02
Jan
08

Mencari Pahlawan Indonesia (40)

Mencari Pahlawan Indonesia
Oleh Anis Matta

Seri 40: Karunia Kegagalan

Kehidupan ini, sebenarnya lebih mirip pelangi ketimbang sebuah foto hitam putih. Setiap manusia akan merasakan begilu banyak warna kehidupan. Ia mungkin mencintai sebagian warna tersebut. Akan tetapi, ia pasti tidak akan mencintai semua warna itu.

Demikian pula dengan perasaan kita. Semua warna kehidupan yang kita alami, akan kita respon dengan berbagai jenis perasaan yang berbeda-beda, Maka. ada duka di depan suka, ada cinta di depan benci, ada harapan di depan cemas, ada gembira di depan sedih. Kita merasakan semua warna perasaan itu sebagai respon kita terhadap berbagai peristiwn kehidupan yang kita hadapi.

Seseorang menjadi pahlawan, sebenarnya disebabkan sebagiannya oleh kemampuannya mensiasati perasaan-perasaannya sedemikian rupa, sehingga ia tetap berada dalam kondisi kejiwaan yang medukung proses produktivitasnya.

Misalnya, ketika kita menghadapi kegagalan. Banyak orang yang lebih suka mengutuk kegagalan dan menganggapnya sebagai musibah dan cobaan hidup. Kita mungkin tidak akan melakukan itu seandainya di dalam diri kita ada kebiasaan untuk memandang berbagai peristiwa kehidupan secara objektif, ada tradisi jiwa besar, ada kelapangan dada, dan pemahaman akan takdir yang mendalam.

Kegagalan, dalam berbagai aspek kehidupan, terkadang diperlukan untuk mencapai sebuah sukses. Bahkan, dalam banyak cerita kehidupan yang pernah kita dengar atau baca dari orang-orang sukses, kegagalan menjadi semacam faktor pembeda dengan sukses, yang diturunkan guna menguatkan dorongan untuk sukses dalam diri seseorang. Di sela-sela itu semua, kita juga membaca sebuah cerita, tentang bagaimana kegagalan telah mengalihkan perharian seseorang kepada kompetensi inti, atau pusat keunggulan, yang semula tidak ia ketahui sama sekali.

Itulah yang dialami oleh Ibnu Khaldun. Kita semua mengenal nama ini sebagai seorang sejarawan dan filosof sejarah. Ia telah menulis sebuah buku sejarah bangsa-bangsa dunia dengan sangat cemerlang. Namun, yang jauh lebih cemerlang dari buku sejarah iiu adalah tulisan pengantarnya yang memuat kaidah-kaidah pergerakan sejarah, hukum-hukum kejatuhan, dan kebangunan bangsa-bangsa. Tulisan pengantar itulah yang kemudian dikenal sebagai Muqaddimah Ibnu Khaldun. Di negeri kita “Muqaddimah” buku sejarah ini bahkan sudah diterjemahkan, sementara buku sejarahnya sendiri belum diterjemahkan.

Buku Muqaddimah itulah yang mengantarkan Ibnu Khaldun menduduki posisi sebagai filosof sejarah yang abadi dalam sejarah. Namun, mungkin jarang di antara kita yang tahu kalau sesungguhnya buku itu merupakan hasil perenungan selama kurang lebih empat bulan, atas kegagalannya sebagai praktisi polilik.

Takdirnya adalah menjadi filosof sejarah. Bukan sebagai politisi ulung. Akan tetapi, mungkinkah ia menemukan takdir itu, seandainya ia tidak melewati deretan kegagalan yang membuatnya bosan dengan politik, dan membawanya ke dalam perenungan-percnungan panjang di luar pentas politik, tetapi yang justru kemudian membuatnya melahirkan karya monumental?


0 Responses to “Mencari Pahlawan Indonesia (40)”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 169,073 hits

Top Clicks

  • None
January 2008
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
Add to Technorati Favorites

%d bloggers like this: