17
Aug
07

Revolusi (tak lagi) Jingga

Setahun Lebih Perubahan di Ukraina
Revolusi (tak lagi) Jingga

Oleh:
Wawan Kurniawan
Pendiri Kajian Internasional Strategis (KAINSA)

Pemilu parlemen (Verkhovna Rada) Ukraina 26 Maret 2006 telah selesai dengan menghasilkan lima kekuatan besar. Partainya Viktor Yanukovych yang berkiblat ke Moskow, Partai Wilayah (Partiya Regioniv), memperoleh kemenangan besar: 186 kursi. Sementara itu, dua kubu pro-Barat, yaitu Blok Yuliya Tymoshenko dengan 129 kursi di posisi kedua dan Blok Ukraina Kita (Nasha Ukrayin) yang dipimpin presiden Ukraina sekarang, Viktor Yushchenko, menempati rangking ketiga dengan 81 kursi. Partai Sosialis menduduki urutan empat dengan 33 kursi. Terakhir, Partai Komunis dengan 21 kursi.

Sebagai perbandingan dengan pemilu 31 Maret 2002, komposisinya: Blok Ukraina Kita (112 kursi), Untuk Ukraina Bersatu (102), Partai Komunis (66), Partai Sosialis (24), Partai Demokratik Sosial Bersatu (24), dan Blok Yuliya Tymoshenko (21). Waktu itu, Partai Wilayah include dalam Untuk Ukraina Bersatu.

Dengan melihat hasil pemilu 2002, tidak heran bila kelompok pro-Barat yang dimotori oleh Yushchenko dan Tymoshenko berani menggelar Revolusi Jingga pada 2004. Ditambah dukungan AS, Uni Eropa, Polandia, Georgi, dan negara Baltic (Latvia, Lithuania, Estonia) serta dukungan tradisional dari wilayah barat dan tengah plus blow-up serangan racun dioxin pada dirinya, Yushchenko terpilih menjadi presiden pada tahap kedua pemilu presidensial 2004.

Pertarungan Sesama

Namun, setelah setahun lebih, Revolosi Jingga telah pudar dan kehilangan relevansinya. Revolusi yang membawa slogan anti-korupsi sealur dengan slogan kebebasan, demokrasi politk dan ekonomi yang digagas Yuschencko itu, tidak membawa perubahan yang signifikan bagi Ukraina. Pemerintah dianggap gagal mengatasi koruspi, memajukan ekonomi, dan mendekatkan diri kepada Uni Eropa (Lionel Beehner, One Year After Ukraine’s ‘Orange Revolution’, Council on Foreign Reletions, 22/11/05).

Pertumbuhan ekonomi sebesar 12 persen pada 2004 terjun bebas menjadi 5 persen pada lima bulan pertama 2005 (Anders Aslund, Betraying a Revolution, Washington Post, 18/05/05). Inflasi menjadi 13,9 persen (CIA World Factbook 2005). Harga minyak, daging, dan gula naik cepat. Banyak investor Barat lari karena kampanye reprivatisasi pemerintah.

Kondisi itu diperparah dengan pertarungan politik sesama (political infighting) pendukung Revolusi Jingga. Tymoshenko (PM waktu itu) dibantu Alexandra Urchin-kepala dinas keamanan Ukraina SBU (Sluzhba Bespeky Ukrayiny) melawan Yushchenko dan Petro Poroshenko (kepala Dewan Pertahanan dan Keamanan Nasional sekaligus kepala perusahaan gas RosUkrEnergo).

Berdasarkan penyelidikan SBU-yang sejak 22 Maret 1992 mempunyai kewenangan memberantas korupsi- pada awal Agustus 2005, Tymoshenko-yang oleh media dijuluki Joan of Arc of the Orange Revolution-menyatakan RosUkrEnergo sebagai perusahaan kriminal karena terbukti menghilangkan uang negara satu milyar dolar dalam transaksi bisnis Gazprom (Rusia) dengan Naftohaz (Ukraina). Poroshenko menyerang balik dan menyatakan SBU sebagai bahaya terhadap keamanan negara. Oleh karena itu, SBU perlu perombakan besar-besar.

Yushchenko dan Poroshenko menuduh balik dengan menpertanyakan hubungan Timoshenko dan Private Bank dalam reprivatisasi pabrik Nikopol Ferroalloy.

Puncak pertarungan terjadi saat Yuschenko memecat Tymoshensko pada 8 September 2005. Menurut wanita yang dikatakan Forbes (28/07/05) sebagai wanita paling berpengaruh di dunia setelah Condoleezza Rice dan Wu Yi, dia dipecat karena menolak memecat kepala SBU.

Setelah pemecatan itu, Yushchenko makin memperdalam jurang permusuhannya dengan menuduh Tymoshenko menggunakan kekuasaannya untuk menghapus hutang perusahaan yang dipimpinnya, United Enegry Systems (EUS), sebesar 1,2 milar dolar.

Konflik dua elite ini masih berlanjut sampai di parlemen pada saat voting (20-22 September) atas Yuriy Yekhanurov, calon pengganti PM yang diajukan Yushchenko.

Hasil poling IFES dan Democratic Initiatives Foundation yang dimuat di angus-reids.com (Ukrainians Disappointed with Orange Revolution, 04/01/06) menunjukkan stabilitas yang dinilai menurun oleh rakyat Ukraina. Di sisi lain, korupsi masih sama dengan rezim sebelumnya

Beberapa Kemungkinan Koalisi

Pemilu Maret kemarin menjadi penting mengingat berdasarkan hukum baru yang berlaku 1 Januari 2006, perdana menteri mendapat kekuasaan lebih besar dari era sebelumnya.

Jika melihat hasil pemilu Maret, Yanukovych bersama Partai Sosialis dan Partai Komunis-jika mau-sudah bisa membentuk pemerintahaan. Namun konsekuensinya, kubu oposisi (gabungan Ukraina Kita dan Blok Yuliya Tymoshenko) menjadi besar: 210 kursi. Jika Partai Sosialis atau Partai Komunis membelot, bisa dipastikan kejatuhan Yanukovich.

Koalisi Yuschenko dan Timoshenko masih dimungkinkan mengingat kesamaan di antara mereka: pengagum nilai-nilai Barat dan pengusung Revolusi Jingga. Tinggal bagaimana “merayu” kubu Sosialis dan atau Komunis. Yang jadi pertanyaan; mengingat kekuasaan PM mendatang yang dipastikan lebih besar, apakah Yushchenko dapat bekerjasama lagi dengan Tymoshenko mengingat keduanya berkonflik akut. Tymoshenko sendiri mematok harga mati: kursi PM.

Keduanya juga akan kembali bersaing dalam penguasaan minyak dan gas mengingat mereka sama-sama memiliki patron-klien (perusahaan) di kedua sumber kekayaan itu. Konsekuensi lain adalah kekuatan oposisi (Yanukovych) yang cukup besar: sepertiga parlemen.

Pilihan terakhir, koalisi YY (Yanukovyc dan Yushchenko). Meski agak riskan, mengingat keduanya saling menjatuhkan pada Revolusi Jingga, pilihan itu menjadi menarik karena menjamin kestabilan politik bagi keduanya. Timoshenko tidak mungkin menjalin koalisi dengan Yanukovych karena jauh-jauh hari dia sudah menolaknya.

Naga-naganya, koalisi YY inilah yang menjadi pilihan Yushchenko. Ada beberapa indikasi yang mengarah kesitu. Pertama, lawatan resmi Yuschenko untuk pertama kalinya justru mengarah ke timur. Yushchenko mengunjungi Moskow (04/01/05), lalu ke Parlemen Eropa di Strasbourg (23/02/05) dan AS (awal April).

Kedua, Yekhanurov menjanjikan kestabilan politik. Itu berarti menoleh pada kekuatan asing terdekat (Rusia). Dia menyatakan dukungan pada rencana Ruang Economic Tunggal (SES) yang melingkupi Belarus, Kazakhtans, Rusia, dan Ukraina (Oleg Varfolomeyev, Ukrainian Prime Ministes Designate Promises Stability, Eurasia Daily Monitor, Vol 2, No 128, 12/09/05).
Pemilihan Yekhanurov sendiri gagal pada voting pertama (20/09/05) di parlemen dengan beda 3 suara (223 ya, 226 tidak). Namun, ia menang pada voting kedua (22/09/05) dengan kumulatif 289 suara mendukungnya. Kemenangan itu berkat dukungan kubu Yanukovych. Yekhanurov dekat dengan Yanukovych sebagai sesama klan Donetsk.

Ketiga, Rusia dan gas alamnya turut menjadi faktor menentukan kemungkinan koalisi ini. CIA World Factbook 2005 menyatakan Ukraina sebagai negara importer gas terbesar keempat dan pemakai gas terbesar keenam di dunia. Gas sangat penting bagi jalannya industri Ukraina.
Akibat pemotongan suplai gas selama tiga hari oleh Rusia, ekonomi Ukraina mengalami kegoncangan. Pemerintahan Yekhanurov menjadi kolaps karena parlemen (digalang oleh kubu Tymoshenko) menolak harga baru 95 dolar per 1000 kubik meter (tcm) yang telah disepakati Rusia-Ukraina sebelumnya. Padahal itu adalah harga kompromi mengingat Rusia meminta harga standar, 230 dolar per tcm.

Kenyataan bahwa Belarus, sekutu Rusia lainnya, yang kini menikmati harga 48 dolar per tcm tentu menjadi keinginan yang sama bagi Ukraina.

Keempat, keinginan bergabung dengan Barat (Uni Eropa dan NATO) yang makin menipis. Belum ada kepastian kapan Ukraina dibolehkan bergabung. Ditambah lagi, penolakan di Perancis dan Belanda terhadap Konstitusi Eropa.

Tekanan Barat kepada Rusia akibat penghentian suplai gas Rusia semata-mata hanya untuk kepentingan Barat sendiri, bukan membantu Ukraina. Ukraina menjadi strategis karena hampir 80 persen pasokan gas Rusia untuk Barat melewati Ukraina.
Syarat mengubah model ekonomi Rusia untuk bisa bergabung dengan Barat (Wall Street Journal, 30/06/05), tidak bisa dilakukan oleh Yushchenko. Industri yang tersentral di kawasan timur itu sudah terbentuk puluhan tahun lamanya.

Lagian sejak lama, Yushchenko berkolaborasi dengan kaum industriawan melalui Victor Pinchuk (menantu Leonid Kuchma) yang dikenal sebagai goodfather kota industri Dniepropetrovsk (Frankfurer Allgemeine Zeitung, 28/12/04).

Kelima, koalisi YY merefleksikan persatuan wilayah barat (nasionalis) dan wilayah timur (pro-Rusia). Gagasan persatuan wilayah barat dan timur dilontarkan Yekhanurov di parlemen setelah voting kemenangannya.

Masih ada waktu hingga 10 Juni bagi Yushchenko untuk menetapkan dengan siapa dia bisa berkoalisi. Sekarang, Yuschenko lagi asyik dengan keterambangan situasi (see-saw policy).
Nasib negara yang dikatakan Zbigniew Brzezinski (The Grand Chessboard: American Primacy and its Geostrategic Imperatives, 1997) memiliki “important geopolitical pivot” ini memang tergantung sepenuhnya pada Yushchenko.

Advertisements

0 Responses to “Revolusi (tak lagi) Jingga”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 174,674 hits

Top Clicks

  • None
August 2007
M T W T F S S
« Jan   Oct »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
Add to Technorati Favorites

%d bloggers like this: