10
Jan
08

Mencari Pahlawan Indonesia (48)

Mencari Pahlawan Indonesia
Oleh Anis Matta

Seri 48: Pahlawan Kebangkitan

Hubungan saling menghidupkan dan saling mematikan antara pahlawan dan lingkungannya, antara tokoh dan peradabannya akan melahirkan kenyataan ini: dalam sejarah setiap peradaban, sebagian besar pahlawan muncul pada dua potongan masa, satu pada masa kebangkitan, dan satu lagi pada masa kejayaan. Setelah itu, datanglah masa keruntuhan: jaman kevakuman, jaman tanpa pahlawan, dan jaman peradaban yang mandul.

Apakah yang terjadi pada jaman kebangkitan? Apa pula yang terjadi pada jaman kejayaan? Marilah terlebih dahulu kita memeriksa kenyataan sosial masyarakat manusia pada masa kebangkitannya.

Kekuatan utama yang menggerakkan masyarakat pada masa kebangkitan adalah kecemasan. Inilah mata air yang memberikan mereka energi untuk bergerak dan bergerak, melangkah tertatih-tatih sembari jatuh dan bangun, meraba dalam ketidakpastian. Namun, mereka bergerak.

Mereka semua dirundung kecemasan; karena jarak yang terbentang jauh antara idealisme dan realitas, antara harapan dan kenyataan. Mereka ‘merasakan’ jarak yang terbentang jauh itu, maka mereka menjadi cemas, dan kecemasan itulah yang menggerakakan mereka. Boleh jadi, sebuah bangsa terjajah dan menderita, tetapi mereka ‘tidak merasakannya’, maka mereka tidak cemas, maka mereka tidak bergerak.

Kenyataan inilah yang kita temukan pada masa penjajahan dahulu. Bangsa Indonesia dijajah selama 350 tahun. Waktu yang terlalu lama, kesabaran yang sungguh-sungguh luar biasa; sebab penjajahan tidak selalu dirasakan sebagai penderitaan. Selama masa-masa yang pahit itu, ada banyak generasi yang merasa tidak sedang menghadapi masalah tertentu, yang merasa bahwa bahwa hidupnya baik-baik saja. Mereka mungkin orang-orang sholeh, bekerja, dan berkeluarga, tetapi hidup di bawah kekuasaan penjajah, namun tidak merasakannya sebagai sebuah masalah.

Itulah masalahnya. Senjang antara penderitaan dan perasaan tentang penderitaan itu, sebagian orang merasakannya, tetapi yang lain tidak merasakannya. Yang merasakannya akan didera oleh kecemasan, yang tidak merasakannya akan bersikap dingin terhadap penderitaan itu. Yang merasakannya biasanya akan bergerak, biasanya juga akan menjadi pahlawan. Yang tidak merasakannya biasanya orang-orang awam, atau kolaborator penjajah, biasanya tidak akan bergerak, sampai arus besar perlawanan datang menghanyutkan mereka.

Begitulah kita menyaksikan Cokroaminoto, Agus Salim, dan para pejuang kemerdekaan bergerak melakukan perlawanan; mereka merasakan kesenjangan itu, mereka cemas, maka mereka menjadi pahlawan. Itulah yang terjadi di seluruh dunia Islam dan Dunia Ketiga selama abad 20 lalu; munculnya para pahlawan kebangkitan, yang menemukan gairah perlawanan dari kecemasan. Sebab, itulah potongan jaman mereka, itu pula permintaan jaman mereka, dan itu pula kehendak jaman mereka.

Karena itulah, ada nama Abdul Hamid bin Badis di Aljazair, Hasan al-Banna di Mesir, Al Kawakibi di Syria, Izzudin al-Qassam di Palestina, dan demikian seterusnya.


0 Responses to “Mencari Pahlawan Indonesia (48)”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 168,926 hits
January 2008
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
Add to Technorati Favorites

%d bloggers like this: