04
Feb
08

Mencari Pahlawan Indonesia (65)

Mencari Pahlawan Indonesia
Oleh Anis Matta

Seri 65: Jihadnya Jihad

Penjara dan tiang gantung. Inilah dua kata yang barangkali, merupakan ikon paling penting dalam sejarah tirani abad ke-20, khususnya di dunia ketiga. Lebih khusus lagi di dunia Islam. Tapi, di hadapan tirani itulah terbentang riwayat kepahlawanan yang agung: tradisi perlawanan. Seakan pasangan sejarah memang harus selalu hadir begitu: ada diktator ada petarung, ada tirani ada perlawanan.

Dalam sejarah tradisi pahlawanan, penjara adalah sekolah yang membesarkan para pahlawan. Tapi, tiang gantung adalah karunia Ilahiyah yang mengabadikan mereka. Para pemikir dan ulama besar dunia Islam saat ini, seperti Syekh Muhammad Al-Gazali, Syekh Yusuf Qordhowi, Muhammad Quthb, DR. Ali Juraisyah dan lainnya memang tumbuh dalam tradisi perlawanan. Tapi mereka menjadi lebih kokoh setelah tamat dari sekolah penjara. Sementara itu, mereka yang gugur di jalan perlawanan itu, baik oleh timah panas maupun di tiang gantung, seperti Hasan Al-Banna dan Sayyid Quthb, dengan bangga meraih medali Ilahiyah itu: menjadi bintang abadi di langit sejarah.

Bintang itu terus menerus menerangi jalan para petarung. Dalam tradisi perlawanan. Persis seperti kata Sayyid Quthb dalam sebait puisinya,

Saudaraku, kalau kau teteskan air matamu kau basahi pula nisanku dalam sunyi
Nyalakan lilin-lilin dari tulang belulangku
Jalanlah terus ke kemenangan abadi

Tradisi perlawanan selalu lahir dalam kesunyian. Ketika kekuasaan berubah jadi momok yang menyeramkan: tirani. Sementara semua mulut terbungkam ketakutan, sejarah menjadi milik para penguasa. Kamu hanya sedikit di sini. Bahkan, mungkin sendiri. Kamu mungkin disebut pengkhianat bangsa. Tak ada gemuruh tepuk tangan yang menyebutmu pahlawan. Sunyi. Sepi. Tapi, kamu hams menyerahkan darahmu. Nyawamu.

Mungkin suatu saat perlawananmu jadi arus. Arus besar yang menumbangkan tirani. Tapi saat itu, mungkin kamu sudah tidak ada. Waktu kamu melakukannya pertama kali, kamu hanya sendiri. Sendiri. Tapi, itulah yang membuatmu abadi. Abadi dalam kenangan manusia. Abadi bersama bidadari di surga. Kamu melakukan yang tidak dapat dilakukan orang lain. Kamu melakukan jihad. Bukan. Jihadnya jihad.

Melawan dalam sepi itulah susahnya. Melawan sendiri itulah kepahlawanannya. Memang apa yang kamu lawan? Kekuasaan. Kekuasaan yang memiliki semua. Semua orang. Semua uang. Semua simpati. Sementara kamu, kamu tidak punya apa-apa. Kamu hanya mewakili dirimu sendiri. Tekadmu sendiri.

Itu sebabnya, ketika Rasul kita ditanya, “Jihad apakah yang paling utama?” beliau menjawab, “Menyatakan kebenaran di depan penguasa tiran.


0 Responses to “Mencari Pahlawan Indonesia (65)”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 168,926 hits
February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
Add to Technorati Favorites

%d bloggers like this: