08
Feb
08

Mencari Pahlawan Indonesia (69)

Mencari Pahlawan Indonesia
Oleh Anis Matta

Seri 69: Amuk Mimpi

Amarah. Ambisi. Dua nila ini, jika menetes dalam jiwa-jiwa yang buruk, maka sejarah berubah jadi api angkara murka yang meluluhlantakkan kehidupan. Tapi tidak, jika ia menetes dalam jiwa-jiwa yang luhur. Ia bukan lagi nila. Ia embun yang menyegarkan padang rumput di pagi hari, sembari menjemput matahari kehidupan.

Sebab, kamu tidak mungkin bisa melawan tirani kekuasaan, kecuali dengan kekuatan amarah kehormatan. Sebab, hanya ketika kamu memiliki ambisi keabadian, kamu bisa mendirikan imperium kebenaran. Sebab, kamu tidak mungkin bisa melawan iblismu sendiri kecuali dengan kekuatan amarah malaikat penjaga neraka. Sebab, hanya ketika kamu memiliki ambisi meraih surga tertinggi kamu bisa mengalahkan gemuruh rayuan kekuasaan dalam dirimu.

Tidak ada yang salah dengan amarah dan ambisi kecuali jika ia memasuki jiwa yang buruk atau lemah. Ketika itulah Rasul kita berkata, “Jangan berikan kekuasaan ini kepada yang mengharapkannya.” Ketika itulah, Rasul kita berkata kepada Abu Dzar yang datang meminta jabatan, “Wahai Abu Dzar, kamu orang yang lemah., sedang jabatan ini adalah amanah. Di akhirat nanti ia akan jadi sumber penyesalan.”

Tapi dalam jiwa-jiwa yang luhur dan kuat, ia akan menjadi semacam amuk mimpi yang dapat men-ciptakan drama kehidupan mengharu biru. Ketika itulah Nabi kita, Yusuf as dengan gagah berkata kepada Raja Mesir, “Berikan aku kuasa memegang keuangan negara. Aku sanggup menjaganya dan mengetahui seluk-beluknya.” Ketika itulah Nabi kita, Sulaiman as berdoa, “Ya Allah, berikanlah aku imperium yang luas dan besar. Jangan ada lagi yang boleh memilikinya sesudahku.”

Di antara amarah dan ambisi yang dapat menjadi nila dan yang dapat menjadi embun, berdiri tabir tipis yang seringkali tidak tampak. Hanya ketika kamu memiliki mata hati yang tajam, kamu dapat melihatnya. Hanya kamu sendiri yang dapat menentukannya: apakah ini nila atau embun. Seperti kiasan Qur’an, amarah dan ambisi yang lahir dari jiwa-jiwa yang luhur bagaikan “Susu yang mengalir di antara kotoran dan darah: murni dan menyegarkan bagi siapa pun yang meminumnya.”

Itu terjadi ketika kesadaran akan tugas dan tanggung jawab sejarah, kesadaran akan besarnya kapasitas diri, desakan kerusakan lingkungan, tantangan besar dari kebatilan, bercampur jadi satu. Maka, menarilah sang bidadari “Kamu harus menjadi sesuatu dalam sejarah. Dan kamu bisa. Kamu harus mendapatkan aku dalam surga. Dan kamu bisa.”

Begitulah kejadiannya. Dalam satu pertempuran, Rasulullah saw menawarkan tantangan kepada para sahabatnya. “Besok”, kata beliau ketika malam, “Akan kuberikan bendera ini kepada seseorang yang mencintai Allah dan Allah mencintainya.” Maka, berbisiklah Umar bin Khattab dalam dirinya, ‘Tidak pernah aku berambisi meraih sesuatu, kecuali pada malam itu.”

Keesokan harinya, Sang Rasul menyerahkan bendera perang itu. Tidak kepada Umar. Tapi kepada Ali. Itu tidak mengurangi kebesaran Umar. Tapi dia sudah mengatakan dia pernah punya mimpi itu.


0 Responses to “Mencari Pahlawan Indonesia (69)”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 169,073 hits

Top Clicks

  • None
February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
Add to Technorati Favorites

%d bloggers like this: