. China dapat menjadikan Belarus sebagai “telinga” espionase. Karenanya, Belarus dapat meningkatkan posisi tawar China di depan AS dan EU. Tentunya, China tidak melupakan embargo senjata AS dan EU yang masih berlaku hingga sekarang.

Sejak inilah upaya-upaya menggangu Belarus dijalankan. Eropa yang semula setengah hati (dengan hanya menghalangi Belarus menjadi anggota Dewan Eropa sejak Januri 1997 dan pelarangan travel pejabat Belarus memasuki Eropa) malah turut bersama AS.

Dalam pidato Konferensi Demokrasi di Timurlaut Eropa yang diselenggarakan oleh International Republican Institute (IRI) di Riga, Latvia, 6 Februari 2004, Senator John Mc Cain memuji keberhasilan demokrasi Ukraina dan mencela habis-habisan autokrasi Lukashenko.

Setahun sesudah keluarnya akta itu, Bush yang terpilih untuk periode kedua, mengumandangkan visi “kebebasan (freedom) dan pergantian rezim (rezim change)” di Inaugural Adress 20 Januari 2005. Suatu visi-menurut koran Perancis Le Monde-messianic (suci) yang bertujuan mengakhiri rezim di dunia (ending tyranny in our world).

Dua hari sebelumnya, Condoleezza Rice, yang masih menjadi penasihat keamanan nasional, memperkenalkan istilah outposts of tyranny (tirani terdepan) dalam sebuah testimoni di depan Komite Urusan Luar Negeri Senat. Rice mengasumsikan outposts of tyranny sebagai pemerintahan yang menindas hukum, menistakan demokrasi dan hak asasi manusia. Karena itu, enam negara, yaitu Belarus, Kuba, Iran, Myanmar, Korea Utara, dan Zimbabwe, dikategorikan Rice sebagai outposts of tyranny.

Dalam kunjungan keMoscow pada 20 April 2005, Rice juga membantah keterlibatan AS di balik pergantian rezim di Georgia, Ukraina, dan Kyrgyzstan. Namun, pada hari yang sama, saat konferensi pers dalam kunjungan ke Lithuania, Rice menyatakan “It’s time for a change in Belarus” (Ini saatnya untuk sebuah pergantian di Belarus).

Esoknya, masih di Lithuania, Rice bertemu dengan beberapa pimpinan oposisi Belarus (AP, 21/04/05). Bahkan Rice menyarankan agar mereka bergabung mendukung satu kandidat, yaitu Milinkevich (Washington Post, 22/05/05).

Selanjutnya, dalam pertemuan menlu NATO di Vilnius, Lithuania, Rice menyerang Belarus dengan tuduhan sebagai “diktator terakhir di Eropa”. Lavrov mengecam ucapan koleganya ini seraya menegaskan sikap Russia yang tidak menerima upaya mengganti rezim di negara manapun termasuk Belarus.

Harian Moscow News pada 22 April 2005 memberitakan Senat AS yang menyetujui anggaran perang Bush sebesar 81 miliar dolar yang termasuk didalamnya bantuan sebesar 5 juta dolar untuk “konsolidasi” demokrasi di Belarus.

Menlu Inggris Jack Straw, sehabis pertemuan EU 8 November 2005, memberikan pesan keras kepada Belarus agar memperbaiki sikapnya tentang HAM jika tidak ingin mendapat sanksi dari EU. Enam hari sesudahnya, seorang pejabat AS menyarankan tindakan hukuman kepadaa Belarus karena negara itu masih menindas kubu oposisi.

Yang agak aneh adalah ketika muncul sebuah pertanyaan “bagaimana AS mempromosikan demokrasi” dalam konferensi pers di Rio de Janeiro, Brasil, 12 Maret 2006, Rice menjadikan Belarus sebagian bagian dari jawabannya.

AS tidak secara langsung mengintervensi kemapanan (establishment) Lukashenko mengingat China dan terutama Rusia memiliki kepentingan besar dengan Belarus. Keberanian Belarus menantang ancaman sanksi lanjutan dari AS dan Uni eropa (Washington Post, 21 March 2006) tentu bukan langkah quasi provokatif belaka.

Terdapat ketidakharmonisan hubungan antara Belarus dengan tetangganya terutama Polandia. Belarus merasa Polandia menjadi bagian rencana kotor (scheme) internasional yang dikomandoi oleh AS dan Ukraina. Belarus masih ingat betapa Polandia berusaha mencampuri urusan internal Ukraina saat konlik antara Yanukovich dengan Yuschenko. Sementara di Polandia, sentimen anti-Russia masih cukup besar dirasakan sebagai akibat tindakan keduanya yang saling menduduki wilayah di masa lalu.

Sementara itu, Menhan Polandia Jerzy Szmajdzinski dikenal memiliki hubungan denkat dengan Menhan AS Donald Rumsfeld. Menhan Polandia yang baru, Radek Sikorski, merupakan mantan kolega (2002-2005) American Enterprise Institute (AEI). Polandia menjadi negara Eropa Timur satu-satunya yang disinggahi Rice pada lawatan perdananya ke Eropa Februari 2005. Padahal tidak lama sebelum itu (26-28 Januari), Wapres AS Dick Cheney berada di negeri ini. Ini menunjukkan Polandia adalah sekutu penting di belahan Eropa yang masih tidak stabil ini.

Dunia internasional mencurigai Polandia dan Ukraina membolehkan penjara teroris (black site) CIA meski keduanya menyangkalnya. Bukan tidak mungkin, peralatan canggih informasi CIA untuk mematai-matai Eropa Timur juga berada di dua negara ini.

Sebenarnya, jika dikomparasikan dengan Uzbekistan, sikap Barat terhadap Belarus termasuk cukup lunak. Boleh jadi karena pelanggaran HAM di Belarus tidak sampai menghilangkan nyawa ratusan orang seperti di Andijan, Uzbekistan. Yang ditakuti Barat adalah jika Rusia sampai marah dan memutus suplai minyak dan gas ke Eropa Barat.

Hadiah “tahun baru” 2006 dari Rusia kepada Ukraina berupa pemutusan suplai gas membuat Ukraina dan Barat kelimpungan. Meskipun keinginan Rusia sederhana: menaikkan harga gas sekaligus menghukum Ukraina yang dinaggap “mencuri” gasnya, negara-negara lain seperti Jerman, Itali, dan Polandia turut merasakan getahnya. Apakah itu merupakan peringatan awal ini Rusia? Ada kemungkinan untuk itu.

Bagi Rusia, Belarus merupakan teman terakhir di tengah-tengah kepungan lawan. Batas luar NATO yang telah bersentuhan langsung dengan Rusia melalui Estonia, Latvia, dan Lithuania, merupakan kekhawatiran tersendiri. Besar kemungkinan di masa depan, Ukraina dan Georgia juga akan bergabung dengan NATO.

Karenanya Rusia tidak main-main dengan sekutu dekatnya ini. Putin dan Lukashenko sudah menyepakati meng-install rudal pertahanan mutakhir Rusia, S-300, di barat Belarus (AP, 13/04/05).

Rusia memandang keberadaan China di Belarus cukup menguntungkan mengingat hubungan rujuk Rusia-China yang kian lama kian mesra.

Kesalahan Awal Barat

Di masa pasca pembubaran (dissolution) Uni Soviet pada 19 Agustus 1991, Barat menyibukan diri mengurusi negara eks soviet di belahan utara dan melupakan Belarus. Robert M. Cutler dalam The Unanticipated Consequences of Policy Blindness: Why Even Belarus Matters (Foreign Policy in Focus, 02/04/03) menulis usaha keras Barat di Estonia, Lithuania, dan Latvia yang berpangkal pada pemulangan pasukan Rusia dan pengintegrasian struktur ekonomi ketiga ke Eropa. Walhasil, tentara Rusia ditarik mundur dari Lithuania pada 1993, sementara untuk Latvia dan Estonia pada 1994. Ketiganya secara bersamaan menjadi anggota Uni Eropa pada Maret 2004. Ketiga juga bersamaan menjadi anggota NATO pada 29 Maret 2004.

Tidak ada jalan lain bagi Belarus yang baru merdeka (25 Agustus 1991) kecuali berkiblat dan meminta bantuan ekonomi ke Moscow. Di samping itu, kesejarahan Belarus yang dekat dengan Rusia, ikatan emosional sesama keturunan Slav, dan kesamaan kuantifikasi pengikut Kristen Ortodoks (mayoritas di Rusia dan 80 persen di Belarus), turut menjadi penentu arah afiliasi itu. Jerome Horsey sendiri mengartikan Belarus sebagai “Rusia Putih” (White Russia).

Upaya yang Gagal
Jika melihat alurnya, naga-naganya Barat mencoba mentransplasikan model transisi demokrasi ala Ukraina di Belarus. Samuel Huntington, guru kedua para neokonservatif setelah Leo Strauss, menyatakan bahwa sebuah transisi demokrasi di satu negara dapat digunakan untuk melakukan transisi yang serupa di negara lain dalam satu regional.

Ironisnya adalah kecenderungan yang terjadi yang terjadi di Belarus, bukanlah pada partisipasi pemilu melainkan kudeta mengganti rezim (New York Times, 01/01/06). Ada dua indikasi: pertama, dukungan terhadap oposisi melalui LSM. Sekali lagi, National Endowment for Democracy (NED) bersama Westminster Foundation for Democracy terlibat memberikan uang dalam jumlah “kecil” (New York Times, 26/02/06).

Perlu diingat NED sebelum terlibat dalam Revolusi Jingga Ukraina (William Engdahl, Washington’s interest in Ukraine: Democracy or Energy Geopolitics, GlobalResearch.ca, 20/12/04) dan kudeta gagal Venezuela 2002 (The Nature of CIA Intervention in Venezuela, Venezuelanalysis.com, 22/03/05). Sudah jamak diketahui, Barat menjadikan NGO-NGO sebagai alat intervensi dan penguatan oposisi (lihat Sreeram Chaulia, Democratisation, Colour Revolutions and the Role of the NGOs: Catalysts or Saboteurs, GlobalResearch.ca, 25/12/05).

Kedua, demo masif. Aksi jalanan melibatkan ribuan orang pada saat hasil pemilu diumumkan. Aksi itu disertai seruan mendelegitimasi hasil pemilu dan meminta penguasa lengser. Lihat saja, Terry Nelson, kepala tim kampanye Milinkevich, yang pernah juga mengetuai tim kampanye Bush-Cheney 2004, dua hari sebelum pemilu telah menyatakan “hasil pemilu telah diputuskan” (Times Online, 17/03/06).

Tetapi, Belarus bukanlah Ukraina. Seiring dengan waktu, jumlah peserta aksi di Lapangan Oktyabyrskaya makin berkurang. Musim dingin membuat orang lebih suka berada di rumah. Lukashenko cukup cerdas dengan hanya menjaga sisi luar lapangan, tidak membubarkan demo itu. Jika Lukasehnko menindak paksa para demonstran, hal itu akan menjadi blunder meningat Belarus sekrang menjadi pusat perhatian dunia.

Bisa dikatakan semua saran-saran jangka pendek yang diajukan oleh Grzegorz Gromadzki, Vitali Silitski, dan Lubos Vesely dalam Effecticve Policy toward Belarus: A Challenge for Enlarged EU (Stefan Batory Foundation, Warsawa, April 2005) mengalami kegagalan kecuali dua hal: penambahan waktu pelarangan travel dan pemblokadean ekspor senjata. Akhirnya, seperti sudah bisa diduga sebeelumnya, melihat upaya kudeta yang prematur, EU dan AS sekali lagi mengancam akan memberi sanksi kepada Minsk (BBC, 24/03)

Rezim Represif Populer

Rezim Lukashenko memang represif; menangkapi para penentangya dan menutup media massa lawan. Lukashenko mengusir LSM-LSM asing, terutama dari Barat. Dan yang paling penting, Lukashenko telah berhasil meniadakan batas waktu (limit) jabatan kepresidenan dalam referendum konstitusional Oktober 2004.

Pada April 2005, sebuah UU “Alat-Alat Keamanan Negara yang merupakan edisi revisi atas UU Desember 1997 disetujui Natsionalnoye Sobranie. Berdasarkan UU itu, intelejen Belarus KGB berhak memasuki setiap rumah sekalipun dengan cara paksa tanpa perlu mendapat ijin sebelumnya (Eurasia Daily Monitor, Vol 2, Issue 111, 08/06/05). KGB juga berhak menyadap pembicaraan telpon.
Pada hakikatnya, sistem pemerintahan Belarus hanya bertumpu pada lembaga kepresidenan saja. Lembaga legislatif (Natsionalnoye Sobranie) memang ada namun bersifat simbolis belaka. Natsionalnoye Sobranie terdiri dari dua kamar (bicameral), yaitu Dewan Republik (Soviet Respubliki) yang terdiri dari 64 anggota: 56 orang dipilih berdasarkan wilayah dan 8 orang ditunjuk presiden, dan Dewan Perwakilan (Palata Predstaviteley) dengan 110 anggota.
Anggota Soviet Respubliki berlaku selama 4 tahun. Anggota Palata Predstaviteley dipilih berdasarkan kepatutan hak pilih universal orang dewasa dan berlaku selama 4 tahun. Kedua lembaga itu tidak mengenal komposisi atas dasar afiliasi partai politik, alias diisi oleh orang-orang non-partisan. Namun, orang-orang itu merupakan pendukung Lukashenko. Kandidat-kandidat pro-oposisi mengalami diskualifikasi karena “kesalahan teknis”.
Para hakim Mahkamah Agung ditetapkan oleh presiden. Sebagian hakim Mahkamah Konstitusi ditetapkan oleh presiden dan sebagian lain ditetapkan oleh Palata Predstaviteley.
Di bidang industri, hampir 80 persen ditangani negara dengan menghalangi privatisasi dan investasi asing (Index of Economic Freedom 2006, The Heritage Foundation). IMF ditolak kehadirannya. Berkat Lukasehnko, Belarus telah menjadi miniatur Uni Sovyet. Lukashenko mengambil langkah populis: menaikkan gaji, memotong pajak tambahan, dan menurunkan inflasi serta menciptakan sistem distribusi pendapatan yang paling baik di kawasan Baltik (Times Online, March 10, 2006).
Pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 6,4 persen pada 2004 dan 7,8 persen pada 2005 (CIA World Factbook 2005), tidak dapat disamai oleh negara EU manapun. Meskipun begitu inflasi masih tinggi. Barang-barang hasil industri Belarus hampir semuanya tidak kompetitif di pasaran. Namun, Rusia bersedia menampungnya. Tak heran, 47 persen ekspor Belarus ke arah timur (Rusia). Sementara, 68,2 persen kebutuhan Belarus diimpor dari Rusia.
Jika, menurut Vitali Silitski dalam Preempting Democracy: The Case of Belarus (Journal of Democracy, Vol 16, No 12, 04/10/05), keberhasilan demokrasi di Gergia, Ukraina, dan Kyrgistan disebabkan oleh dua hal: campur tangan komunitas demokrasi internasional dan lemahnya konsolidasi rezim lokal. Kelemahan rezim lokal inilah yang tidak ada di Belarus. Dan juga kiranya Barat melupakan satu hal lagi, yakni ekonomi. Untuk kali ini, rekayasa pergantian kekuasaan oleh Barat tidak berhasil.


3 Responses to “BELARUS DAN KEPENTINGAN ASING”


  1. 2 kainsa
    April 15, 2008 at 12:54 am

    Saya juga telah mengunjungi blog Anda. Bagus!.

  2. May 23, 2013 at 1:54 am

    If your balance is reasonably reduced then you could be forking out a significant
    portion of the overall quantity. If your balance is huge, you need to select
    a charge card with an extended period, ie 15 months or 18 months.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 169,073 hits

Top Clicks

  • None
August 2007
M T W T F S S
« Jan   Oct »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
Add to Technorati Favorites

%d bloggers like this: