07
Feb
08

Mencari Pahlawan Indonesia (68)

Mencari Pahlawan Indonesia
Oleh Anis Matta

Seri 68: Kekuasaan Spiritual

Kata-katanya adalah sihir. Suara yang mengantar pikiran-pikkannya adalah gema yang menguasai jiwa. Sorot mata yang menyertai nasihat-nasihatnya adalah kekuasaan yang mengalahkan hati. Ribuan atau bahkan ratusan ribu orang menemui kesadarannya kembali begitu mereka mendengarkannya. Mereka semua bertobat seketika. Bahkan, pemilik hati sekeras batu sekali pun. Bahkan, penguasa paling digdaya yang tidak pernah menangis seumur hidupnya akan menangisi dirinya di hadapannya.

Orang itu bernama Abdurrahman Ibnul Jauzi. Ia bukan penguasa. Bukan raja. Bukan khalifah. Ia hanya seorang ulama. Tapi memiliki kekuasaan yang lain. Tidak mengikat. Tapi mengendalikan. Tidak menekan. Tapi menggetarkan. Tidak mengancam. Tapi mempesona. Tidak menakutkan. Tapi menggairahkan. Tidak memaksa. Tapi mencerahkan. Itulah kekuasaan spiritual.

Kekuasaan spiritual adalah kekuasaan orang yang tidak berkuasa secara struktural. la berkuasa karena kekuatan kepribadiannya. la berkuasa dengan kharismanya. Kharismanya terbentuk dari gabungan wibawa dan pesona, ilmu dan akhlak, pikiran dan tekad, keluasan wawasan dan kelapangan dada. Mereka menyebarkan ilmu dan cinta. Mereka membawa cahaya dan menerangi kehidupan manusia.

Ulama, pemikir, budayawan, seniman, biasanya memiliki jenis kekuasaan seperti ini. Mereka tidak menguasai leher kita. Tapi mereka menguasai pikiran dan jiwa kita. Mereka tidak menguasai hidup kita. Tapi mereka mengarahkan hidup kita. Ketaatan kita kepada mereka lahir dari pengakuan yang tulus atas integritas mereka. Bukan ketakutan terhadap kekuasaan dan ancaman mereka. Ketundukan kita muncul dari rasa hormat dan cinta. Bukan dari rasa takut dan ketidakberdayaan.

Kekuasaan spiritual biasanya menembus sekat-sekat waktu. Sebab ia tidak bercokol dalam batasan waktu kekuasaan struktural. Kekuasaan itu melekat dalam serat-serat pikiran kita, merengkuh setiap sudut jiwa kita. Ia datang seperti angin yang meniup gunung pasir di tengah sahara. Pasir-pasir lembut itu berterbangan sampai jauh. Lalu membentuk gunung pasir yang lain. Di tempat lain. Yang lebih indah.

Atau seperti oase di tengah gurun: disanalah para pcngembara menyelesaikan dahaga. Atau mungkin seperti telaga dalam bait-bait Sapardi Djoko Damono dalam “Akulah Si Telaga”:

Akulah si telaga: berlayarlah diatasnya;
Berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil yang menggerakkan
Bunga-bunga padma;
Berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya;
Sesampai di seberang sana, tinggalkanlah begitu saja perahumu
Biar aku yang menjaganya……


0 Responses to “Mencari Pahlawan Indonesia (68)”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 169,073 hits

Top Clicks

  • None
February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
Add to Technorati Favorites

%d bloggers like this: