17
Aug
07

KRISIS KONSTITUSI IRAQ

Oleh:
Wawan Kurniawan
Pendiri Kajian Internasional Strategis (KAINSA)

Transisi demokrasi Irak pasca penggulingan Saddam Husein oleh invasi AS dan sekutunya mencapai tahap yang menentukan. Setelah pemilu nasional 30 Januari lalu, pemilihan presiden 4 Juni, dan pembentukan kabinet sesudahnya, satu poin sangat penting lagi yang akan dihadapi rakyat adalah pembahasan mengenai konsitusi permanen Irak.

Konstitusi permanen akan memberikan legitimasi bagi semua proses dalam kontemporisasi geopolitik mulai dari penyerbuan AS (Maret 2003) hingga pasukan asing keluar dari Irak-dijadwalkan pada 2006. Diharapkan dengan konstitusi baru itu, krisis politik dan kekerasan di Irak dapat segera diakhiri, setidak-tidaknya berkurang.

Sekadar mengingat kembali, Irak sekarang masih menggunakan konstitusi sementara TAL (Transision Administrative Law) yang diberlakukan sejak 4 Maret 2004 oleh Dewan Pemerintahan Irak (IGC) semasa PM Iyyad Alawi. Untuk beberapa hari ke depan, tepatnya 15 Agustus, diharapkan draft konstitusi permanen-yang telah diperdebakan selama tiga bulan-dapat segera dihasilkan oleh Majelis Konstitusi Irak.

Beberapa pihak yang berkepentingan seperti Sunni, Syiah, dan Kurdi bertekad akan memenuhi tenggat waktu itu. Sebab jika majelis-yang beranggotakan 71 orang-tidak dapat menyelesaikan-rancangan itu, majelis dapat mengusulkan petisi tambahan waktu 6 bulan (Important Dates in 2005, cfr.org, 31/01/05). Itu berarti menambah waktu bagi kekerasan dan teror yang selama ini terjadi. Ujung-Ujungnya, akan semakin banyak jatuh korban. Penambahan korban (dari pihak manapun) adalah suatu hal yang sangat ingin dihindari terutama oleh Syiah telah menjadi ruling party. Sebab itu akan mendelegitimasi pemerintah.

Bila draf konstitusi dapat diselesaikan tepat waktu, parlemen akan segera meratifikasi dan mengajukan draft tersebut untuk direferendumkan pada 15 Oktober 2005.

Beberapa Masalah Krusial

Ada beberapa masalah penting yang harus diselesaikan dalam pembahasan draf konstitusi baru ini yang sebenarnya merefleksikan pertarungan kepentingan antara Sunni, Syiah, dan Kurdi. Pertama, masalaha nama. Sunni menginginkan nama “Republik Iraq” (al Jumhuriyyah al Iraqiyyah). Kurdi lebih menyukai “Republik Ferderasi Iraq” (al Jumhuriyya al Iraqiyyah al Itihadi). Syiah condong ke “Republik Federasi Islam Iraq (al Jumhuriyyah al Iraqiyyah al Itihadiyyah al Islamiyyah). Rupanya, Syiah ingin meniru nama Iran. Namun, nama “Republik Iraq” akan berpeluang banyak dipilih karena dianggap netral dan tidak sektarian.
Kedua, posisi agama dan negara. Dua partai besar Syiah, SCIRI (Ayatullah Ali Sistani dan Abdul Aziz al Hakim)dan Partai Dawa (PM Ibrahim al Jaafari) menginginkan model pemerintahan Iran ditranspalasikan dalam negara Irak. Suatu hal yang dapat dimengerti mengingat keduanya selama ini memperoleh bantuan penuh (politik, uang, dan senjata) dari Iran. Namun, usaha itu ditentang oleh Kurdi dan beberapa partai Sunni. Mereka beralasan, dalam TAl disebutkan agama sebagai salah satu sumber legislasi (a source) bukan tunggal dan utama (the source).
Penolakan aliansi Kurdi-Sunni didukung oleh kaum feminis Iraq, termasuk Menteri Urusan Wanita Azhar as Shakley, Safia Suhayl (duta besar Iraq untuk Mesir) dan beberapa tokoh sekuler Syiah seperti Ahmad Chalabi dan Iyad Allawi. Para penentang ini beranggapan sejak tampilnya kekuatan Islam menjadi penguasa, hak-hak perempuan menjadi terbatas. Selain itu, TAl menyebutkan bahwa seperempat anggoa parlemen haruslah perempuan dan aktivitas-aktivitas perempuan harus perbanyak.
Ketiga, identitas nasional. Kurdi menuntut dimasukkannya Kurdi sebagai identitas nasionalisme Iraq, bukan hanya Arab (Sunni dan Syiah) saja. Termasuk dalam hal ini adalah pengakuan bahasa Kurdi sebagai bahasa nasional, di samping bahasa Arab.
Perlu dirumuskan juga eksistensi Iraq dslam kancah internasional. Apakah Iraq sebagai bagian dari Dunia Arab seperti yang diinginkan Sunni. Atau menjadi bagian Kurdi Raya yang diimpikan ratusan tahun lamanya oleh Kurdi. Atau seprti keinginan Syiah: Iraq adalah bagian dari komunitas Islam internasional.
Keempat, alokasi dan pengelolaan sumber daya alam. Kurdi menginginkan kontrol penuh atas wilayah Kirkuk, suatu wilayah kaya minyak di bagian utara Iraq. Demikian juga Sunni atas wilayah kaya minyak di selatan.
Dengan adanya ladang minyak di wilayahnya, Kurdi dapat membentuk milisi elite (pershmerga) dengan kemampuan tempur dan senjata terbaik di seluruh Iraq (PlanB, Seymour Hersh, New Yorker, 28 Juni 2004)
Kelima, bentuk federasi. Kurdi dan Syiah sama-sama menginginkan bentuk federasi yang pasti menjamin otonomi propinsi. Kedua sangat berkepentingan dengan bentuk negara ini mengingat daerah yang mereka kuasai merupakan sumber minyak utama Iraq. Segala usaha mereka lakukan termasuk berkaitan dengan apa nama “Republik Iraq” dikaitkan: apakah dengan “federasi” atau “federasi islam” seperti dalam masalah pertama di atas
Usaha itu ditentang keras oleh Sunni. Karena jika federasi dicantumkan dalam draf dan bila terwujud, Sunni hanya akan mengelola suatu kawasan yang disebut “Gurun Anbar” yang miskin minyak. Sunni akan kehilangan kemakmuran yang telah dinikmati selama 30 tahun di bawah kepemimpinana Saddam Husein.
Keenam, kekuasaan presiden. Bagi Kurdi dan Sunni, presiden Iraq seharusnya memiliki kekuasaan penuh atas jalannya pemerintahan. Suatu hal yang ditolak Syiah mengingat posisi Ibrahim al Jaafari sebagai PM Iraq sekarang.
Mencermati masalah-masalah di atas dapat dibayangkan betapa rumitnya pertarungan kepentingan di majelis pembuat konstitusi. Sebagaimana permainan segitiga halma, aliansi-aliansi terbentuk dengan kepentingan-kepentingan tersendiri. Irisan-irisan keinginan tak beraturan. Belum lagi keinginan AS dan Dunia Arab.
Kepentingan AS
Amerika Serikat (AS) sendiri juga memiliki kepentingan besar dalam penyuksesan konstitusi Irak. Jika referendum 15 Oktober menyetujui konstitusi baru itu, langkah AS untuk memulangkan tentaranya pada awal 2006 semakin mudah. Namun bila tidak, pemerintahan Ibrahim Al Jaafari akan jatuh dan pemilu harus diulang lagi. Itu berarti Irak akan semakin chaos dan tentara AS akan semakin lama berada di Irak.
Di sisi lain, dukungan publik AS sekarang tidak sebesar saat invasi dimulai. Suara-suara kontraperang semakin nyaring terdengar.Beberapa suratkabar terkemuka pendukung perang mulai mereorientasi beritanya.
Bukan Langkah Akhir.
Masih ada dua tahapan penting sekaligus menentukan masa depan Iraq pasca 15 Agustus nanti. Pertama, referendum 15 Oktober mendatang yang amat menentukan. Karena dalam TAl disebutkan, referendum dapat ditolak bila tidak memperoleh suara yang signifikan di (minimal) tiga propinsi. Ironisnya, Sunni yang menjadi minoritas di Iraq ternyata menjadi mayoritas di tiga provinsi di bagian tengah Iraq. Ini adalah “kartu truf” Sunni. Dapat dipastikan bila draf konstitusi tidak sesuai dengan aspirasinya, Sunni akan memainkan kartu penentunya itu.
Kedua, pemilu 15 Desember 2005. Jika referendum menghasilkan kemenangan konstitusi 15 Agustus, Iraq akan menyelenggarakan pemilu untuk pemerintahan permanen. Tetapi, bila referendum gagal, pemilu 15 Desember digunakan memilih parlemen transisi. Konstitusi baru disusun dalam waktu setahun setelah parlemen transisi terbentuk.
Suatu siklus politik yang masih panjang dan merupakan harga mahal dalam sebuah upaya rebuilding nation. Semoga tidak menghasilkan lebih banyak korban lagi. Kita lihat saja.

Advertisements

2 Responses to “KRISIS KONSTITUSI IRAQ”


  1. 1 sCeRet
    May 4, 2008 at 12:33 pm

    lebih rinci lagi

  2. 2 kainsa
    May 7, 2008 at 10:23 pm

    Sy usahakan, mas.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 174,651 hits
August 2007
M T W T F S S
« Jan   Oct »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
Add to Technorati Favorites

%d bloggers like this: