18
Aug
07

Mimpi Besar Suatu Bangsa

Refleksi Pidato Presiden AS
Mimpi Besar Suatu Bangsa

Oleh:
Wawan Kurniawan
Pendiri Kajian Internasional Strategis (KAINSA)

Bila kau bisa membayangkan, kau bisa mencapainya
Bila kau bisa mengimpikannya, kau bisa menjadi itu
(William Arthur Ward)

Apalah arti sebuah pidato presiden (inaugural address) saat ia dilantik bagi rakyatnya. Untuk sebuah negara kecil, apalagi tidak berpengaruh, pidato itu hanyalah sebuah aksesori pelengkap yang menghiasi upacara peresmian presiden baru. Dan itu akan segera dilupakan oleh rakyatnya.


Hal itu berbeda dengan yang terjadi di Amerika Serikat (AS). Pidato pelantikan presiden (Inaugural Address) merupakan momen penting dan paling ditunggu. Sambil melakukan aktivitas hariannya, rakyat Amerika mendengarkan dengan seksama pidato yang dipancarkan ke seluruh negeri. Sementera pendukung setia presiden yang bersangkutan berupaya memenuhi tempat pelantikan. Dunia menanti dengan kekhawatiran ke arah mana presiden baru membawa negara AS, terutama berkaitan dengan kebijakan ekspansif presiden era sebelumnya.

Keadaan menjadi hening saat pidato diucapkan. Hadirin mendengarkan penuh seksama. Sesekali muncul riuh tepuk tangan bila ada bagian yang menyemangti atau setidaknya dianggap penting bagi mereka.

Untuk itu bangsa Amerika berani membayar mahal untuk sebuah upacara pelantikan. Pelantikan George W. Bush pada 20 Januari kemarin menghabiskan biaya 40 juta dollar AS. Itu belum dihitung dengan biaya keamanan yang super ketat.

Mimpi, Imajinasi, dan Obsesi

Pidato presiden AS biasanya berisi kondisi-kondisi ideal yang akan dicapai mereka di masa depan. Harapan-harapn yang diyakini sekali bisa dicapai oleh seorang presiden bersama dan untuk bangsa Amerika. Di masa awal berdiri, George Washington yang berkata: “When I was first honored with a call into the service of my country, then on the eve of an arduous struggle for its liberties, the light in which I contemplated my duty required that I should renounce every pecuniary compensation” hingga George W. Bush yang berkata: “I will work to build a single nation of justice and opportunity”. Terlepas dari apakah mereka (para presiden itu) bisa membuktikan janjinya aau tidak, bangsa Amerika terlihat mengagumi adagium “Mulailah dari mimpi, karena kebesaran selalu bermula dari sana”. Sebuah adagium yang menjadi doktrin yang biasa terdapat di dalam buku-buku dan pelatihan motivasi dan pengembangan kepribadian.

Bagi sebuah bangsa yang hidup selama 229 tahun (4 Juli 1776 – 2005)yang telah melampaui masa masa sulit (perang kemerdekaan 1775-1783, perang saudara 1861-1865, masa depresi 1929-1934, perang dunia I 1914-1918 dan II 1941-1945) dalam mencari identitasnya, berkonflik dengan banyak negara besar (Inggris, Spanyol, Jerman, dan Uni Sovyet) dan memenangkannya, Amerika memerlukan mimpi-mimpi besar, imajinasi-imajinasi tentang loyalitas, kebanggaan, kehormatan, kebebasan, kemerdakaan, kekuatan, kejayaan, dan ketangguhan, dan obsesi bahwa dunia (memang) membutuhkan mereka. Dan semua itu bisa didapatkan dari pidato presiden-presiden mereka.

Simak saja, dalam pidato Abraham Lincoln (1861-1865): “Intelligence, patriotism, Christianity, and a firm reliance on Him who has never yet forsaken this favored land are still competent to adjust in the best way all our present difficulty”; Ulysses S. Grant (1869-1877): “The young men of the country-those who from their age must be its rulers twenty-five years hence-have a peculiar interest in maintaining the national honor. A moment’s reflection as to what will be our commanding influence among the nations of the earth in their day, if they are only true to themselves, should inspire them with national pride”; John F. Kennedy (1961-1963): “Rejoicing in hope, patient in tribulation, a struggle against the common enemies of man: tyranny, poverty, disease, and war itself…Let every nation know, whether it wishes us well or ill, that we shall pay any price, bear any burden, meet any hardship, support any friend, oppose any foe, in order to assure the survival and the success of liberty”; dan George Walker Bush (2001-2009):” We are led, by events and common sense, to one conclusion: The survival of liberty in our land increasingly depends on the success of liberty in other lands. The best hope for peace in our world is the expansion of freedom in all the world.”

Mimpi adalah usaha merekontruksi cita-cita di dalam benak. Mimpi bisa pula diartikan sebagai usaha internalisasi nilai-nilai ideal dalam paradigma. Mimpi itu pula mampu menstimulasi manusia (dan bangsa) memiliki kemauan yang kuat dan tekad yang membara. Kemauan dan tekad itu, menurut Anis Matta (2004), memberi kekuatan bekerja dan mencipta. Bagi John F. Kennedy, mimpi itu menjadi “The energy, the faith, the devotion which we bring to this endeavor will light our country and all who serve it-and the glow from that fire can truly light the world”.

Di dalam inaugural address-nya, Abraham Lincoln menyuguhkan mimpi sebuah negara yang bersatu, mencakup regional Utara-Selatan (Union-Konfederasi) dan mengakhiri perbudakan: “One section of our country believes slavery is right and ought to be extended, while the other believes it is wrong and ought not to be extended. This is the only substantial dispute…we can not separate. We can not remove our respective sections from each other nor build an impassable wall between them.” Mimpi integrasi bangsa itu akhirnya terwujud meskipun harus membayar mahal: berperang selama empat tahun dengan anak bangsa sendiri.
Bangsa Amerika pernah mengalami masa depresi yang sangat berat selama hampir 5 tahun. Stock Market crash, harga saham drop sampai titik terendah, banyak bank dan perusahaan harus tutup, pendapatan dari sektor pertanian turun sampai 50 persen, banyak terjadi bunuh diri terutama dari para pengusaha termasuk seorang presiden perusahaan Union Cigar dengan cara melompat dari jendela New York Hotel karena mengetahui company shares-nya drop dari 113.50 dolar menjadi 4 dolar hanya dalam sehari. Saat itu rakyat Amerika hanya berharap pada satu hal: mimpi keajaiban. Dan keajaibaan itu mampu diwujudkan oleh Franklin Delano Roosevelt.
Hari itu tepatnya Sabtu, 4 Maret 1933, Roosevelt membangkitkan semangat rakyatnya, memberi motivasi dan membangun mimpi: “This great Nation will endure as it has endured, will revive and will prosper. So, first of all, let me assert my firm belief that the only thing we have to fear is fear itself-nameless, unreasoning, unjustified terror which paralyzes needed efforts to convert retreat into advance. In every dark hour of our national life a leadership of frankness and vigor has met with that understanding and support of the people themselves which is essential to victory. I am convinced that you will again give that support to leadership in these critical days. In such a spirit on my part and on yours we face our common difficulties.” Sejak itu, dimulailah era kebangkitan industri Amerika Serikat sampai menemui masa Perang Dunia II, terlibat didalamnya dan memenangkan peperangan itu, bahkan terasa hingga saat ini.
Di era Perang Dingin (Cold War), bentuk identitas dan nasionalisme rakyat Amerika Serikat difinalisasi dengan apa yang diungkapkan dalam pidato pelantikan John F. Kennedy: “Ask not what your country can do for you, ask what you can do for your country. Ask not what America will do for you, but what together we can do for the freedom of man.”
Ianugural Address ditradisikan setiap tanggal 4 Maret pada masa jabatan presiden baru. Hal itu berlangsung hingga masa jabatan Franklin D. Roosevelt pertama. Ketika Roosevelt menjabat untuk kedua kalinya, tradisi itu diubah menjadi 20 Januari. George W. Bush juga dilantik pada 20 Januari 2005 kemarin. Bagi bangsa Amerika, pidato yang paling menarik adalah pidato John F.
Kenendy, yang menggelegar, bombastis dan sangat menyemangati. Hal ini berkaitan dengan Kennedy yang memang dikenal sebagai orator ulung pembakar massa. Sedangkan pidato tersingkat adalah pidato George Washington dan pidato terlama adalah pidato William Henry Harrison.
Bangsa Amerika telah menjadi bangsa besar karena mempunyai mimpi-mimpi besar. Sebagian mimpi-mimpi diformulasi dan dimotivasikan oleh pidato-pidato pelantikan presiden mereka. Terlepas dari cara mereka dalam mengimplementasikan mimpi-mimpi besarnya, yang cukup banyak dibenci oleh negara-negara lain, ada beberapa hal yang bisa diperoleh dari pidato-pidato tersebut, terutama bagi bangsa Indonesia yang menderita problem-problem beruntun. Pertama, keyakinan yang mendalam bahwa mereka bisa (you can if you think you can). Keyakinan yang memberikan, keoptimisan, kesabaran, self confidence, dan kesadaran bahwa mereka sebenarnya bisa menyelesaikan masalah-masalah yang merintangi perjalanan bangsa mereka. Keyakinan yang mampu memberi nilai plus pada kekuatan sehingga bisa menutupi lubang-lubang kelemahan.
Kedua, sense of nation. Perasaan sebagai satu bangsa yang melahirkan kedulian dan kepekaan terhadap bagian bangsa yang menderita. Perasaan yang merekonsiliasi dan mengikat semua komponen bangsa dalam satu ikatan kebangsaan dan ketanahairan. Kalimat “hand in hand” bisa ditemukan pada pidato John Quincy Adams, Martin Van Buren, Franklin D. Roosevelt, dan George Bush. Ketika Perang Sipil selesai dengan kemenangan pihak Utara, yang diperbuat pertama kali oleh Abraham Lincoln adalah memberi amnesti kepada prajurit-prajurit Selatan dan merancang program rekonstruksi bagi daerah-daerah yang telah porak poranda dilanda perang terutama daerah Selatan. Kebersamaan sebagai satu bangsa adalah salah satu jalan menerobos kesulitan-kesulitan bangsa itu.
Ketiga, ketaatan terhadap nilai. Penulis menemukan tiga kata yang terus diulang “preserve, protect, and defend”. Ketiga kata itu bisa dilihat dalam inaugural address John Quincy Adams, Martin Van Buren, Zachary Taylor, James Buchanan, Grover Cleveland, Grover Cleveland, William McKinley. Bagi bangsa AS, konstitusi mereka adalah nilai-nilai mereka. Namun sebenarnya, tidak hanya itu. Kesopanan, kesantunan, religius, dan toleransi bisa termasuk didalamnya. Dan bangsa Indonesia memiliki semua itu.

“Keempat, pengharapan bahwa Tuhan akan memberkati usaha manusia. Semua pidato pelantikan presiden AS memiliki bagian akhir yang khusus berisi pengharapan mereka terhadap Tuhan (help and bless). George Washington mengakhiri pidatonya dengan “So His divine blessing may be equally conspicuous in the enlarged views, the temperate consultations, and the wise measures on which the success of this Government must depend.” Woodrow Wilson juga mengakhiri dengan: “God helping me, I will not fail them, if they will but counsel and sustain me”. Richard Milhous Nixon: “Let us go forward from here confident in hope, strong in our faith in one another, sustained by our faith in God who created us, and striving always to serve His purpose” Dan juga Bush pada 20 Januari kemarin: “May God bless you, and may He watch over the United States of America”.
Oleh karena itu, tidak ada jalan lain bagi bangsa Indonesia yang didera aneka masalah terus-menerus, kecuali membangun mimpi-mimpi besarnya. Mimpi-mimpi besar yang memotivasi bangsa ini untuk segera exit (keluar) dari masalah-masalah itu. Syarat-syarat mimpi besar menjadi kenyataan: keyakinan yang mendalam, rasa sebagai satu bangsa, ketaatan kepada nilai, dan menyertakan (include) Tuhan, telah dimiliki bangsa ini. Masalahnya adalah “Adakah para pemimpin yang memberikan mimpi-mimpi besar itu?”


0 Responses to “Mimpi Besar Suatu Bangsa”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 169,073 hits

Top Clicks

  • None
August 2007
M T W T F S S
« Jan   Oct »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
Add to Technorati Favorites

%d bloggers like this: