13
Nov
07

Objektivitas antara Optimisme dan Pesimisme

Objektivitas antara Optimisme dan Pesimisme
Oleh Anis Matta
(Saksi No.7 Th.IV 2002)

Memilah batas yang tegas antara analisis berbasis objektivitas dan analisis berbasis optimisme atau pesimisme adalah juga salah satu seni yang rumit dalam dunia analisis sosial politik. Banyak bias yang sering terjadi di sini. Dalam membaca sebuah peristiwa, bias sering terjadi pada saat kita tidak mampu membedakan secara tegas antara peristiwa yang terjadi sebagaimana ia adanya, dan peristiwa yang sebenarnya kita inginkan atau kita bayangkan terjadi. Persoalan ini lebih bersifat psikologis, karena terkait dengan nuansa psikologis atau kepribadian sang analis, antara yang optimis dan pesimis.

Seorang ulama besar dakwah kita, Syekh Muhammad Al-Gazali, rahimahullah, menceritakan pengalaman analisisnya dalam salah satu bukunya yang ia tulis pada pertengahan abad 20 lalu. Beliau membuat sebuah ramalan tentang masa depan Amerika Serikat setelah Perang Dunia Kedua. Dalam ramalan itu beliau mengatakan bahwa walaupun menang dalam PD II, kekuatan Amerika Serikat akan rapuh dan menciut serta melemah, kelak setelah usainya perang itu. Satu sampai tiga dekade kemudian, yang terjadi justru sebaliknya. Kekuatan Amerika Serikat malah semakin merajalela dan hegemoninya terasakan di seluruh jagad raya.

Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang salah dalam analisis itu? Didorong oleh kerendahan hati dan semangat pencarian kebenaran, Syekh Muhammad Al-Gazali, rahimahullah, memikirkan ulang analisisnya itu. Yang terjadi, kata beliau, adalah bahwa beliau kekurangan data. Ramalan beliau lebih banyak dibangun dari keinginan tersembunyi dalam dirinya bahwa seharusnya kekuatan Amerika Serikat memang melemah, rapuh dan menciut. Keinginan tersembunyi itu kemudian berbaur dengan data ala kadarnya, misalnya kenyataan bahwa Amerika Serikat memang babak belur dalam PD II tersebut. Hasilnya adalah bahwa ramalan kita lebih banyak menggambarkan apa yang kita inginkan untuk musuh kita, bukan apa yang sebenarnya yang akan terjadi dalam diri musuh kita.

Kesalahan seperti ini seringkali menjebak kita dalam penyikapan yang tidak objektif kepada musuh; antara sikap ekstrim yang terlalu meremehkan musuh, dan sikap ekstrim yang terlalu membesar-besarkan musuh. Jebakan kedua sikap itu yang selanjutnya melahirkan optimisme tanpa alasan, dan pesimisme yang juga tanpa alasan.

Optimisme yang berbaur secara salah dengan objektivitas sering mendorong kita melupakan sisi-sisi lain yang sebenarnya justru menjadi kekuatan musuh. Dalam keadaan begitu kita mungkin tidak antisipatif terhadap berbagai kemungkinan tidak terduga. Orang seperti ini mengenal dirinya lebih banyak daripada musuhnya, mengenal keinginannya lebih banyak daripada kemampuan musuhnya, berbicara lebih banyak tentang apa yang seharusnya terjadi, daripada apa yang sebenarnya terjadi. Sebagian besar kekalahannya akan disebabkan oleh ketidakterdugaan.

Sebaliknya, pesimisme yang berbaur secara salah dengan objektivitas sering mendorong kita melupakan sisi-sisi lain dari musuh, yang mungkin merupakan faktor-faktor pembentuk kelemahannya, atau sisi-sisi kekuatan diri kita yang sebenarnya merupakan faktor penentu kemenangan kita. Orang seperti ini mudah percaya kepada propaganda musuhnya, mudah kalah sebelum berperang, mudah menyerah dan pasrah pada nasibnya, mudah menyalahkan diri sendiri secara berlebihan. Sebagian besar sebab kekalahannya bersumber dari kepercayaan yang berlebihan kepada kekuatan musuh, atau kekalahan mental yang dialaminya sebelum berperang.

Objektivitas berarti bahwa kita dengan tulus membiarkan realitas terpajang di depan mata kita secara apa adanya, murni tanpa imbuhan emosi kita. Di sini kita berbicara tentang validitas dan akurasi data, kredibilitas sumber data, dan pemaparan yang bersih dari intervensi emosi. Sikap emosi kita tentukan kemudian, antara maju atau mundur, bereaksi atau tidak bereaksi, optimis atau harus lebih hati-hati, dan seterusnya.

Pada dasarnya tidak ada pesimisme yang boleh ditoleransi. Tetapi kita tetap harus membedakan antara pesimisme yang terlarang dan keberanian moral untuk melihat kenyataan secara objektif, walaupun mungkin pahit bagi kita, atau tidak kita inginkan sama sekali. Sebaliknya optimisme harus kita pertahankan dalam keadaan yang paling buruk sekalipun. Tetapi kita tetap harus mempunyai keberanian moral untuk menerima kenyataan bahwa musuh kita boleh jadi memang lebih kuat, lebih canggih, lebih solid dan seterusnya.

Di sini warna kepribadian seorang analis memang merupakan salah satu faktor penentu. Dan biasanya faktor ini tidak dapat dihilangkan sama sekali. Ia inheren dalam proses analisis tersebut. Jadi adalah salah untuk menghilangkan faktor tersebut. Yang harus kita lakukan adalah menciptakan keseimbangan antara keduanya dalam proses analisis, terutama ketika analisis itu akan dijadikan dasar pertimbangan dalam pengambilan keputusan.

Yang terakhir ini sebenarnya merupakan tugas qiyadah dakwah. Dalam proses pengambilan keputusan, seorang qiyadah dakwah harus mempunyai pemahaman yang mendalam terhadap masalah yang sedang dianalisis, dan harus mempunyai pandangan yang relatif independen tentang masalah tersebut. Tapi pada waktu yang sama, seorang qiyadah dakwah juga harus mampu memilah antara analisis para analisnya tentang masalah tersebut dengan warna kepribadian atau kecenderungan optimisme dan pesimisme pada mereka.

Objektivitas dapat ditumbuhkan dengan membiasakan diri mendengar dari banyak sumber yang mungkin berbeda-beda, meneliti kredibilitas dari masing-masing sumber tersebut, membandingkan validitas dan akurasi data mereka masing-masing, merekonstruksi sebuah pelukisan yang komprehensif, atas dasar data-data itu, tentang masalah tersebut. Tapi objektivitas itu harus diletakkan di satu sisi, dan tidak dibaurkan secara salah dengan optimisme dan pesimisme. Bersikap objektif adalah sebuah keharusan. Tapi mempertahankan optimisme juga adalah sebuah keharusan. Titik yang dapat mempertemukannya adalah sikap antisipatif dalam berbagai situasi.

Advertisements

1 Response to “Objektivitas antara Optimisme dan Pesimisme”


  1. 1 Yopi Suhendra
    May 21, 2009 at 12:35 pm

    aKu snG bgt adanYa Tes dAn penGukuRan sCara MAnual,,,
    qt baNYak tw tentang, Keadaan jaSmani SecaRa menyeLuruH…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 176,304 hits
November 2007
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  
Add to Technorati Favorites

%d bloggers like this: