21
Jan
08

Mencari Pahlawan Indonesia (53)

Mencari Pahlawan Indonesia
Oleh Anis Matta

Seri 53: Gairah yang Membuat Tenang

Di balik ketergantungan kepada sumber energi dari perempuan itu, ada satu fenomena yang patut dipelajari dengan seksama; syahwat besar yang dirasakan para pahlawan kepada perempuan.

Utsman Bin Affan, khalifah ketiga dan menantu Rasulullah saw, bahkan pernah berkata tentang dirinya sendiri, “Saya adalah lelaki yang sangat suka kepada perempuan.” Agaknya penjelasan ini mewakili fenomena yang mencolok dalam kehidupan para sahabat Rasulullah saw; baik pada jumlah istri yang banyak maupun pada frekuensi hubungan seksual.

Apakah ada hubungan antara kebutuhan biologis yang besar dan kebutuhan psikologis sama besarnya terhadap perempuan? Ada pada sebagiannya dan tidak ada pada sebagiannya. Yang terakhir ini karena kita juga menemukan contoh pada beberapa ulama, seperti Imam Nawawi, Ibnu Taimiyah, dan Sayyid Quthb, yang tetap membujang hingga wafat. Bahkan, Syekh Abdul FaLtah Abu Ghuddah, rahimahullah, menulis sebuah buku tcntang Al-Vlama al-Uzzab (Ulama-Ulama Bujang).

Di samping dapat dijelaskan oleh kesibukan mereka, atau kekhawatiran tidak dapat memenuhi hak-hak istri, agaknya penjelasan Syekh Ibnu Utsaimin, rahimahullah, lebih realistis. “Mereka mempunyai ambisi besar kepada ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki syahwat yang kecil. Sebab kalau syahwat mereka besar, tentulah kesibukan tidak akan menghalangi mereka menikah,” jelasnya.

Lepas dari itu, syahwat besar kepada perempuan memang banyak ditemukan di kalangan para pahlawan di medan perang dan politik. Syahwat besar itu berguna mengimbangi kekuatan lain yang sangat dahsyat dalam diri mereka; kekuatan amarah (al-quwwah al-ghndhobiyyah). Kekuatan terakhir inilah yang memberikan energi dan gairah untuk menghadapi risiko, meremehkan musuh, mengalahkan ketakutan kepada kematian, dan menikmati ketegangan jangka panjang.

Inilah agaknya yang menjelaskan mengapa Rasulullah saw selalu membawa serta salah satu istrinya ke dalam berbagai medan tempur. Ini juga yang menjelaskan mengapa Umar membuat aturan yang mengharuskan setiap mujahid kembali menemui istrinya setelah masa tempur empat bulan. Lebih dari empat bulan, kata seorang analis militer, seorang prajurit akan berubah menjadi sadistis, atau bahkan kanibalis.

Syahwat itu, kala Al-Maududi dalam Al-Hijab, juga merupakan sumber vitalitas yang memberikan kita gairah untuk bekerja dan berkarya. Itu sebabnya Islam mengatur penyalurannya yang tepat agar ia memberikan efek produktivitas bagi kehidupan manusia.

Jadi, ketika para orientalis menuduh Rasulullah saw sebagai penderita sex maniac, seorang penulis siroh (sejarah) menjawab, “Syahwat yang besar kepada perempuan itu justru merupakan tanda-tanda kesempurnaan Rasulullah saw.”

Advertisements

0 Responses to “Mencari Pahlawan Indonesia (53)”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 173,345 hits

Top Clicks

  • None
January 2008
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
Add to Technorati Favorites

%d bloggers like this: