07
Jan
08

Mencari Pahlawan Indonesia (45)

Mencari Pahlawan Indonesia
Oleh Anis Matta

Seri 45: Bayangan Sang “Icon”

Kadang, kadang, pada suatu masa yang sama, dua orang pahlawan muncul secara bersamaan, pada bidang yang sama, tetapi dengan kadar kepahlawanan yang relatif berbeda. Salah satu di antara keduanya biasanya mengalami proses ‘iconisasi”, atau “simbolisasi”, di mana ia dianggap sebagai simbol dari zaman dan genrenya.

Pada masyarakat yang sudah dewasa dan matang, proses iconisasi itu biasanya tidak berlanjut dengan proses sakralisasi. Umumnya mereka mengerti sang icon bukanlah segalanya. Ia hanyalah bagian dari sebuah karya bersama, sebuah kepahlawanan kolektif. Karena itu, setiap pahlawan tetap mendapatkan tempatnya yang layak dan terhormat, sebab masyarakat mereka cukup dewasa untuk menilai karya secara obyektif dan proporsional.

Namun, itu tidak terjadi dalam masyarakal yang belum dewasa dan matang, apalagi dalam masyarakat yang jumlah pahlawannya masih sangat sedikit. Simbol adalah bentuk penyederhanaan terhadap suatu makna yang abstrak. Kebutuhan akan simbol dalam masyarakat yang belum dewasa dan matang merupakan kebutuhan psiko-sosial yang sangat mendasar. Karena itu, kecenderungan untuk menyimbolkan suatu makna, misalnya perlawanan, pada sesosok tokoh, atau kecenderungan untuk meng”icon”kan sang tokoh, merupakan tradisi pada masyarakat tersebut.

Ambillah contoh masyarakat kita. Soekarno, misalnya, hingga kini selalu dilukiskan sebagai “icon” revolusi kemerdekaan Indonesia. Padahal sebenarnya, ada begitu banyak pahlawan yang memberikan kontribusi yang boleh jadi lebih besar, atau sama besarnya, dengan kontribusi yang diberikan Soekarno. Namun, di tengah masyarakat yang belum dewasa dan matang, Soekarno memang mendapatkan berkah ketidakdewasaan itu, yaitu dalam bentuk sikap sakralisasi Bangsa Indonesia terhadap dirinya sebagai “icon” revolusi kemerdekaan. Bangsa kita telah melakukan tindakan penyederhanaan terhadap sejarah perjuangan kemerdekaannya sendiri, dengan meng”icon”-kan Soekaro.

Akan tetapi, ketidakdewasaan itu tidak selalu merupakan berkah bagi sang icon. Sebab, ketidakdewasaan dapat mendorong sebuab masyarakat melakukan iconisasi secara sangat sederhana, seperti juga ketidakdewasaan dapat mendorong mereka melakukan penghukuman yang sadis, begitu mereka kecewa. Dan itulah yang terjadi pada diri Soekarno. la ternyata tidak terlalu “menikmati” akhir hidup yang diberikan Bangsa Indonesia kepadanya.

Masalahnya mungkin adalah pada para pahlawan lain yang hidup di bawah bayang-bayang sang icon. Mereka mungkin tidak mendapatkan kehormatan sejarah yang sama dengan sang icon. Namun, apakah yang membuat mereka mampu melanjutkan semangat kepahlawanannya, jika “reward” dari sejarah ternyata terasa kurang “fair”?

Kuncinya adaJah keikhlasan. Dan keikhlasanlah yang membawa kita kepada sebuah hakikat besar yang abadi; hakikat kehidupan akhirat yang abadi. Di sana setiap orang akan mendapatkan tempatnya yang layak, adil, dan objektif. Di sana tidak ada penyederhanaan, tidak ada simbolisasi, tidak ada iconisasi. Keikhlasanlah yang membuat kita dapat menerima keluguan masyarakat kita dengan lapang dada, sebagaimana kita dapat menerima ketidakadilan sejarah dengan kebesaran jiwa, dan tetap bekerja di bawah bayang-bayang pahlawan lain yang terlanjur terr-“icon”-kan di tengah masyarakat.


0 Responses to “Mencari Pahlawan Indonesia (45)”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 168,926 hits
January 2008
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
Add to Technorati Favorites

%d bloggers like this: