18
Aug
07

Aktualisasi, Industrialisasi, dan Sindrom Cinderella

Oleh:
Wawan Kurniawan
Pendiri Kajian Internasional Strategis (KAINSA)

Keberhasilan penyelenggaraan Akademi Fantasi Indosiar telah menjadi pionir bagi dibuatnya acara-acara semodel, misalnya Indonesian Model, Sang Lelaki, Indonesian oleh RCTI, MOKA (Pemilihan Model Majalah Kawanku) di TV7, Nescafe Musik Asik Get Started di Trans TV, Konser Dangdut Indonesia (KDI) di TPI, dan Indonesia Star di Metro TV, dan sebagainya. Acara-acara reality show menajdi tren baru yang menarik ribuan anak muda untuk mendaftar.

Hanya ada satu alasan yang bisa menjawab fenomena maraknya acara-acara di atas, yaitu keuntungan (profit). Meskipun stasiun teve sebagai pihak penyelenggara bisa berkamuflase dengan alasan-alasan normatif, misalnya untuk menjaring bintang masa depan, mengaktualisasikan talenta, wahana ekpresi anak muda, demi pariwisata negeri, tetap tidak dapat menutupi the true reason yaitu bayangan keuntungan besar yang pasti datang.

Sebenarnya, berapa keuntungan yang bisa didapat stasiun teve dari acara-acara seperti ini. Dari AFI yang dimulai pada Desember 2003, Indosiar memperoleh laba bersih empat miliar rupiah hanya dalam tempo dua jam. Indosiar harus mengeluarkan biasaya sebesar Rp 500 juta hingga 750 juta ketika mensosialisakan AFi ke daerah-daerah. Sosiliasi itu, yang dalam bentuk konser, di Ygyakarta menghabiskan Rp 500 juta, dan Rp 700 juta di medan. Indosia tidak menarget keutungan dari penjualan tiket karena dibeberapa daerah konser AFI kurang diminati. Indosiar hanya mengandalkan iklan dari teve.

Acara-acara off air ditayangkan secara live. Jika jeli mengamati, dalam satu jam penayangan, tampil sekitar delapan kali jeda iklan. Untuk satu kali jeda dipenuhi sekitar 15 hingga 17 spot iklan. Satu spot iklan memiliki durasi kurang lebih 30 detik. Iklan yang tampil di prime time (waktu utama, biasanya antara jam 7 malam sampai 9 malam, yang disebut sebagai wakti keluarga) dipatok oleh stasiun teve dengan harga sebesar 20 juta per spot.

Kalkulasi total menghasilkan perhitungan bahwa Indosiar memperoleh Rp 5,12 miliar! Bila dikurangi dengan biaya produksi sebesar 750 juta, Indosiar masih memegang untung Rp 4,4 miliar. Itu dari konser utama AFI saja. Belum lagi dengan acara add on (tambahan) seperti “Up Close and Personal” dan “Diary AFI”. Prgram “Diary AFI” menghasilkan laba sekitar Rp 750 juta per minggu. Belum dihitung share of profit dengan Visitel sebagai penyelenggara SMS dan premium call. Kita tahu ada ribuan SMS (sekitar 30.00-40.000) per pekan yang masuk sejak AFI digelar. Pada final AFI ada 100.000 SMS yang masuk. Total SMS yang mengalir adalah 5 juta SMS! Atau juga sponsor konsor, penjualan merchandise dan CD/kaset.

Singkatnya, AFI adalah program murah, berlaku masif, berdampak pskologis berat, dan menghasilkan keuntungan luar biasa. Tak heran, Indosiar melanjutkan sekuel hingga AFI 3. Stasiun teve lainnya tidak mau kalah dan membuat acara-acara serupa. Tentu saja dengan sedikit “improvisasi” di dalamnya.

Keuntungan yang berlipat ditambah homogenisasi acara di seluruh stasiun teve menunjukkan proses industrialisasi yang ujung-ujungnya adalah komersialisasi dan eksploitasi plus mendramatisir. Adalah benar bila Aldous Huxley mengatakan tentang indutrialisasi sebagai ekspolitasi tersistematik (Industrialism is the systematic exploitation). Unsur komersialisasi tercermin pada keuntungan yang (pasti) diperoleh. Anasir eksploitasi terrefleksi pada dominannya olah tubuh (wajah yang cantik, tampan, dan bodi yang seksi) pada semua sesi acara. Bagi yang tidak cantik atau tampan harap minggir dengan sukarela. Vokal hanyalah pelengkap saja. Kemiskinan dan penderitaan di masa kecil atau di masa lalu menjadi unsur tambahan yang diramu sehingga acara-acara ini tampil melankolis. Pada masyarakat yang mudah jatuh empati seperti masyarakat kita, cerita suffering of idol (penderitaan sang tokoh) adalah daya tarik tersendiri. Seperti Veri yang ganteng, vokal oke, dan ada kemiskinan di dalamnya.

Di sisi lain, antusias ribuan anak muda untuk mengikuti acara-acara akademi adalah sisi keinginan dan kebutuhan dari manusia yang berkelindan antara, keinginnan mendapat respons dan keinginan memperoleh pengalaman baru (Thomas dan Florian Znaniecki). Atau kebutuhan berkuasa (ketika menjadi kaya) dengan kebutuhan berprestasi (saat menjadi populer) yang dipaparkan oleh David McClelland. Atau Abraham Maslow yang menjelaskanya sebagai kebutuhan akan perhargaan (esteem need) dan kebutuhan untuk aktualisasi diri (self actualization).
Akumulasi dari semua itu adalah perasaan “Wah, ini saatnya untuk tampil. Siapa tahu, beruntung jadi juara”.

Pada sisi lain juga, kita tahu kondisi bangsa ini sekarang. Lapangan kerja susah dicari, angkatan kerja terus bertambah tiap tahun, pendidikan mahal, tuntutan keahlian tertentu, dan upah dibawah standar adalah trigger factor bagi maraknya partisipasi anak muda dalam mimpi-mimpinya. Bila keahlian tidak ada, pendidikan masih rendah, vokal lumayan, punya bodi sedikit oke, kenapa tidak ikut akademi. Yang terbayang, “Kalau menang, bisa terkenal. Dapat kontrak, bisa show, atau main film. Akhirnya bisa kaya.”

Itulah Cinderella Complex. Sebuah sindrom yang menghinggapi mereka yang ingin cepat kaya tapi melalui jalan pintas. Mau sukses tanpa kerja keras.

Bagi saya, Akademi-Akademi Menuju Bintang adalah muara pertemuan aktulisasi anak muda (plus Sindrom Cinderella-nya) dengan komersilisasi dan ekploitasi stasiun teve menjadi apa yang disiniskan oleh rakyat Amerika dengan “Fools’ names and fools’ faces are often seen in public places”.


1 Response to “Aktualisasi, Industrialisasi, dan Sindrom Cinderella”


  1. August 29, 2014 at 12:55 am

    I’m interested in making my own music blog and I’m constantly looking through many music blogs throughout the day finding new music first before other people that I know. But how exactly do those blogs find that music first? Can I really start by just posting the music I find on other blogs?.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 168,926 hits
August 2007
M T W T F S S
« Jan   Oct »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
Add to Technorati Favorites

%d bloggers like this: