18
Aug
07

Korupsi yang (Kian) Akut

Oleh:
Wawan Kurniawan
Pendiri Kajian Internasional Strategis (KAINSA)

Transparency International Indonesia (TII) memberi hadiah akhir tahun yang pahit kepada bangsa Indonesia. Setelah prestasi internasional “terhormat” yaitu posisi terkorup keenam dari 159 negara, TI membidik lebih dalam kepada institusi-institusi internal. Hasilnya, partai politik merupakan lembaga terkorup di negeri ini diikuti oleh parlemen, kepolisian, bea cukai, pengadilan, kejaksaan, dan pajak (Jawa Pos, 24/12/05). Sedangkan pada 2004, TII menempatkan bea cukai dan pengadilan menjadi pertama dan kedua.

Bila dikomparasikan laporan TII pada awal tahun 2005 dengan subyek yang sama yang menempatkan bea cukai, kepolisian, dan TNI dalam posisi satu, dua, dan tiga (Jawa Pos, 18/02/05), ada institusi-institusi baru yang masuk ke gelanggang korupsi dan anehnya (lebih tepat dikatakan ironis) langsung leading (memimpin).

TNI telah ter(di)pentalkan dari tiga besar. Yang perlu diperhatikan, yayasan-yayasan sosial ekonomi yang bergerak di bawah naungan TNI masih mengelola dana yang cukup besar. Ada dugaan kourpsi juga telah terjadi di yayasan-yayasan tersebut.

Bea cukai, pengadilan, dan kepolisian masih bertahan. Bea cukai merupakan salah satu pusat pendapatan (revenue center) pemerintah. Lalu lintas orang dan barang merupakan sumber permanen dengan penghasilan besar.

Bea cukai juga memegang kendali monitoring penyelundupan. Kasus penyelundupan mobil mewah impor beberapa waktu lalu, yang konon melibatkan petinggi kepolisian, menyentak perhatian publik. Demikian juga dengan kasus BBM ilegal. Terakhir, kasus impor beras yang sedang diproses.
Laporan smooth hasil kerjasama LPEM UI dan Bank Dunia menyebutkan ada korupsi 7 miliar di bea cukai, sedangkan TII menyatakan ada kebocoran 23 miliar. Tidak heran bila presiden menyarankan perbaikan dalam tubuh bea cukai.

Kepolisian sebagai lembaga penyidik kasus malah menjadi lembaga penghasil kasus. Mulai dari kasus mobil mewah impor, uang miliaran dalam rekening 15 oknum perwira tinggi (pati)atas laporan Pusat Pelaporan dan Analisa Transaksi Keuangan (Jawa Pos, 04/08/05), markup proyek penyediaan jaringan radio dan alat komunikasi sebesar Rp 60,2 miliar (atas laporan Blora Center), pelepasan kapal smuggler BBM di Jatim pada September lalu, hingga suap kasus BNI 46 yang dibobol 1,3 triliun. Tiga pati dipastikan terkait dengan kasus bank pemerintah ini.
Hal yang sama terjadi di pengadilan dan Mahkamah Agung. Dari jual beli perkara, penyelewengan hakim, hingga mafia pengadilan yang meliputi pegawai struktural maupun fungsional. Andi Andojo, pernah mengatakan kalau seandainya tembok-tembok gedung MA bisa bicara, mereka akan bersaksi tentang berbagai “kebusukan” di tempat MA itu.

Ibarat menepuk air di belanga terpercik muka sendiri, korupsi di kepolisian, pengadilan, dan MA semakin memudarkan ekspektasi penegakan hukum di negeri ini. Mengapa mengharapkan lembaga-lembaga hukum jika lembaga-lembaga itu sendiri mempermainkan hukum seenaknya
Pemain Baru

Bagi kaum realis, politik adalah perjuangan untuk mendapatkan kekuasaan (Morgenthau, 1985: 27). Harold Lasswell (1936) membahasakannya dengan istilah “siapa mendapat apa, kapan, dan bagaimana” (who gets what, when, and how). Itu berarti partai merupakan wasilah (sarana) mendapakan kekuasaan.

Dalam kata lain, fungsi utama partai politik adalah mencari dan mempertahankan kekuasaan (Ramlan Subakti, 1999: 116) meskipun memiliki derivasi fungsi seperti artikulasi, agregasi, sosialiasi, rekrutmen, partisipasi, pemandu, komunikasi, dan pengendali politik. Dan kekuasaan, menurut Soltau dalam An Introduction to Politics, adalah the capacity to make one’s will prevail over that of others, even against these others wills. Sementara, menurut Alfred de Grazia dalam The Elements of Political Science, kekuasaan adalah kontrol atas penempatan hal-hal yang berharga (the control over disposition of valued things).

Berdasarkan dua pengertian tentang kekuasaan itu, dapat dipahami bahwa semua derivasi fungsi parpol memiliki hanya satu muara, yaitu eksploitasi. Karena eksploitatif inilah parpol menjadi sumber korupsi. Lord Acton menyebut itu dengan ungkapan “Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely”. Jika parpol sudah korup, parlemen sebagai lingkungannya otomatis menjadi korup.

Tahun 2005 menjadi tahun hukuman bagi para anggota legislatif periode 1999-2004. Begitu mereka selesai menjabat, korupsi yang mereka lakukan terbongkar seiring habisnya waktu jabatan itu. Mereka menjadi pesakitan di meja hijau dan akhirnya menetap di prodeo. Apakah hal yang sama terjadi di tahun 2010 ketika anggota DPR/DPRD periode 2004-2009 habis masa tugasnya? Entahlah.

Belum terhitung juga korupsi di departemen, BUMN, LSM, dan perusahaan swasta. Yang jelas, korupsi telah lama menggerogoti bangsa ini di segenap lapisan. Korupsi membuat kita semakin terpuruk dan lemah. Korupsi menyebabkan kemiskinan masif (ada sekitar 40 juta orang miskin), meminimalkan sumber daya alam, menyusutnya devisa negara, keroposnya pertahanan keamanan nasional, memahalkan biaya pendidikan, memperbesar hutang luar negeri, dan menguatkan ketergantungan pada bantuan asing.

Dengan rasa hormat, kita telah menjadi bangsa-meminjam istilah Kwik Kian Gie (2003)-flipper yang telah kehilangan kemandirian karena korupsi. Indonesia is banana republic.


1 Response to “Korupsi yang (Kian) Akut”


  1. July 13, 2013 at 9:35 am

    Ahaa, its nice dialogue regarding this piece of writing at
    this place at this web site, I have read all that, so now
    me also commenting at this place.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 168,926 hits
August 2007
M T W T F S S
« Jan   Oct »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
Add to Technorati Favorites

%d bloggers like this: