17
Aug
07

PERTEMUAN SEGITIGA PETRA

Oleh:
Wawan Kurniawan
Pendiri Kajian Internasional Strategis (KAINSA)

Kamis kemarin, sebuah pertemuan tidak resmi terjadi di sebuah kota wisata Petra, Jordania. PM Israel Ehud Olmert dan Presiden Palestina Mahmoud Abbas bertemu dalam sebuah jamuan pagi dengan Raja Yordania Abdullah II (BBC, 22/6).

Pertemuan informal itu merupakan pertemuan pertama Olmert-Abbas sejak Olmert menjadi PM dan Hamas menjadi pemenang dalam pemilu Palestina 25 Januari lalu. Tidak ada kejelasan tentang siapa yang berinisitaif memulai pertemuan itu.

Menurut BBC, Abbas mendesak Israel agar segera memulai perundingan damai dengan Palestina, namun Israel menolaknya dengan alasan “perlu waktu untuk persiapan”. Sebuah jawaban diplomatis yang menyiratkan Israel tidak cukup minat berunding dengan Palestina. Hasrat besar Abbas ditangapi dingin oleh Olmert. Akhirnya, pertemuan itu (hanya) menghasilkan suatu kesepakatan pemulaian perundingan resmi dalam beberapa pekan ke depan.

Kelihatannya, sebagai sebuah kegiatan informal, pertemuan itu sekadar menjadi lobi tanpa hasil dan sekaligus mengurangi ketegangan antara ketiganya. Hubungan Palestina-Jordania sempat tegang karena penyelundupan senjata bulan lalu. Sementara Israel masih melakukan pembunuhan demi pembunuhan dengan alasan operasi pencarian para militan.

Kebingungan Abbas

Tidak bisa dipungkiri kenyataan bahwa Abbas sekarang berada di posisi lemah dan terjepit. Di dalam negeri, partainya Abbas, Fatah, kalah dalam pemilu. Sementara di luar negeri, tidak populer lagi. Dunia internasional terutama AS dan Dunia Arab tidak begitu menghiraukan mereka lagi. Fatah sendiri tidak bisa diharapkan banyak (lihat Hussein Agha dan Robert Malley, The Lost Palestinians, New York Review of Books, 9/6/05). Ketergantungan Fatah kepada Abbas jauh lebih besar dibandingkan Abbas kepada Fatah. Karenanya, Abbas berusaha melakukan manuver-manuver untuk memperoleh kembali basis-basis penguatnya dalam konstektual politik kekinian Palestina.

Kekuasaan Abbas sebagai presiden terbatas. Abbas memang bisa melakukan negosiasi dengan siapa pun, tetapi dia tidak mempunyai organ pelaksana di bawahnya karena Hamas sekarang memegang pemerintahan. Abbas juga turut mengontrol aparat keamanan, tapi ia harus berbagi kuasa dengan menteri dalam negeri yang dipegang Hamas. Wewenang Abbas hanya bisa mengendalikan pasukan pengawal presiden (Force 17) saja.

Terbetik kabar, Abbas meminta izin dari Israel untuk memperbesar jumlah pasukan pengawalnya dari 2 ribu menjadi 10 ribu (Ha’aretz, 28/5). Ekspansi pasukan ini mendapat bantuan senjata dari Israel melalui negara ketiga (Ha’aretz, 29/5). Ini menjawab kontroversi klaim Israel yang mengirim senjata ke Palestina (Mail & Guardian, 26/5) meskipun disangkal Fatah.

Jika itu benar, tentu saja Israel memiliki perhitungan sendiri dari rivalitas internal ini. “Transfer senjata itu membuat Abu Abbas bisa melakukan deal dengan Hamas,” tulis Ha’aretz dari sumber seorang pejabat pertahanan Israel.

Tentang referendum untuk pengakuan hak Israel yang digagas oleh Abbas dan akan dilaksanakan pada 26 Juli besok, hal itu tidak ada basis legitimasinya dalam konstitusi Palestina atau perjanjian-perjanjian sebelumnya. Abbas menjadikan dokumen penjara sebagai dasar penyelenggaran referendum. Dokumen penjara merupakan kesepakatan bersama para aktivitis Palestina yang ada di penjara Israel baik dari Fatah, Jihad Islam, maupun Hamas. Dokumen yang berisi 18 point ini merekomendasikan persatuan nasional. Belakangan, para aktivis Hamas mencabut dukungannya dari dokumen itu. Ironisnya, Israel tidak apresiatif dengan referendum itu. Bahkan, Israel menganggapnya sebagai friksi internal Palestina belaka (Financial Times, 10/6).

Membaca Langkah Olmert

Olmert berulang kali menyatakan akan menegaskan batas permanen Israel secara sepihak (unilateral) bila tidak ada teman negoisasi yang layak. Olmert ingin batas permanen Israel selesai pada 2010 (David Makovsky, Olmert’s Bold Stand, USA Today, 19/5). Namun, kurangajarnya Olmert adalah ia tidak menginginkan teman runding yang sepadan. Olmert menganggap posisi Abbas lemah (tidak bisa diharapkan untuk menghentikan teror). Sementara, Hamas dicap sebagai organisasi terors. Artinya, jauh-jauh hari Olmert memang ingin bertindak unilateral.

Olmert cukup percaya diri karena telah mendapat dukungan Bush selama kunjungannya ke AS kemarin (24-28 Mei). Boleh jadi dukungan itu bisa berupa dana segar. Lalu bagaimana dengan waktu yang tersisa sekitar 4 tahun ke depan. Olmert menyiasatinya dengan memperkeruh pertarungan internal Palestina.

Cara lainnya adalah dengan meradikalisasi Hamas melalui “politik kelaparan” dengan embargo bantuan dan melalui pembunuhan-pembunuhan warga Palestina baik aktivis maupun warga biasa. Pada 19 Mei, Israel membunuh Muhammad Dadouh-seorang komandan Jihad Islam dan 4 orang sipil.

Yang paling tragis adalah pembunuhan satu keluarga (ayah, ibu, dan 5 anak) yang sedang bersantai di pantai Beit Lahiya, Gaza pada 9 Juni sore dengan tembakan artileri yang diduga ditembakkan dari kapal patroli Israel. Korban lainnya, 32 orang terluka, termasuk 13 anak. Hari sebelumnya, Israel membunuh 4 aktivis termasuk Jamal Abu Samhadana, pejabat keamanan Palestina.

Olmert berusaha menstimulasi Hamas agar membalas. Semakin hebat balasan Hamas maka semakin besar legitimasi Olmert untuk menetapkan batas permanen dengan alasan keamanan.

Batas permanen Israel ini berlaku di Tepi Barat yang memiliki perbatasan berliku-liku. Bisa dipastikan batas itu akan menusuk jauh ke dalam wilayah Tepi Barat dan mengeratnya menjadi enclave-enclave dengan begitu banyak checkpoint (pos pemeriksaan).

Jika dihitung, batas permanen merampas 46 persen (sekitar 2685 km2) wilayah Tepi Barat: 7,4 persen dari perbatasan lama (Green Line 1967), 2,1 persen blok, 8 persen tanah di belakang tembok, dan Lembah Jordan 28,5 persen.

Batas permanen ini juga semakin mengamankan pemukiman Ma’aleh Adumim dan penguasaan Lembah Jordan. Dalam East 1 Plan (Rencana E-1), Ma’aleh Adumin diperbesar hingga mencapai Jerusalem Timur. Bila itu bisa diwujudkan, lengkap supaya tiga pemukiman Yahudi melingkari Jerusalem Timur: Givat Ze’ev di utara, Ma’aleh Adumim di timur, dan Etzion di selatan. Kenyataan ini mempertegas bahwa Israel tidak akan mengembalikan Jerusalam Timur ke Palestina.

Luas Lembah Jordan sekitar 1664 km2. Selain strategis sebagai pertahanan, Lembah Jordan juga menjadi sumber air bagi daerah sekitarnya (lihat Hillel Frisch, Water and Israel’s National Security, Begin-Sadat Center for Strategic Studies, 2/7/02).

Batas permanen berupa tembok ini benar-benar akan menjadi pencerai-berai wilayah-wilayah Palestina di Tepi Barat.. Dipastikan akses-akses kehidupan semisal pertanian, tempat kerja, rumah sakit, sekolah dan tempat suci akan terhambat. Nasib orang Palestina akan mengenaskan; terasing di tanah airnya sendiri.


0 Responses to “PERTEMUAN SEGITIGA PETRA”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 168,926 hits
August 2007
M T W T F S S
« Jan   Oct »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
Add to Technorati Favorites

%d bloggers like this: