18
Aug
07

Penghargaan Luar Biasa untuk Talenta Biasa

Oleh:
Wawan Kurniawan
Pendiri Kajian Internasional Strategis (KAINSA)

Kisah sukses Veri Afandi telah menjadi impian berjuta-juta anak muda seluruh Indonesia. Impian untuk hidup enak dengan jalan pintas: ikut acara reality show dan kalau bisa, menjadi pemenangnya. Setelah menang di Akademi Fantasi Indosiar (AFI 1), anak tukang becak yang lahir di Pangkalan Brandan, 7 Januari 1983 ini telah menjadi artis baru. Veri menjadi “new legend” bagi para ABG Indonesia.

Konser demi konser, tur demi tur menjadi bagian hidup Veri. Belum lagi kunjungan ke daerah dan wawancara dengan beberapa media. Veri juga menjadi model iklan produk di samping kontrak tiga tahunnaya dengan Indosiar. Ditambah lagi dengan share of profit penujualan Album “Menuju Puncak”. Album yang menjadu theme song AFI ini telah terjual lebih dari 450.00 keping (CD dan kaset) sehingga meraih triple platinium. Bisa dibayabngkan dalam waktu singkat, puluhan bahkan ratusan juta uagbmengalir, dengan mudah, memenuhi kantong Veri. Tidak bisa diduga berapa kekayaan Veri sekarang. Tidak ada perbedaan antara Veri dulu dan Veri sekarang kecuali satu hal: dulu miskin, sekarang kaya.

Bukan hanya Veri saja, teman-temannya sesama Akademia juga mengalami perubahan nasib secara drastis. Lima besar finalis AFI-1 dikontrak selama tiga tahun oeh Indosiar. Sedangkan tujuh finalis lainya dikontrak untuk waktu dua tahun. Tur, show, modelling, daan rekaman menjadi bagian hidup mereka.

Lain nasib Veri dkk, lain nasib Mulyono dan Ni Komang Darmiani. Mereka berdua adalah para pemenang Olimpiade Biologi Nasional. Setelah mendapat hadiah sebesar 5 juta per orang dan “sedikit” kemudahan memperoleh pendidikan lanjutan-Mulyono di Mikrobilogi ITB dan Ni Komang di Kedokteran Universitas Udayana, mereka harus tersenyum kecut ketika membayangkan biaya kuliah per semester dan biaya hidup yang harus mereka keluarkan di kedua perguruan itu. Mulyono memang dibebaskan dari uang masuk sebesar 45 juta, tapi bagaimana dengan uang kuliah 1,7 juta per semester. Belum lagi dengan biaya hidup sebesar 400 ribu per bulannya. Hal yang sama dialami oleh Ni Komang.

Atau bagaimana dengan nasib Ali Sucipto, Andika Putra, Ardiansyah, Edbert Jarvis, dan Yudistira Virgus. Mereka berlima adala para pemenang Olimpiade Fisika Internasional tahun ini. Di dalam olimpiade yang diselenggarakan di Pohang, Korsel, dan dikuti oleh 73 negara itu, mereka mampu mengalahkan negara-negara kampium ilmu pengetahuan semacam AS, Jerman, dan Jepang. Suatu prestasi yang membanggakan. Akan tetapi seperti biasa, setelah sampai di tanah air, mereka juga memperoleh penghargaan ala kadarnya. Penghargaan, yang bisa dikatakan, lebih baik daripada tidak menghargai sama sekali.

Bila dikomparasikan antara mereka-mereka yang disebut di atas, ada ketidakdilan reward terhadap talenta yang berbeda. Mereka yang memiliki talenta tubuh (terutama wajah) dan suara jauh lebh dihargai daripada mereka yang memiliki talenta kecerdasan. Persis seperti apa yang dikatakan oleh Pearl Bailey: “There are two kinds of talent, man-made talent and God-given talent. With man-made talent you have to work very hard. With God-given talent, you just touch it up once in a while.” Talenta tubuh dan suara termasuk God given talent karena tidak perlu kerja keras memperolehnya. Artinya sekedar menerima. Dan talenta ini ada banyak stoknya di masyarakat kita. Lain halnya dengan talenta kecerdasan yang harus diusahakan, direkayasa, perlu kerja keras, belajar siang malam, dan menguras banyak biaya sehingga tidak semua orang menyukainya. Tapi sayangnya talenta ini tidak memiliki banyak arti dalam kondisi sekarang.

Saya tahu Howard Gadner dari Harvard University mengkategorikan kebisaan vokal sebagai bagian dari sembilan Multiple Intelligence (MI). Yang saya heran mengapa ada banyak reality show dan variannya dengan publikasi yang bombastis. Saya tahu bahwa media massa dikatakan Marshall McLuhan sebagai “The medium is the message” (sarana pembawa pesan). Saya juga sepakat dengan Nicholas Johnson bahwa “All television is educational television. The question is what is it teaching?” Jika media massa membawa pesan dan mengajarkan bahwa dengan mengikuti acara-acara Akademi seperti akan cepat menjadi kaya dan terkenal, itu yang saya tidak tahu dan tidak sepakat. Ribuan anak muda yang rela berhari-hari mengantri pada pendaftaran, ribuan SMS yang masuk, dan histeris para penontonnya merefleksikan bahwa program akademi-akademi itu telah menjadi candu yang sangat diimpikan.

Saya yakin ada banyak talenta kecerdasan yang terpendam di negeri ini, ada banyak potensi kepintaran yang terdiaspora di tanah air ini. Saya yakin pula bangsa ini bukan bangsa tempe (suatu olokan yang masih terdengar). Sayangnya begitu talenta-talenta itu muncul ke permukaan, ia tidak mendapat perhatian yang prorporsional baik dari kaum intelektual, industriawan, apalagi penguasa. Keberhasilan mereka, meskipun sudah bertaraf internasional, tidak mampu membangkitkan sense kepedulian. Seperti kisah Fatimah Zahrah, siswi kelas 6 pada SD Muhammadiyah di Jalan Sruni Semarang. Fatimah terancam tidak bisa mengikuti Olimpiade Matematika Internasional di India karena tidak mampu menghimpun biaya total sekitar 30 juta rupiah. Segala upaya sudah ditempuh termasuk membuat banyak proposal untuk disebarkan atau menembus birokrasi hingga ke gubernur namun hingga kini masih kurang Rp 15 juta.

Jika bangsa ini bisa memberangkatkan puluhan atlet ke Olimpiade Athena, mengapa tidak bisa memberangkatkan pula seorang anak yang cerdas ke suatu olimpiade juga.

Media massa pun berlaku tidak adil mereka. Jerih payah mereka hanya terpampang di halaman sekian pada bagian terbawah dengan kolom kecil atau pada ulasan berita kesekian. Sementara para bintang realty show menjadi prime cover yang terus-menerus dibahas.

Dalam kondisi bangsa yang terpuruk seperti sekarang, saya yakin sebagaimana anda juga yakin bahwa kita memerlukan lebih banyak orang cerdas daripada rombongan penghibur di layar kaca.


0 Responses to “Penghargaan Luar Biasa untuk Talenta Biasa”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 169,073 hits

Top Clicks

  • None
August 2007
M T W T F S S
« Jan   Oct »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
Add to Technorati Favorites

%d bloggers like this: