12
Jan
08

Mencari Pahlawan Indonesia (49)

Mencari Pahlawan Indonesia
Oleh Anis Matta

Seri 49: Pahlawan Kejayaan

Jika kecemasan merupakan kekuatan utama yang menggerakkan para pahlawan kebangkitan, maka kekuatan apakah yang paling agresif menggerakkan para pahlawan di jaman kejayaan? Jawabannya adalah obsesi kesempurnaan. Penjelasannya seperti ini: Pada jaman kejayaan suatu peradaban, kondisi kehidupan masyarakat sudah relatif stabil; ada pemerintahan yang kuat, ada pertahanan dan keamanan yang stabil, ada kemakmuran yang merata secara relatif, ada tingkat kesehatan dan pendidikan yang baik, dan seterusnya. Masyarakat tidak lagi berpikir pada lingkaran kebutuhan pokok dan logistik dasarnya. Karena itu, ada ketenangan, dan dalam ketenangan itu muncul kecenderungan untuk memenuhi kebutuhan intelektual dan spiritual.

Selain dilatari oieh sistem pemenuhan kebutuhan manusia secara bertahap, pengembangan intelektual juga merupakan kesinambungan yang niscaya dari mata rantai perkembangan sebuah peradaban. Lihatlah sejarah Islam misalnya. Perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat pesat terjadi pada abad kedua, ketiga, dan keempat. Pada abad pertama energi kaum muslimin tercurah untuk proses kebangkitan awal.

Ini juga yang terjadi di Eropa; masa kebangkitan peradaban dari masa keterpurukan di abad per-tengahan terjadi setelah Perang Salib pada abad ketigabelas hingga abad ketujuhbelas. Setelah itu, peradaban Etopa mengalami masa kejayaan pada abad kedelapanbelas hingga abad duapuluh. Cerita abad duapuluhsalu mungkin akan sangat berbeda. Perkembangan ilmu pengetahuan paling pesat terjadi pada tiga abad terakhir ini.

Ketenangan memungkinkan orang menekuni detil-detil, sementara pengembaraan intelektual dan spiritual selalu mendorong orang pada kesempurnaan. Ini menjelaskan tipikal kepahlawanan zaman kejayaan; biasanya terjadi paling banyak pada bidang pemikiran, kebudayaan, bahasa, seni, dan ilmu pengetahuan, dan pembangunan fisik, serta berorientasi pada spesialisasi yang rumit dan detil, sebagai simbol kesempurnaan.

Kepahlawanan zaman kejayaan didominasi oleh semangat perfeksionisme dan inovasi. Kepahlawanan dibedakan pada ketekunan dan kemampuan kreativitas; seperti ketekunan Imam Bukhari dan kawan-kawannya meneliti sanad dan matan hadits, atau kreativitas Imam Syafii saat beliau merumuskan kaidah-kaidah Ushul Fiqhi, atau temuan dan inovasi Ibnu Sina dan Ibnu Rusydi dalam bidang kedokteran, atau kedalaman Imam Ghazali, Ibnul Jauzi, Ibnul Qayyim dalam bidang akhlak, atau Al-Jahiz dalam bidang sastra, dan seterusnya.

Adapun pembangunan fisik dalam kaitan ini terjadi sebagai bagian dari cara mengekspresikan temuan-temuan itu secara fisik; bahwa kemajuan pemikiran, bahasa, budaya, seni dan ilmu pengetahuan dengan sendirinya meningkatkan cita rasa keindahan, dan itu terekspresi salah satunya dalam pembangunan fisik. Inilah penjelasan untuk Istana Al-Hamra di Spanyol, atau Islana Khilafah Abbasiyah di Bagdad.

Begitulah obsesi kesempurnaan melahirkan ilmu dan meninggikan cita rasa keindahan, dan itulah karya para pahlawan zaman kejayaan.

Advertisements

0 Responses to “Mencari Pahlawan Indonesia (49)”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 174,674 hits

Top Clicks

  • None
January 2008
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
Add to Technorati Favorites

%d bloggers like this: