11
Feb
08

Mencari Pahlawan Indonesia (72)

Mencari Pahlawan Indonesia
Oleh Anis Matta

Seri 72: Karnaval Jiwa-jiwa

Sejarah adalah karaval panjang jiwa-jiwa. Peristiwa-peristiwa hanyalah batang tubuh sejarah. Kenangan kita tidak tersimpan dalam peristiwa. Tapi pada jiwa-jiwa yang bermain dalam ruangan peristiwa itu. Pada ruh yang memaknai peristiwa-peristiwa itu.

Berapa tahunkah sudah kita menghuni bumi ini? Tapi berapakah potongan waktu yang melekat dalam kenangan kita? Berapakah luasnya ruangan bumi ini? Tapi berapakah ruang yang menghuni ingatan kita? Berapakah banyaknya manusia yang memenuhi bumi ini? Tapi berapakah nama yang kita simpan dalam benak kita ?

Tidak banyak. Waktu. Ruang. Manusia. Hanya sedikit dari itu semua yang menjadi kenangan. Dan yang kita kenang bukan waktunya. Bukan ruangnya. Bukan manusianya. Tapi jiwanya. Tapi ruhnya. Jiwa dan ruh dan bergerak dengan makna-makna. Bukan panggung ruang dan waktu, dengan sebuah nama.

Maka menyemburatlah peristiwa-peristiwa yang sebenarnya adalah tindakan jiwa-jiwa di pelataran sejarah. Seperti fajar menyingsing di kaki langit, setelah berjalan tertatih-tatih melampaui malam. Yang kila kenang adalah saat fajarnya. Bukan potongan-potongan waktu yang dilewatinya ketika malam. Bukan juga belahan bumi yang dilaluinya di waktu malam. Tapi saat fajarnya. Saat sang jiwa menembus batas-batas waktu dan ruang. Saat makna-makna memenuhi rongga sang jiwa, lalu ia meledak. Ledakannya menyemburat di ujung malam . Maka lahirlah pagi. Lalu terjadilah itu : apa yang kau sebut peristiwa.

Begitulah Allah melukiskan sejarah dalam kitab-Nya. Tanpa catatan waktu. Tanpa rincian tempat. Supaya sejarah terlukis seperti karnaval panjang jiwa-jiwa yang mementaskan makna-makna di panggung ruang dan waktu. Yang dilukisnya adalah tindakan jiwa-jiwa saat ia melakoni makna-makna. Bukan panggung, ruang dan waktu. Sebab kau takkan mengenang panggung. Kau hanya akan mengenang sang aktor. Sang jiwa. Yang melakoni sebuah cerita.

Maka sejarah adalah sari buah yang diperas dari waklu, ruang dan manusia. Jadi sebuah cerita. Cerita sang jiwa yang selalu berjaga-jaga seperti kata Chairil Anwar “di garis batas pernyataan dan impian.”

Dan itulah pahlawan. Sang jiwa yang melakoni makna-makna. Dalam ruang dan waktu. Jadi sebuah cerita. Cerita yang memenuhi lembar-lembar sejarah.

Jadi apa yang kau baca dalam sejarah adalah jiwa kami. Para pahlawan. Sebab sekali ini sejarah memenuhi seruan Chairil Anwar dalam Karawang Bekasi:
Kami bicara padamu dalam hening di maiam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami…..

Advertisements

2 Responses to “Mencari Pahlawan Indonesia (72)”


  1. February 24, 2008 at 5:40 am

    Disaat bangsa serta negara tengah berjuang keras keluar dari krisis dimensional sepanjang lima tahun belakangan ini, memang amat membutuhkan anak-anak bangsa yang masih memiliki jiwa serta semangat heroisme. Bukan anak-anak bangsa yang hanya gemar mengekploitasi kekayaan alam Indonesia, yang gemar pula mengekploitasi sumber daya manusianya sendiri.

    Mereka, para pengkhinat buat bangsanya sendiri. Pengkhianat bangsa yang segenap prilakunya dapat dikatagorikan sebagai sebuah tindakan subversif karena mereka tak mengindahkan lagi penderitaan rakyat serta bangsanya. Tak menghiraukan lagi beban serta persoalan yang harus di tanggung atau dipikul generasi berikutnya atas ulahnya yang serakah dan tidak berprikemanusiaan.

    Bangsa ini sudah terlalu lelah dan pengap akan segenap tingkah serta prilaku para petinggi negara, pemimpin negara yang korup dan haus kekuasaan, anak-anak bangsa yang tak mau tahu serta mengerti penderitaan rakyatnya. Yang hanya gemar berseteru, saling memaki, berkelahi, tapi tidak berkeinginan untuk membahagiakan bangsanya, mencerdaskan rakyatnya, mensejahterakan serta memakmurkan negaranya.

    Dan para pengkhianat bangsa ini toh harus tetap diwaspadai karena masih berkeliaran serta berada di setiap sisi kehidupan bangsa Indonesia. Mereka pun seyogianya (jika sudah terbukti), harus mendapat hukuman seberat-beratnya dan sudah sepantasnya berada di Nusakambangan bersama narapidana kelas berat lainnya.
    Penegakan hukum yang seberat-beratnya kepada para penyengsara rakyat serta bangsanya adalah tuntutan yang tak bisa lagi ditawar-tawar, apalagi jika dikaitkan dengan heroisme, nilai-nilai kebangsaan serta sebab akibat yang bakal ditimbulkannya. Selain mempertimbangkan pula aspek shock therapy bagi siapa saja yang coba-coba bermain dengan mengatasnamakan ‘rakyat’.

    Perjuangan untuk melindungi kepentingan rakyat dari para pengekploitasi pengkhianat bangsa ini merupakan heroisme yang harus segera diwijudkan, dengan satu tujuan jika bangsa dan negara Indonesia ingin keluar dari krisis dimensional semenjak lengsernya rejim otoriter Soeharto.

  2. 2 kainsa
    February 26, 2008 at 11:19 pm

    Wah…Tanggapan Anda merupakan tanggapan terpanjang yang pernah saya lihat. Terima kasih, mas.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 174,674 hits

Top Clicks

  • None
February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
Add to Technorati Favorites

%d bloggers like this: