18
Aug
07

PEMILU LEBANON DAN PEMBUKTIAN HIZBULLAH

Oleh:
Wawan Kurniawan
Pendiri Kajian Internasional Strategis (KAINSA)

Kemarin (29/05), Lebanon memyelenggarakan pemilu kedua pasca perang saudara (civil war) setelah yang pertama pada 3 September 2000. Pemilu kemarin juga merupakan pemilu pertama pasca berakhirnya 29 tahun (1976-2005) pendudukan Suriah di Lebanon. Suriah menarik mundur seluruh pasukannya pada 25 April 2005 dan menempatkannya di Lembah Bekaa, perbatasan Lebanon-Suriah.

Meskipun belum diketahui hasilnya, pemilu yang menentukan konstelasi kekuatan di parlemen (Majelis Al Nuwab) Lebanon itu diprediksi membawa kemenangan bagi kelompok Muslim, khususnya kaum Syiah. Kemenangan itu dimungkinkan mengingat konfigurasi penganut agama yang ada sekarang adalah Muslim 59,7% dan Kristen 39% (CIA World Factbook 2005). Sementara PINR (Power and Interest News Report) menyebutkan empat kekuatan utama Lebanon dengan komposisi: Muslim Syiah 40 persen, Muslim Sunni 20, Kristen Manorite 16, Druze 6, dan selebihnya adalah Muslim Alawy, Kristen Yunani dan Kristen Armenia (Dr. Michael A. Weinstei, Lebanon Loses its Buffer, pinr.com, 18/02/2005)

Sementara itu konstelasi parlemen-yang berisi 128 kursi-hasil pemilu 3 September 2000 adalah Muslim 64 kursi (Sunni 27, Syiah 27, Druze 8, dan Alawy 2) dan Kristen 64 (Maronite 34). Nampak bahwa Maronite masih menjadi mayoritas kala itu. Namun karena pertumbuhan penduduknya yang lambat dan imigrasi (terutama pada era perang saudara), Manorite kini menjadi minoritas Lebanon meskipun masih mayoritas di kalangan Kristen.

Jika pemilu dilakukan dengan jujur dan adil, Syiah memastikan diri menjadi pemenang dan menjadi kekuatan determinan di parlemen. Namun, ada beberapa masalah yang menghadang. Pertama, legitimasi dari kaum minoritas. Apakah Manorite mau mengakui kekalahan setelah mewarnai pentas politik Lebanon selama 80 tahun (1920-2005). Kedua, komposisi sharing of power. Perjanjian Taif yang mengatur pembagian kursi parlemen menjadi dua bagian sama besar: 64 kursi untuk masing-masing Muslim dan Kristen. Tapi itu adalah kondisi empat tahun yang lalu. Peta demografi Lebanon sekarang didominasi oleh Muslim. Ketiga, rekonsialiasi nasional. Mampukah proses demokrsi yang bernama pemilu mampu menyatukan kembali kubu-kubu yang terpecah dalam penyikapan penarikan mundur tentara Suriah. Kristen, Sunni, dan Druze bersatu padu menentang kehadiran tentara Suriah dan memaksa Suriah menarik mundur pasukannya.

Sementara di pihak lain, Syiah yang terorganisasi dalam Amal dan Hizbullah justru menganggap penting eksistensi Suriah di Lebanon. Kini tentara Suriah sudah ditarik mundur. Setelah musuh bersama yang telah pergi, problem yang paling mendesak adalah bagaimana mengatasi konflik sektarian yang terlanjur parah dan mengurat akar. Jika ini tidak diatasi segera, bayang-bayang perang saudara akan terus menghantu Lebanon. Keempat, reaksi negara-negara asing, terutama Amerika Serikat (AS), Israel, dan negara Arab Sunni. Era 2005 menunjukkan kebangkitan politik kekuatan Syiah. Setelah Iran melalui Revolusi Islam 11 Februari 1979 dan Irak dengan pemilu 30 Januari 2005, Syiah Lebanon mencoba merangkak naik ke pentas kekuasaan nasional. Suatu hal yang tidak disukai oleh Israel mengingat resistensi terkuat Lebanon justru dilakukan oleh Hizbullah. Demikian juga dengan AS.

Sektarian dan Perang Saudara

Masalah pertama, kedua, dan ketiga saling berkaitan satu sama lainnya dan bermuara pada satu hal: distribusi kekuaasan (sharing of power) yang berkaitan dengan pengakuan identitas

Sebagaimana negera lain yang memiliki multiindentitas (ras, suku, etnik, agama dan sektenya), Lebanon memiliki masalah sektarian yang berujung pada konflik antarkomunal. Ada sekitar 17 sekte agama di Lebanon: 5 Muslim (Sunni, Syiah, Druze, Alawy, dan Ismailiyah), 11 Krtisten (4 Ortodok, 6 Katolik, dan 1 Proestan), dan Yahudi. Tak heran, Weinstei memandang kemajemukan aliran itu dengan “a dizzying array of religious communities.”

Sentimentalitas agama telah berlangsung berabad-abad lamanya, jauh sebelum negara ini resmi berdiri pada 22 November 1943. Sejak dahulu, wilayah seluas 10.400 km persegi ini menjadi wilayah perebutan oleh bangsa-bangsa besar. Lebanon menjadi daerah strategis, karena di samping posisinya sebagai peyangga wilayah Palestina (yang dihormati oleh tiga agama besar: Yahudi, Kristen, dan Islam), penghubung Persia dan Romawi, ia memperoleh akses langsung ke Laut Tengah.

Tercatat, Punisia menguasai mulai 1100 SM, Asirya 867 SM, Babilonia 590 SM, Persia 538 SM, Alexander The Great 338 SM, Romawi Timur (Byzantine Empire) 64 SM, Dinasti Umayyah (661-750) M, Dinasti Abbasiyah (750-1095) M, Crusade State (1095-1291) M, Mameluk (1291-1516) M, dan Kesultanan Ottoman (1516-1920) M. Di era Perang Salib, Lebanon menjadi saksi bagi mengalirnya Pasukan Salib dari Eropa menuju Palestina.

Kaum Manorite memasuki Lebanon utara pada akhir abad ke-7 karena tidak tahan hidup dib awah tekanan Romawi. Manorite mencapai puncak kejayaan pada era Negara Salib. Sementara, Druze baru memasuki Lebabnon selatan pada awal abad 11. Kaum Syiah secara berangsur-angsur memenuhi Lebanon Selatan melalui Lembah Bekaa dalam rentang waktu panjang (11 M – 13 M). Sementara Sunni mulai berpengaruh semenjak Mameluk menguasai wilayah ini.

Perancis memegang mandat Liga Bangsa Bangsa untuk memerintah Lebanon pada 1920 pasce kekalahan Ottoman di Perang Dunia I (1914-1918). Saat itu kepada Manorite menjadi mayoritas (40% yang bila ditambah sekte-sekte Kristen lainnya menjadi 51%). Perancis memberikan hak-hak istimewa kepada Manorite, namun memperlakukan Muslim sebagai warga kelas dua. Pada tahun 1940, kelompok Muslim mengajukan komplain atas perlakuan itu, namun mendapat jawaban sarkatis dari presiden Emile Edde (1936-1941), “Lebanon adalah negara Kristen. Biarkan Muslim tinggal di Mekkah.” (Sami Moubayed, Hezbollah power play, atimes.com, 15/03/2005)

Perancis sempat membentuk Konstituasi dan mencangkokkan model Republik. Konstitusi itu sempat diamandemen pada 1927, 1929, dan 1943. Konstitusi mengatur masa jabatan presiden selama enam tahun dan pemilihan anggota parlemen setiap 4 tahun.

Untuk menghindari konflik antara sekte, para elite Lebanon menyepakati sebuah perjanjian tidak tertulis, yakni Pakta Nasional (National Act) yang mengatur sharing of power: presiden Manorite, perdana menteri Sunni, ketua parlemen Syiah, wakil ketua parlemen Kristen Ortodok Yunani, menteri pertahanan Druze, dan panglima angkatan bersenjata Manorite (Ronald Bruce St John, Lebanon No Model for Iraq, www.fpif.org, 15/09/2004). Sementara kursi parlemen dibagi dengan perbandingan 6 untuk Kristen dan 5 untuk Islam. Artinya, setiap 6 kursi Kristen sama dengan 5 kursi Islam. Untuk sementara komposisi ini mmapu meredam keinginan yang lebih besar dari setiap kelompok, namun tidak berarti lagi ketika terjadi perubahan komposisi penduduk.

Seiring waktu berjalan, komunitas Islam mengalami perkembangan pesat. Manorite dan Syiah menjadi komunitas yang saling bersaing dalam hal jumlah pengikut. Apalagi setelah terjadi Perang Isrel-Palestina 1948, Lebanon mendapat bagian 150.000 orang dari 726.000 pengungsi Palsetina yang terdiaspora (Paul Findley: 1993). Kelompok Muslim meminta bagian kekuasaan yang lebih besar sementara kelompok Kristen menolaknya.

Ketegangan antar kelompok meningkat ketika Presiden Camille Chamoun (1952-1958 )memprovokasi lawan-lawan politiknya dengan mengubah konstitusi supaya bisa bertahan untuk masa jabatan presiden kedua kali. Camille berani melakukan itu karena mendapat dukungan kelompok Kristen dan CIA. Kaum Muslim menolak manuver Camille dan terjadilah perang saudara dalam skala kecil.

Camille terdesak dan meminta bantuan AS (Juan Cole, Lebanon: Background and Forecast, antiwar.com, 02/03/2005). Eisenhower memenuhinya dengna mengirim 14 ribu marinir pada 15 Juli 1958. Perang berhenti di awal bulan Agustus dengan membawa korban 2000 hingga 4000 jiwa. Kehadiran tentara AS merupakan kehadiran pasukan asing pertama kali yang mencampuri urusan dalam negeri sejak Lebanon berdiri.

Kehadiran tentara AS tidak mengurangi ketegangan di Lebanon. Intrik-intrik politik dan kekerasan-kekerasan kecil masih terjadi. Ketidakpuasan kian merebak di kalangan Muslim. Akumulasi ketegangan memuncak pada tanggal 13 April 1975, Falangis (milisi pemuda Manorite ala Jenderal Franco dan Hitler) menyerang satu bus yang dipenuhi orang Palestina, 27 orang tewas (Mitchell G. Bard, The Complete Idiot’s Guide to Middle East Conflict, New York, 2003). Selanjutnya, perang berlangsung dengan masif dan menyeluruh. Kristen melawan Muslim yang didukung para Palestina. AS dan Israel mendukung Kristen, sementara Mesir, Irak, dan Libya membantu Muslim

Manorite terdesak dan meminta bantuan Suriah. Suriah mengirim 40.000 tentara dan memasuki Lebanon pada Mei 1976. AS dan Israel mendukung masuknya tentara Suriah untuk menghalangi kemenangan Lebanese National Movement (gabungan Sunni dan Druze) dan sekuku Palestina (The Syrian Accountability Act and the Triumph of Hegemony, Stephen Zunes, www.fpif.org, Oktober 2003). Tujuan Suriah sebenarnya adalah bagaimana ia bisa menyatukan Lebann dengan Suriah mengingat Suriah sudah sejak lama menganggap Lebanon merupakan bagan dari Suriah Raya (The Great Syria). Munculnya konflik bersenjata merupakan peluang bagi Suriah untuk menduduki Lebanon. Oleh karena itu, dalam perkembangan peraang saudara selanjutnya, Suriah memainkan politik dua kaki; mendukung Kristen dan juga Muslim.

Israel mempertegas dukungannya dengan memasuki wilyah Lebanon selatan pada 14 Maret 1978. Israel menyatakan wilayah yang didudukinya itu sebagai zona keamanan (security zone) dan membentuk organisasi paramiliter Tentara Lebanon Selatan (South Lebanon Army). Empat tahun kemudian, tepatnya 6 Juni 1982, Israel melancarkan satu seragan penuh ke Beirut dengan nama Peace fo Galilee. Operasi itu bertujuan menghancurkan eksistensi PLO sekaligus menghukum Lebanon yang memberi tempat bagi pejuang palestina. Pada awal operasi, Isreal memobilisasi 90.000 pasukan, 12.000 truk, 1.300 tank, 1.300 APC (armored personal carrier), 634 pesawat perang, dan beberapa kapal perang. (Claudia A. Wright, The Israeli War Machine, Journal of Palestine Studies, 1983). Untuk pertama kalinya, Israel mengepung sebuah ibukota negara Arab. Akibat serangan itu, sekitar 20.000 orang Lebanon terbunuh dan 8.300 pejuang PLO harus dievakuasi keluar Beirut (Cheryl Rubenberg, Beirut under Fire, Journal of Palestine Studies, 1982). Kolaborasi IDF (Isarel Defense Force) dan Milisi Falangis membantai 2000 pengungsi Palestina di kamp Sabra dan Satila pada 16-17 September 1982. Dua hari sebelumnya, Israel berhasil menduduki Beirut Barat. Di samping itu, Israel memperluas zona keamanan hingga 12 mil.

Pada 22 September 1988, Lebanon terbelah menjadi dua pemerintahan. Beirut Timur menjadi ibukota Manorite di bawah Jenderal Michael Aoun. Enam bulan setelah itu, tepatnya, 14 Maret 1989, Michael Aoun menyatakan perang kepada Suriah meskipun sebagian besar kelompok Kristen menentangnya.

Kebosanan melanda semua pihak yang bertikai setelah perang hampir 15 tahun lamanya. Perdamaian menjadi hal yang dirindukan kembali. Untuk mengakhiri perang, disepakati pertemuan di Taif, Arab Saudi, dari 30 september hingga 22 Oktober 1989. Dari pertemuan itu, lahirlah Piagam Rekonsiliasi Nasional yang disetujui secara resmi pada 4 November 1989. Para pemimpin semua kelompok menyepakati memilih Rene Moawad, seorang Kristen, sebagai presiden baru. Mereka juga memperbaharuai konstitusi dengan menambah anggota parlemen menjadi 128 dan membaginya dengan kuota sama besar: 64 kursi untuk Krsiten dan Islam. Namun Moawad hanya memerintah sebentar. Tujuh belas hari setelah pelantikannya, Moadaw terbunuh. Parlemen menunjuk Elias Hrawi sebagai presiden baru. Suriah bersama Manorite, Syiah, Sunni, dan Druze bekerjasama menghancurkan milisi Jenderal Michael Aoun. Karena terdesak, Aoun melarikan diri ke Perancis pada 13 Oktober 1990, yang sekaligus juga mengakhiri perang saudara selama 15 tahun.

Selama masa perang saudara, diperkirakan ada sekitar 130 ribu hingga 150 ribu terbunuh, di samping kerugian dan kerugian sekitar 25 milyar dollar AS.

Hizbullah yang Sebenarnya

Membicarakan Lebanon tidak lengkap jika tidak memyertakan Hizbullah. Beberapa pengamat menyakini Hizbullah akan banyak berperan mewarnai masa depan Lebanon.

Hizbullah muncul dan menyempal dari Amal Syiah karena mengganggap Amal terlalu lunak dalam konfrontasi dengan Israel. Selanjutnya, Hizbullah terus memerangi Israel di zona keamanan meskipun perang saudara berakhir.

Hizbullah mendapat nama harum di seantero dunia Arab karena berhasil mengusir Israeal yang telah menduduki Lebanon selatan selama 22 tahun. Dengan korban tentara sekitar 900 orang, Israel menarik mundur pasukannya pada 24 Mei 2000 dengan dalih mentaati Resolusi DK PBB 425 (tertanggal 19 Maret 1978) dan melanjutkan proses gencatan senjata Lebanon-Israel yang ditandatangi 26 April 1996 (Text Of Israel-Lebanon Cease-fire Understanding, The Israeli Withdrawal from Southern Lebanon, jewishvirtuallibrary.org). Ironis bagi Israel, karena sesungguhnya perlawanan Hizbullah adalah perlawanan defensif, bukan ofensif.

Keberhasilan itu menaikkan prestise Hizbullah karena mempersembahkan kemenangan Arab pertama kali dalam konflik Arab-Israel (Ashraf Fahim, Hezbollah enters the fray, atimes.com 10 Maret 2005). Di dalam Lebanon, Hizbullah mendapat simpati dari Muslim maupun Kristen.

Hizbullah memang memainkan empat langkah sekaligus. Pertama, menggunakan kekuatan militer. Hizbullah merupakan kekuatan tersolid, terbesar, dan terkuat di Lebanon. Boleh jadi ini karena dukungan Suriah dan Iran. Kedua, kekuatan politik. Dalam pemilu 2000, Hizbullah mendapat 12 kursi di parlemen. Di sisi lain, Hizbullah disegani karena anti korupsi (Hezbollah Warns Against Withdrawal of Syrian Troops From Lebanon, democracynow.org, 7 Maret 2005). Bukan mustahil dalam pemilu 2005, jumlah kursi itu akan bertambah. Ketiga, kekuatan media. Hizbullah memiliki jaringan tv sateli yang dikelola sendiri, TV Manar. TV ini menjangkau 10 juta pemirsa dan menjadi salah satu tv populer di dunia Arab. Tak heran, AS melarangnya mengudara di Amerika. Perancis juga melarang tv ini dengan alasan menyebarkan sentimen antisemit (Washington Post, 22/12/2004). Di samping itu, Hizbullah juga mengelola radio dan website. Kelima, kekuatan sosial kemasyarakatan. Hizbullah membangun 50 rumah sakit, 100 sekolah dan banyak perpustakaan (Sam Hamod, Understanding Hezbollah of Lebanon, rense.com, 13/03/2005). Yang mengherankan adalah mayoritas dokter dan guru yang bekerja di pusat-pusat sosial Hizbullah adalah Kristen dan Druze.

Oleh karena itu, tidak heran bila Presiden Emile Lahoud mengatakan, “Hizbullah adalah bagian integral pemerintahan Lebanon. Ia juga menjadi bagian militer kami dan sistem sosial kami.” Rafik Hariri mendukung pernyataan Presiden Lebanon itu.

Demo besar-besaran pro-Suriah pada 8 Maret 2005 yang mengikutkan setengah juta pendukung dan simpatisan menunjukkan kekuatan Hizbullah yang sebenarnya (Robert Fisk, A Half Million Lebanese March for Syria, counterpunch.org, 09/04/2005)

Kekuatan Hizbullah benar-benar menakutkan AS. AS memasukkan nama Hizbullah dalam daftar teroris dunia. Bukan itu saja, sebuah studi 2004 oleh think thank berpengaruh Rand Corporation menempatkan Hizbullah sebagai salah satu dari tiga ancaman serius bagi AS. Rand juga telah mempublikasi sebuah penelitian tentang kegiatan terorisme dan menjadikan Hizbullah sebagai salah satu obyek riset dari lima organ teror. (Aptitude for Destruction, Volume 2: Case Studies of Organizational Learning in Five Terrorist Groups, rand.org, 26/04/2005)

Dalam sebuah interview, pemimpin Hizbullah Hassan Nassrallah menegaskan identitas Hizbullah, “Hizbullah adalah sebuah gerakan perlawanan yang membantu pembebasan daerah yang terduduki (Israel) dan bukan mengganti pemerintah (Lebanon). Kami adalah gerakan perlawanan yang terjustifikasi penuh. Ini merupakan sesuatu yang setiap bangsa lakukan ketika tanah air mereka diduduki. Meskipun begitu, karena kami melawan terorisme Zionis, kami digambarkan sebagai teroris dan Islam dihubungkan dengan terorisme. Telah jelas dalam sejarah bahwa Islam adalah agama damai, dialogis, dan bisa hidup berdampingan. Islam juga agama yang mempertahankan harga diri dan melindungi hak-haknya.” (Hezbollah Chief on Peace, mideastinsight.org, 02/02/2000).

Advertisements

1 Response to “PEMILU LEBANON DAN PEMBUKTIAN HIZBULLAH”


  1. June 30, 2009 at 3:31 am

    Arruhul jadid fi jasadil ummah


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 172,951 hits

Top Clicks

  • None
August 2007
M T W T F S S
« Jan   Oct »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
Add to Technorati Favorites

%d bloggers like this: