12
Feb
08

Mencari Pahlawan Indonesia (73)

Mencari Pahlawan Indonesia
Oleh Anis Matta

Seri 73: Cenerasi Kepahlawanan

Seiiap potongan jaman mempunyai pahlawannya masing-masing. Mereka adalah putra-putri terbaik yang dilahirkan pada potongan jamannya. Mereka terpilih dari generasi mereka masing-masing, karena merekalah pemegang saham terbesar dari peristiwa-peristiwa kepahlawanan yang terjadi pada potongan jaman kehidupan mereka.

Para pahlawan itu adalah anak-anak zaman mereka. Seperti tipikal generasi umat manusia yang berbeda pada setiap jaman, demikian pula tipikal kepahlawanan pada setiap jaman; berbeda. Kadang merupakan suatu kesinambungan sejarah, kadang juga merupakan fenomena yang bersifat diskontinyu. Kepahlawanan itu terdiri dari banyak generasi.

Ambillah contoh setting sejarah Islam. Seratus tahun pertama dari sejarah peradaban Islam diisi dengan pembangunan basis demografi dan teritorial; mulai dari pembangunan komunitas sahabat di Mekkah, penegakkan daulah di Medinah, penyebaran Islam ke wilayah Syam. Mesir, Farsi hingga Asia Tengah dan Selatan. Generasi terbaik dari etnis Arab habis dalam masa itu, maka kepahlawanan orang-orang Arab berbasis pada jihad dan polilik.

Setelah khilafah Islamiyah tegak berdiri, stabil dan makmur, datanglah generasi kepahlawanan kedua; pahlawan ilmu dan peradaban. Maka pada abad kedua. ketiga dan keempat kita menyaksikan mekarnya ilmu pengetahuan, baik pengetahuan keislaman maupun pengetahuan dan sosial humaniora dan eksakta.

Inilah zaman kepahlawanan bagi generasi Islam yang berasal dari etnis Persi dan Asia Tengah. Sepuluh ahli qiroah Qur’an bukan dari etnis Arab. Enam perawi hadits terbesar juga bukan dari etnis Arab. Para pakar filsafat seperti Al-Kindi, Al-Farobi, atau ilmuwan se-perti Ibnu Sina dan AI-Khawarizmi, juga bukan or-ang Arab. Bahkan, yang kemudian membukukan kaidah-kaidah bahasa Arab juga bukan orang Arab. Misalnya, Sibawaeh dan Al-Khalil bin Ahmad AI-Farahidi.

Itu tidak berarti pahlawan Bangsa Arab sangat sedikit melahirkan ilmuwan. Sebaliknya, merekalah yang membangun fondasi yang kokoh dan kuat bagi lahirnya sebuah imperium peradaban, yang bertahan di puncak kejayaannya hingga satu milenium. Umur mereka habis dalam pembangunan pilar-pilarraksasa negara Islam; mereka memimpin dan berperang. Sebab itulah “kehendak” zamannya. Sebab itu “permintaan” zamannya. Mereka hanya menuruti kehendak zaman. Mereka hanya memenuhi permintaan zaman.

Hingga tujuh abad kemudian, tidak banyak nama besar dalam dunia militer dari orang-orang yang mendiami wilayah Persi dan Asia Tengah. Hingga datang saatnya panggilan jihad pada masa Perang Tartar dan Perang Salib. Dari yang pertama ada nama Muzhaffar Qutuz dari klan Khawarizmi di Asia Tengah yang mengalahkan Tartar dalam Perang Ain Jalut. Dari yang kedua ada nama Shalahuddin Al-Ayyubi dari Etnis Kurdi yang mendiami wilayah perbatasan Iran, Irak Syria dan Turki, yang mengalahkan Pasukan Salib dalam Perang Hiththin. Penjelasannya adalah energi mereka terkuras memenuhi panggilan kepahlawanan ilmu dan peradaban. Pada setiap bangsa persoalan ini terulang. Hal ini mengajarkan kita sebuah kaidah; pada akhirnya, setiap pahlawan selalu menumpahkan kepahlawanannya pada muara besar yang diciptakan oleh sejarah peradaban mereka; pada akhirnya, setiap pahlawan adalah anak peradabannya.


0 Responses to “Mencari Pahlawan Indonesia (73)”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 168,926 hits
February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
Add to Technorati Favorites

%d bloggers like this: