14
Feb
08

Mencari Pahlawan Indonesia (75)

Mencari Pahlawan Indonesia
Oleh Anis Matta

Seri 75: Ancaman Kesia-siaan

Para pahlawan mukmin sejati harus ekstra hati-ati dengan kepahlawanannya sendiri. Mereka harus membiasakan diri untuk mencurigai diri mereka sendiri; sebab jauh lebih penting dari sekadar menjadi pahlawan adalah memastikan bahwa karya-karya kepahlawanan kita diterima di sisi Allah SWT, sebagai pahala yang akan mengantar kita meraih ridha-Nya dan masuk ke surga-Nya.

Manusia hanyalah user atau penikmat dari karya-karya kepahlawanan kita. Mereka sarna sekali tidak mempunyai otoritas untuk menentukan, apakah karya itu diterima atau ditolak di sisi Allah SWT. Syarat penerimaan itu ditentukan sendiri oleh Allah SWT; niat yang ikhlas untuk Allah SWT dan cara kerja yang sesuai sunnah Nabi.

Para pahlawan mukmin sejati menyadari sedalam-dalamnya untuk siapa sebenamya ia bekerja. Mereka menyadari adanya ancaman kesia-siaan; kerja keras di dunia yang kemudian ditolak di akhirat, seperti firman Allah SWT, “Banyak muka pada hari itu tunduk terhina, bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas (neraka). ” (Al-Gha-syiyah: 2-4)

Dalam perjalanan ke Palestina setelah pembebasan Al-Quds, Umar Bin Khattab berhenti sejenak menyaksikan seorang pendeta yang sedang khusyuk beribadah. Tapi kemudian beliau menangis tersedu-sedu, sembari membaca ayat di atas, “Bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas (neraka).”

Gemuruh lepuk tangan pengagum, sanjungan mematikan para pengikut, dukungan obyeklif para pengamat, atau bahkan tembakan salvo pada hari penguburan adalah objek yang harus dicurigai para pahlawan; sebab merasa menjadi pahlawan bisa merusak niat mereka. Demikian juga dengan cara kita menuntaskan karya kepahlawanan kita; pembenaran orang lain tidak akan berguna di mata Allah SWT kalau temyata pekerjaan itu memang salah menurut sunnah.

Para pahlawan mukmin sejati adalah pekerja keras yang menunaikan janji kepahlawanannya dalam diam dan menyelesaikan karya-karyanya dengan semangat kebenaran sejati. Mereka jujur kepada Allah SWT, kepada diri sendiri serta kepada sejarah. Mereka tidak tertarik dengan hingar-bingar pengakuan publik, atau sorotan kamera, sebab itu bukan tujuannya, sebab itu bukan kebanggaannya.

Di hadapan ancaman kesia-siaan itu, mereka menemukan kekuatan untuk mengasah kejujuran batinnya secara terus menerus, mengoreksi pekerjaan-pekerjaannya secara berkesinambungan; sebab dengan begitulah mereka mempertahankan keikhlasan dan kerendahan hati di depan Allah SWT, mematikan luapan kebanggaan setelah prestasi-prestasi besarnya, sembari berdoa di antara deru kecemasan dan harapan agar Allah SWT berkenan menerima mereka sebagai pahiawan-pahlawan-Nya.

Para pahlawan mukmin selalu mengenang saat-saat yang paling mengharu-biru dari kehidupan Umar Bin Abdul Aziz; beberapa saat menjelang hembusan nafasnya yang terakhir, pahlawan besar itu membaca firman Allah SWT, “Dan inilah negeri akhirat, yang Kami sediakan untuk orang-orang yang tidak menginginkan keangkuhan di muka bumi, juga tidak menginginkan kerusakan.” (Al-Qashash: 83).

Advertisements

1 Response to “Mencari Pahlawan Indonesia (75)”


  1. August 2, 2013 at 7:03 am

    It’s an amazing post in favor of all the internet visitors; they will take benefit from it I am sure.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 173,345 hits

Top Clicks

  • None
February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
Add to Technorati Favorites

%d bloggers like this: