04
Oct
07

Penjahat Lebih (Dulu) Nikmati Demokrasi

Penjahat Lebih (Dulu) Nikmati Demokrasi
Oleh: Wawan Kurniawan
Pendiri Kajian Internasional Strategis (KAINSA)

In politics, stupidity is not a handicap” (Napoleon Bonaparte)

Judul di atas merupakan sebuah judul berita di harian Kompas (01/12/05, halaman G), dengan sedikit pemodifikasian dari penulis. Muncul pertanyaan: Apakah benar demikian? Mungkin. Demokrasi membuka peluang kepada setiap kekuatan untuk tampil di ruang politik publik. Bukan hanya itu saja, demokrasi memungkinkan siapapun, termasuk penjahat, memegang kekuasaan dan mengendalikan pemerintahan, tentu dengan syarat jika ia memperoleh kepercayaan dan rakyat memilihnya.

Terlepas dari perhitungan apakah ia memperoleh kepercayaan itu dengan uang, kharisma, rekayasa media, atau memparasiti partai politik tertentu, jika telah mengantongi sekumpulan suara sesuai dengan vote treshold, melengganglah ia menjadi wakil rakyat atau pimpinan eksekutif di level tertentu. Bagi penjahat, tidak penting caranya, yang penting hasilnya. Kalau toh ada hukum dan aturan, kesediaanya untuk mengikuti dan mematuhi hanyalah sekadar proforma belaka.

Cacat-cacat moral yang seharusnya membebani hanya berlaku di luar arena politik. Atmosfer politik hanya terpenuhi oleh partikel-partikel profan yang menyesakkan orang-orang jujur. Machiavellisme adalah keharusan. Benarlah apa yang dikatakan Benjamin Disraeli, “In politics there is no honor” (di dalam politik, tidak ada kehormatan).

Demokrasi (Muda) Kita

Demokrasi di Indonesia bukanlah demokrasi yang telah menemukan bentuk finalnya seperti di Amerika Serikat atau Inggris. Kesejarahan demokrasi mereka telah mentradisi puluhan bahkan ratusan tahun lamanya. Kata liberty (kebebasan) dan right (hak) sudah ada dalam pidato pelantikan George Washington pada 30 April 1789.

Mereka mempunyai banyak pengalaman menangani ekses-ekses demokrasi, salah satunya dengan memperkuat kekuasaan hukum. Salah satu misal adalah pengadilan AS yang bisa menjangkau Gedung Putih. Kasus Karl Rove (penasehat Bush) dan I Lewis Libby (kepala staf wakil presiden Cheney) adalah contoh pejabat penting pemerintahan yang bisa dijaring oleh hukum AS. Sementara, pengadilan Indonesia (hanya) bisa menjaring siapa? Anda sudah tahu jawabannya.

Advertisements

Pages: 1 2 3


1 Response to “Penjahat Lebih (Dulu) Nikmati Demokrasi”


  1. December 22, 2009 at 6:37 am

    ha ha. banyak yang sudah tahu jawabannya. tetapi menjawab saja tak boleh kan? haha


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 176,304 hits
October 2007
M T W T F S S
« Aug   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  
Add to Technorati Favorites

%d bloggers like this: