19
Jan
08

Mencari Pahlawan Indonesia (50)

Mencari Pahlawan Indonesia
Oleh Anis Matta

Seri 50: Keterbatasan

Pahlawan bukanlah manusia super. Ia tidak bisa menjadi segalanya, juga tidak dapat melakukan semuanya. Akan tetapi, inilah perkara mentalitas yang paling rumit yang dirasakan setiap pahlawan; menyadari dan menerima dengan lapang dada keterbatasan dirinya.

Mungkin itu salah satu sebabnya Rasulullah saw mengeluarkan sebuah sabda yang menyejukkan dada mereka, “Allah akan merahmati seseorang yang mengetahui kadar kemampuan dirinya.” Bukan hal yang mudah untuk menyadari dua hal yang antagonis; kehebatan dan keterbatasan, kebanggaan dan kerendahan hati.

Itulah yang dialami Jenderal Mc.Arthur. Lelaki gagah berani dan ahli strategi ini adalah pahlawan perang terbesar dalam sejarah Amerika. Dialah panglima perang Amerika yang memenangkan hampir semua pertempuran di kawasan Pasifik, termasuk penaklukan Jepang, selama tahun-tahun panjang Perang Dunia Kedua. Walaupun sempat menderita beberapa kekalahan, khususnya pada beberapa pertempuran di semenanjung Korea saat menghadapi aliansi Korea Utara, China, dan Uni Soviet, tetapi semua itu tidak mengurangi kebesarannya.

Maka, 12 juta penduduk Amerika Serikat tumpah-ruah ke jalan menyambut kedatangannya. Laki-laki inilah yang sampai kini dikenang sebagai orang yang bukan saja mengantar Amerika memenangkan Perang Dunia Kedua, tetapi juga membangun fondasi yang kokoh bagi dominasi militer Amerika atas dunia.

Akan tetapi, panorama 12 juta massa itulah masalahnya. Itu benar-benar menggoda Sang Jenderal untufc tidak berhenti pada sekadar menjadi seorang legenda perang, tetapi juga untuk menjadi seorang politisi ulung yang cukup layak menduduki kursi Presiden Amerika Serikat, negara yang diantarnya menjadi pemenang Perang Dunia Kedua.

Presiden Truman menangkap godaan itu pada wajah Sang Jenderal. Sebagai politisi, firasat itu benar-benar menggelisahkan Sang Presiden. Namun, menjadi legenda perang dan legenda politik adalah spesialisasi kepahlawanan yang sangat berbeda. Sang Presiden menyadari perbedaan ini, maka ia menjadi percaya diri. Akan tetapi. Sang Jenderai tidak memahami perbedaan ini, maka ia meiakukan kesalahan.

Demikianlah kejadiannya kemudian. Dua belas juta massa itu adalah lautan kekaguman atas legenda perang mereka, yang dalam pemilihan presiden ternyata sama sekali tidak bisa dirubah menjadi suara pemilih. Itu fakta yang sangat tragis bagi Sang Jenderal: dia adalah legenda perang, bukan legenda politik; dia adalah panglima perang, bukan seorang presiden.

Akarnya ada pada struktur mentalitas para pahlawan; menyadari antagonisme antara kehebatan dan keterbatasan, antara kebanggaan dan kerendahan hati. Itulah pelajaran kepahlawanan yang paling rumit; menerima keterbatasan dengan lapang dada, menerima takdir kepahlawanan yang terbatas dengan rendah hati. Sebab, kita memang hanya seorang manusia. Seorang manusia. Bukan Tuhan.

Advertisements

0 Responses to “Mencari Pahlawan Indonesia (50)”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 173,355 hits

Top Clicks

  • None
January 2008
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
Add to Technorati Favorites

%d bloggers like this: