17
Aug
07

Jalur Gaza pascapenarikan Mundur Israel

Oleh:
Wawan Kurniawan
Pendiri Kajian Internasional Strategis (KAINSA)

Tengah malam kemarin, 15 Agustus 2005, merupakan batas akhir bagi pemukim Yahudi untuk bertahan di Jalur Gaza. Sesuai dengan kesepakatan Oslo yang sempat tertunda dari kesepakatan awal (25 Juli), Israel harus menarik keluar (pullout) 8 ribu pemukim Israel dari Jalur Gaza (JG).

Penarikan mundur yang telah dimandatkan oleh Resolusi Dewan Keamanan PBB 242 (22 November 1967) dan 338 itu telah disepakati dalam pertemuan Mahmoud Abbas dan Ariel Sharon di tempat wisata Mesir, Sharm Sheikh, pada 8 Februari (Ariel Sharon, Mahmoud Abbas during the Sharm e-Sheikh summit, Jerusalem Post)

Para pemukim yang membangkang yang diperkirakan mencakup ratusan akan dievakuasi secara paksa dalam waktu dua hari. Sementara untuk penarikan kekuatan militer (withdrawal), Israel baru akan memulai pada dua hari setelahnya, tepatnya 17 Agustus (Haaretz, 09/08/05)

Meskipun mendapat rintangan dari kubu ekstrim Yahudi berupa aksi-aksi demo, termasuk pernyataan mundur dari Menteri Keuangan Benjamin Netanyahu pada Sabtu 7 Agustus, Ariel Sharon bersikukuh pada putusan withdrawal itu karena mendapat dukungan mayoritas rakyat Israel. Ariel Sharon sendiri dikenal sebagai “Bapak Pemukiman” (The Father of the Settlements) mengingat perannya selama menjabat sebagai Menteri Konstruksi dan Perumahan (1990-1992). Saat itu, Sharon berhasil membangun pemukiman dalam jumlah sangat besar di JG dan Tepi Barat (Profile: Ariel Sharon, BBC)

Kemunduran Netanyahu disebabkan karena ketidaksesuain pendapat dengan Sharon. Netanyahu berpendapat bahwa penarikan mundur Israel hanya akan membuat Jalur Gaza sebagai markas teroris Islam (base of Islamic terror) (No group holds patent on terrorism, St. Petersburg Times, 09/08/05). Jauh sebelumnya, Natan Sharansky, menteri diaspora, mengundurkan diri pada 2 Mei lalu dengan alasan serupa (New York Times, 03/05/05)

Representasi Hamas dan Jihad Islam di JG memperkuat kekhawatiran Netanyahu tersebut. Hamas merupakan pemenang pemilu legislatif di JG yang diselenggarakan pada 17 Juli kemarin. Kemenangan itu menunjukkan bahwa didukung sepenuhnya oleh penduduk Palestina di JG.

Mengenai agenda pemunduran itu, Hamas dan Jihad Islam menjamin tidak akan menganggunya. Meskipun demikian, aparat keamanan Israel dan Palestina bekerja sama dengan kesiapan tinggi mengamankan proses penarikan mundur itu. Israel juga mengancam akan memperlambat penarikan jika mendapat seranagn dari para militan

Implikasi Perdamaian

Penarikan mundur itu masih menyisakan dua pertanyaan: apakah bisa membawa perdamaian di kedua belah pihak dan mampukah membuka lagi perundingan “peta jalan” (road map) yang sempat tertunda (Jerrold Kessel and Pierre Klochendler, Confronting Sharon’s ‘my way’ doctrine, International Herald Tribune, 11/08/05)

Sementara, faksi-faksi perlawanan Palestina hanya “menunda” perjuangannya. Hamas masih bertekad membebaskan seluruh Palestina. Fatah, sebagai faksi terbesar yang menaungi faksi-faksi yang lebih kecil, terbukti tidak mampu mengendalikan faksi-faksi kecil tersebut. Dukungan terhadap Fatah tidak sebesar dulu lagi. Mahmud Abbas, meskipun menjadi presiden hasil pemilu, tidak memiliki wibawa dan kharisma pendahulunya, Yasser Arafat.

Di Israel sendiri, kebijakan itu membuat Partai Likud mulai kehilangan basis dukungan, terutama dari kelompok ekstrim Yahudi. Partai Likud juga tidak sepenuh hati mendukung kebijakan Sharon itu. Boleh jadi, kebijakan itu akan membahayakan posisi Sharon (David Makovsky, Gaza: Moving Forward by Pulling Back, Foreign Affairs, Mei-Juni 2005)

Motif Politik

Apa yang membuat Israel bersedia meninggalkn JG yang diperolehnya dari Mesir selama Perang Enam Hari 1967. Penulis menilai ada tiga hal yang kemungkinan melatarbelakangi penarikan itu. Pertama, Isarel benar-benar kewalahan dengan perlawanan militan. Bercermin pada penarikan Israel dari zona penyangga keamanan (buffer zone) di Lebanon selatan pada 24 Mei 2000, Israel tidak mampu menundukkan gerakan bersenjata melawan okupasi. Bom-bom bunuh diri (suicide bomb) telah menjadi ancaman mengerikan (nightmare) yang tidak dapat ditangkis dengan cara apapun. Seketat apapun sistem keamanan, militan Palestina masih bisa meledakkan diri dengan mudah, tanpa terdeteksi, dan membawa banyak korban di kota-kota Israel. Menarik mundur tentara seraya memperkuat perbatasan dan membuat tembok besar pelindung merupakan jalan terbaik untuk mempertahankan kekuatan Israel.

Kedua, politik isolasi. Meskipun JG sudah kosong dari unit sipil dan militer Israel, Israel masih mengontrol JG dari luar. Akses-akses darat, udara, dan laut masih diawasi ketat oleh Israel. Upaya perlintasan di jalan-jalan masuk dan keluar JG masih membutukan ijin Israel

Ketiga, kehilangan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu. Kessel dan Klochendler (2005) menyebutnya dengan “apa yang kamu peroleh untuk apa yang kamu berikan” (what you get for what you give). Israel memang melepaskan pemukiman di JG tetapi di sisi lain, tepatnya di Tepi Barat, Israel masih agresif membangun rumah-rumah untuk rakyatnya.

Demikian juga dengan pembangunan tembok besar dan pemukiman di Jerusalem Timur. Di “Kota Suci Tiga Agama” ini, Israel berencana menyelesaikan tembok besar pembatas pada akhir Agustus (Hind Khoury, Meanwhile, Israel grabs the rest of Jerusalem, International Herald Tribune, 11/08/05). Jika tembok ini selesai, sekitar 55 ribu orang Palestina akan kesulitan mencapai akses sekolah dan rumah sakit mereka. Tembok bsar ini juga menghalangi kebebasan rakyat Palestina untuk beribadah di Gereja Kota Tua (Holy Sepulcher) dan Masjid al Aqsa.

Setidaknya ada sekitar 3500 rumah lagi yang akan dibangun mengepung Jerusalem Timur. Ribuan rumah itu merupakan bagian mega proyek Maale Adumim, pemukiman terbesar di Tepi Barat. Untuk itu, Israel harus mendemolisasi rumah-rumah Palestina, baik Muslim maupun Kristen. Ekpansi pemukimaan itu dimaksudkan untuk memperkuat posisi tawar Israel tentang masa depan Jerusalem pada perundingan peta jalan selanjutnya.

HInd Khoury, sang menteri luar negeri Palestina, mengatakan bahwa penarikan mundur Israel dari JG merupakan upaya pengalihan perhatian dunia terhadap apa yang sebenarnya terjadi di Jerusalem. Israel menggunakan konsesi dari JG untuk mengeluarkan status Jerusalem dari pembahasan dalam perundingan peta jalan.

Amerika Serikat, nampaknya tidak akan mampu membendung langkah ekspansi pemukiman di Jerusalem itu, meskipun Bush sudah mengingatkan Israel jauh hari (Bush warns Israel over West Bank, BBC, 11/04/05). Pemerintahan Palestina juga tidak berdaya merintangi hasrat Israel tersebut.

Masa depan perdamaian Palestina-Israel masih digelayuti mendung tebal. Klaim monopoli Israel atas Jerusalem merupakan aspek penghalang terbesar upaya-upaya perdamaian yang disponsori dunia.

Advertisements

0 Responses to “Jalur Gaza pascapenarikan Mundur Israel”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 174,674 hits

Top Clicks

  • None
August 2007
M T W T F S S
« Jan   Oct »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
Add to Technorati Favorites

%d bloggers like this: