10
Feb
08

Mencari Pahlawan Indonesia (71)

Mencari Pahlawan Indonesia
Oleh Anis Matta

Seri 71: Ketinggian dari Kerendahan

Padi. Ia tumbuh hening di tengah ladang. Tatap ia lamat-lamat. Di sana, dalam heningnya, ada banyak kebijakan yang menyiur melambai. Sebelum berbuah, ia berdiri tegap. Mendongak ke atas. Begitu berbuah, ia merunduk kebawah. Begitu meninggi, ia merendah.

Mungkin itu pelajaran kekuasaan yang paling berat. Sekilas pelajaran ini mengandung antagonisme. Sang Raja harus belajar perah-peran antagonis. Tapi tidak antagonis pada dirinya sendiri. Merendah berarti mengerti asal usul diri. Merendah berarti memahami bedanya manusia dengan Tuhan. Merendah berarti mengakui kesetaraan manusia. Merendah berarti percaya diri.

Kehebatanmu tidak berkurang ketika kamu merendah. Kekuasaanmu juga tidak hilang ketika kamu merendah. Kamu hanya membebaskan dirimu sendiri dari belenggu kekuasaanmu. Kamu hanya menyelamatkan dirimu sendiri dari dirimu sendiri.

Tapi disini ada masalah keberartian. Seorang penguasa sebenarnya mengalami kesulitan besar dalam memaknai dirinya, hidupnya. Dari manakah sumber keberartian itu? Kekuasaan selalu membelokkannya kepada dirinya sendiri. Seorang penguasa cenderung mengidentifikasi dirinya dengan kekuasaannya. la bermakna karena ia berkuasa. la selamanya memerlukan kekuasaan itu. Itu yang membuatnya merasa berarti. Kekuasaan memberinya begitu banyak kenyamanan psikologis.

Maka, sulit baginya untuk tidak membutuhkan kekuasaan. Apalagi menjadi zuhud. Sulit juga baginya merendah. Karena pengakuan, penghormatan, ketundukan, sanjungan, kekaguman, adalah kenyamanan-kenyamanan psikologis yang justru hanya dia peroleh dari kekuasaan. Begitu ada sedikit gangguan pada kekuasaannya, para penguasa mudah kehilangan rasa aman dan rasa nyaman. Sama mudahnya mereka tersinggung. Orang lain bukan siapa-siapa di matanya. Pada akhirnya kekuasaan adalah candu.

Begitulah sang khalifah yang menguasai lebih dari separoh dunia itu tertidur di mesjid. Seperti kebanyakan penduduk, Umar pun berteduh di mesjid di siang hari. Terik siang di Madinah bagaikan setnburan neraka. Wajahnya lepas saat tidur. Pulas. Tanpa bantal. Tanpa beban. Tanpa rasa takut. Bebas. Sepenuh-penuhnya bebas.

Utusan Raja Romawi tidak percaya menyaksikan pemandangan itu. Kemana para pengawal? Tidak takutkah ia? Dan Hafez Ibrahim, penyair dari tanah Mesir yang direbut di era Umar, menangkap ke-bingungan utusan sang raja. Maka, ia menuangkannya dalam Sajak Umarnya, “Maka, pulaslah tidurmu saat keadilanmu..”

Hampir seratus kemudian, buyut sang khalifah, seseorang digelari Khalifah Rasyidin kelima, Umar bin Abdul Aziz, menghembuskan nafas terakhirnya setelah melafazkan ayat ini, “Itulah negeri akhirat. Kami berikan kepada mereka yang tidak menghendaki ketinggian di dunia dan tidak juga berbuat kerusakan.”

Mereka meninggi ketika merendah.

Advertisements

0 Responses to “Mencari Pahlawan Indonesia (71)”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 173,345 hits

Top Clicks

  • None
February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
Add to Technorati Favorites

%d bloggers like this: