27
Jan
08

Mencari Pahlawan Indonesia (60)

Mencari Pahlawan Indonesia
Oleh Anis Matta

Seri 60: Pahlawan Tanpa Harta

Ada fakta lain yang harus dicatat disini: tidak semua medan kepahlawanan membutuhkan sarana dan harta yang melimpah. Perang, politik, dan ekonomi adalah ‘industri duniawi’ yang membutuhkan daya cipta material yang hebat. Tapi ada industri yang sebagian besar proses penciptaannya justru lebih bersifat ‘ukhrawi’; profesi nabi-nabi yang diwariskan kepada para ulama.

Kedua ‘industri’ itu tidaklah terpisah pada tujuannya, tapi pada tabiat pekerjaannya. Proses penciptaan dalam dunia ilmu pengetahuan, spiritual dan pendidikan, lebih banyak bertumpu pada paduan antara kekuatan spiritual dan intelektual. Harta dan sarana hanya mempunyai peranan yang sederhami dalam proses.

Sebaliknya, produk kepahlwanan dalam dunia ilmu pengetahuan, khususnya pengetahuan keagamaan, juga tidak dapat mengantar seorang ulama menuju kekayaan. Para ulama, kata Ibnu Khaldun, sulit menjadi kaya dengan ilmu agamanya. Sebab, harta hanya berputar dalam titik-titik tertentu di mana kebutuhan sebagian besar manusia ada di situ. Sementara, manusia pada umumnya tidak setiap saat membutuhkan nasihat keagamaan.

Ada lagi faktor yang disebul Ibnu Khaldun. Para ulama berada pada posisi moral yang tinggi dan terhormat, yang biasanya tidak akan mereka rusak dengan berbagai macam praktik tidak terhormat, yang ‘biasanya’ memenuhi dunia bisnis. Maka, kata Ibnu Khaldun, pemerintahlah yang bertugas menjaga kehormatan para ulama, dengan memberi mereka fasilitas duniawi yang cukup untuk menjalankan fungsi sosial mereka.

Tapi ini mengandung bahaya. Sebab ulama yang ‘dihidupi’ pemerintah biasanya kehilangan harga diri dan wibawa di depan penguasa. Itu menyulitkan mereka melakukan fungsi kontrol terhadap penguasa. Tapi disinilah letak kepahlawanan mereka; kemampuan untuk melahirkan karya ilmiah yang hebat di tengah kemiskinan, dan kemampuan untuk mempertahankan harga diri dan wibawa didepan penguasa di tengah kemiskinannya. mereka mendirikan kerajaan spiritual dalam dunia material kita; maka mereka menjadi raja dalam hati masyarakat, bukan penguasa di atas kepala rakyat.

Mereka adalah orang-orang miskin yang terhormat. Sebab kemiskinan bagi mereak adalah pilihan hidup, bukan akibat ketidakberdayaan. Kemiskinan adalah resiko profesi yang mereka sadari sejak awal. Dan ketika mereka memilih profesi itu, mereka menanggung semua akibatnya.

Lahir sebagai anak yatim di tengah keluarga miskin, Imam Syafi’i, pada mulanya menuntut ilmu (agama) untuk menjadi kaya. “Aku rasa kecerdasanku akan memberikanku kekayaan yang melimpah,” kata beliau. “Tapi,” katanya lagi, “Setelah aku mendapatkan ilmu ini, sadarlah aku bahwa ilmu ini tidak boleh dituntut untuk mendapatkan dunia. Ilmu ini hanya akan kita peroleh, jika dituntut ia untuk kejayaan akhirat.”


0 Responses to “Mencari Pahlawan Indonesia (60)”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 168,926 hits
January 2008
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
Add to Technorati Favorites

%d bloggers like this: